Mengapa Ada Stereotip Orang Agamis Itu Sombong?

Mengapa Ada Stereotip Orang Agamis Itu Sombong?

Dalam suatu riset terkini dari American Phsycological Assosiation, membuktikan bahwa  orang yang merasa dirinya relijius cenderung merasa lebih bermoral dari mereka yang tidak agamis dan yang tidak mengimani  Tuhan. Mereka akan cenderung sulit memahami kalau seseorang tanpa agama juga bisa bermoral.

Padahal, orang yang merasa taat beragama belum tentu beretika, dan begitu juga sebaliknya, orang yang tidak mengikuti suatu ajaran agama atau lalai dalam mempraktikkan agamanya tidak otomatis menjadikan orang tersebut tidak memiliki etika. Singkatnya, orang yang merasa dirinya agamis akan merasa berhak dan mudah menghakimi orang lain. Contoh mudah, beberapa teman yang berhijab merasa lebih bermoral dari  yang tidak berhijab, sesederhana hanya karena dia memakai hijab, padahal jika kita mau berfikir objektif, realitanya tidak selalu tepat seperti ini.

Rasa berhak menghakimi orang lain ini mulai dirasa umum di negara kita, dari hal kecil seperti netizen yang selalu mengkritisi di luar konteks konten-konten apapun dari sisi agama versi mereka, misalnya diplomasi antar kepala negara beda gender akan dikomentari “Bukan muhrim, tidak patut bersalaman, sekedar mengingatkan”, Berita prestasi atlet perempuan akan di komentari “bajunya kurang sopan, baiknya aurat ditutup, antum Islam kan?”, Hingga tingkat parah seperti diskriminasi dan persekusi.

Read More

Misalnya yang belum lama terjadi, sweeping kedai makanan di siang hari bulan puasa, perasaan bahwa semua orang harus menghormati orang yang puasa membuat dia lupa untuk menghargai orang yang tidak puasa dan juga menghargai orang yang mencari nafkah dengan menjual makanan untuk orang yang tidak puasa. Padahal ajaran agama bukan hanya mengajarkan untuk menasihati tapi juga mengasihi dan mengapresiasi. Agama juga bukan untuk mengintimidasi dan merasa superior, tetapi untuk menjaga kita tetap bersikap tawadhu’, bahkan Rasulullah pun tidak mengklaim surga kemuliaan dirinya tetapi karena kasih sayang Allah SWT.

Allah SWT dalam firmannya sudah mengingatkan kita bahwa perasaan paling suci ini adalah sikap kaum Yahudi dan Nasrani yang ingkar. Mereka merasa surga sudah pasti reserved buat mereka (QS 2:111), dan kalaupun masuk neraka, paling-paling cuma beberapa hari (QS 2:80). Dan secara jelas Allah SWT juga telah memberi teguran,

فَلَا تُزَكُّوۤا۟ أَنفُسَكُمۡۖ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰۤ

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS An-Najm : 32)

Nabi Muhammad SAW, dalam suatu riwayat pernah menyampaikan lebih baik kita tidur sepanjang malam, daripada sholat malam tetapi  di pagi hari merasa bangga diri dan sombong merasa lebih baik dari yang tidak bangun malam, karena amalan orang sombong itu ditolak. Rasulullah juga bersabda,

يُبْصِرُ أَحَدُكُمْ القَذَاةَ فِي أَعْيُنِ أَخِيْهِ، وَيَنْسَى الجَذْلَ- أَوْ الجَذْعَ – فِي عَيْنِ نَفْسِهِ

“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (HR. Bukhari)

Yang maknanya kira-kira sama dengan peribahasa kita yang berbunyi “Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak”. Melihat dosa orang lain memang lebih mudah dari introspeksi diri. Pada dasarnya semua manusia adalah pendosa, tetapi masing-masing kita hanya melakukan dosa yang berbeda,  merendahkan pendosa lain tidak membuat kita tambah suci di mata manusia, apalagi Tuhan. Semoga dengan mengimani Yang Maha Suci tidak membuat kita tinggi hati merasa memiliki porsi dari kesucianNya dan lupa untuk menghargai sesama makhlukNya. Wallahu a’lam bis shawab.