Mengapa Bersilaturahmi di Hari Idul Fitri? Ini Alasannya

Yang harus diperhatikan dalam keputusan keagamaan adalah, bagaimana keputusan memiliki efek atau tidak ke masyarakat bawah. Source: NDTV.com

Mengapa Bersilaturahmi di Hari Idul Fitri? Ini Alasannya

Tradisi Idul Fitri di Indonesia kebanyakan adalah membiasakan untuk bersilaturahmi sebagai pelaksanaan hari raya. Selama masa-masa awal bulan Syawal, banyak orang mudik ke kampung halaman untuk tetap menjaga silaturahmi dengan sanak kerabat dan tetangga kampung.

Bagaimana sebenarnya tradisi silaturahmi di hari raya ini perlu kita sikapi?

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani mencatat dalam Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari bahwa ia mendapatkan sebuah riwayat lewat sanad Jubair bin Nufair, suatu ketika para sahabat Nabi saling berjumpa di hari raya. Mereka saling mendoakan satu sama lain dengan taqabbalallahu minna wa minkum.

Read More

Begitu pula Imam al-Baihaqi meriwayatkan sebuah hadis dari sahabat Watsilah bin Al-Asqa’, bahwa saat berjumpa dengan Nabi di hari raya, keduanya saling mendoakan dengan taqabbalallahu minna wa minka. Semoga Allah menerima ibadahku dan juga ibadahmu. Nabi pun menimpali dengan doa serupa. Meski beberapa ulama ada yang menilai kualitas hadisnya tidak shahih, karena terkait tata krama dan banyak dikuatkan dengan hadis-hadis lain seputar saling mendoakan sesama muslim, hadis ini bisa dan baik untuk diamalkan.

Riwayat di atas tentu tampaknya hanya memperlihatkan adanya orang yang saling mendoakan di hari raya. Nah, bagaimana mungkin orang saling mendoakan kalau tidak saling bertemu? Di atas juga disebutkan bahwa para sahabat saling berjumpa di hari raya.

Banyak ayat dalam Al Quran yang menyuruh seorang muslim memerhatikan sesama muslim, terutama orang-orang terdekat. Demikianlah sekurang-kurangnya silaturahim ada. Nabi sendiri menyebutkan bahwa menyambung silaturahim adalah sebuah hal yang mesti dilakukan seorang muslim.

Diriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari bahwa seseorang bertanya pada Rasulullah,

“Wahai Rasul, beritahu aku amalan yang akan membuatku masuk surga?” Mengetahui ada yang bertanya demikian, para sahabat bertanya-tanya, “Apa mau orang ini?”

Rasulullah meminta orang-orang membiarkan sang penanya tersebut, salut akan keberaniannya. Rasul pun menjawab, “(Amalan terbaik adalah) kamu beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya, menegakkan shalat, membayar zakat, serta menjalin silaturahmi.

Silaturahmi pun disebutkan bisa memudahkan rezeki, dan tentu hidup kita akan guyub dan rukun. Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa soal silaturahmi dan saling mendoakan di hari raya ini dibolehkan, dan ia menyatakan bahwa masyarakat Syam sudah memulai hal tersebut. Masyarakat Madinah pun melakukan hal serupa, sebagaimana dinyatakan Imam Malik bin Anas.

Dengan demikian, silaturahmi di hari raya tentu begitu dianjurkan karena banyak perintah untuk tetap menjalin hubungan baik dengan sesama. Nabi pun telah menyebutkan keutamaan silaturahmi ini. Di hari raya yang mesti kita syukuri, tentu merawat kerukunan dan persaudaraan adalah momentum yang hendaknya tak terabaikan. Wallahu a’lam.