Mengapa Banyak Orang Agamis Berpikiran Sempit dan Lucu?

Mengapa Banyak Orang Agamis Berpikiran Sempit dan Lucu?

Ini otokritik bagi kita semua, mengapa kian agamis kok malah begitu?

Mungkin judulnya terasa terlalu kasar, tapi sebentar. Kita bicara lebih jernih lagi. Apalagi tidak bisa kita pungkiri kepopuleran narasi hoax bernafaskan Islam, klaim asal-asalan dalam bidang sains yang lagi-lagi membawa-bawa Islam, dan Islamisasi nama dan latar belakang dari sejarah dan tempat, justru bersumber dari ustad-ustad kondang. 

Ini tentu saja disebabkan juga karena minimnya skill literasi dan kemampuan berfikir kritis, bukannya beriman dengan ilmu, sebagian kita beriman dengan buta, apa saja yang disampaikan ustad pasti benar. Agama bukan lagi menjadikan kita cerdas tetapi malah memenjarakan potensi intelektual umatnya.

Pada awal datangnya Islam, pada abad ke-7, orang-orang arab Jahiliyyah masih jauh dari kata beradab, pembunuhan anak perempuan lazim dipraktekkan, perang suku yang terus menerus, disebut Jahiliyyah pun memang karena kebodohan alias jahil adalah hal yang mendominasi kultur jahiliyyah.

Read More

Kemudian Al-Quran turun dengan ayat pertamanya yang memerintahkan untuk membaca, dan ratusan ayat lainnya yang memerintahkan berfikir. Al-Qur’an mengingatkan arab Jahiliyyah terhadap rasa kemanusiaan, yang sebelumnya bersuku-suku, Nabi mengingatkan bahwa kita semua sama di mata Tuhan. 

Adab dan keilmuan menjadi poin krusial di A-Qur’an, hampir semua ayat tentang berinteraksi kepada sesama manusia mengandung pengingat untuk berbuat baik, berhutang dengan cara yang baik, bercerai dengan cara yang baik, bahkan berperang pun ada seperangkat aturannya yang di antaranya tidak boleh menghancurkan rumah ibadah, menyakiti anak-anak, merusak pohon dan lain-lain. 

Ayat-ayat yang menerangkan tentang alam hampir selalu diakhiri dengan perintah, teguran, atau sindiran untuk berfikir dan merenung.

Afalaa ta’qiluun? 

Afalaa tatadzakkaruun?

Inna fi dzaalika la aayatan li qaumin ya’lamuun

Dalam ayat-ayat yang menyampaikan hikmah dan kisah, Allah seringkali memanggil hambanya dengan sebutan ya ulil albaab (yang memiliki akal), kita diingatkan berulang-ulang dalam Al-Qur’an untuk mengambil hikmah dari kisah dan perumpamaan

Mirisnya, dalam bidang adab, sebagian umat agamis ini suka mencela atas nama agama, menyerang-nyerang bukan cuma yang beda iman tapi juga yang berbeda, rasis pula, bahkan parahnya hal ini dicontohkan sama ustad dan habib favoritnya. Dan “umat” ini seolah sudah hilang rasa kemanusiaannya, menjadi entang mencaci. Seolah lupa bahwa semua sama di mata Tuhan, merasa diri superior karena beriman, yang padahal terlihat sekali rapuhnya. Padahal sedang tidak perang, tetapi minoritas ingin beribadah dan membangun rumah ibadah saja dipersulit.

Dalam bidang sains, seolah menolak untuk lebih maju dari abad ke-7, suka asal-asal klaim, mulai dari klaim bumi datar, cocoklogi ayat Al-Qur’an dengan tanggal bencana, padahal tafsir pun ada pakem kaidahnya, ubah-ubah sejarah sesukanya, tarik garis lurus di peta dari Kalimantan Timur ke Beijing katanya lurus dan terbuka rawan rudal,  padahal ke semua negara juga bisa ditarik lurus, padahal rudal ga peduli sama lurus atau tidak sasarannya. Rasanya sia-sia “umat” ini diajari sejarah, geografi, astronomi atau tafsir. 

Kisah-kisah dalam Al-Qur’an pun bukannya menjadi pelajaran malah sering dicocoklogikan ke yang dianggap musuh, seperti politisi yang disamakan dengan Firaun, dan cocoklogi Nabi-nabi ke politisi dan dai favorit.

Ajaran Islam berhasil membawa kaum arab jahiliyyah menjadi maju dan beradab, karena nilai-nilai Islam yang bernafaskan keadilan dan kemanusiaanlah Islam berhasil menyebar hingga Eropa dan Asia. Tetapi, kenapa di era modern yang semua serba digital ini malah kebodohan kembali merajalela? Dan sedihnya kebodohan ini termotivasi dari agama, termotivasi dari persepsi orang bodoh atas agama. Menerima mentah-mentah kesesatan informasi sebagai kebenaran dan menolak pernyataan akademisi Islam. 

Sekarang ini, Islam disebarkan bukan dengan edukasi tetapi dengan doktrin, rajin ngaji malah membuat intelejensia makin rapuh, bukan seperti zaman sahabat dan tabiin yang memancing dialog sehat dan mendidik, yang akhirnya melahirkan karya-karya literatur Islam yang masih kita pelajari sampai sekarang. Anak-anak kita pun dicekoki suruh hafal Qur’an, tetapi semangat tafsir tidak ada. Islam menjadi sekedar ritual tanpa substansi. Harapan kita, semoga nilai Islam bisa kembali kembali mencerdaskan umat secara spiritual dan intelektual. Amin