Menelusuri Jejak Islam Kosmopolitan & Santri di Pelbagai Negara

Ilustrasi: Muhammad Abdul Syukri, mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Politik University of Duisberg-Essen Jerman ini nekat jalan-jalan pakai sarung di Berlin. Poto itu pun menjadi viral dan akhirnya membuat gerakan Sarungan Challenge di banyak tempat.

Menelusuri Jejak Islam Kosmopolitan & Santri di Pelbagai Negara

Bagaimana geliati Islami di luar negeri?

Oktober bisa disebut Bulan komunitas Santri. Perayaan Hari Santri Nasional sejatinya digelar tiap 22 Oktober, sejak 2014 lalu. Presiden Jokowi secara resmi menetapkan 22 Oktober sebagai hari santri, dengan akar historis perjuangan kaum santri, resolusi jihad serta aksi kolosal melawan penjajah di Surabaya pada 1945.

Tentu saja Hari Santri tidak serta merta muncul, bukan sebagai kebetulan yang dibenarkan. Tapi benar-benar aspirasi yang bertemu keputusan politik.  langkah santri yang diapresiasi oleh kebijakan politik. Saya masih ingat bagaimana proses panjang penetapan Hari Santri. Dari pro-kontra yang melibatkan Fadli Zon-Fachri Hamzah dengan kader-kader Nahdliyyin, serta tarik ulurnya dengan ormas-ormas lainnya.

Bahkan, ada sebagian kelompok yang ingin Hari Santri pada 10 Muharram. PBNU, dalam hal ini Kiai Said bersikeras tidak mau. Saya masih teringat diskusi-diskusi terbatas di PBNU, Jl Kramat Raya, Jakarta, ketika membahas hal ini. Jalan panjang akhirnya lempang, 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional.

Read More

Kini, gerakan santri tidak hanya dalam ranah ilmu-ilmu agama. Santri telah berbakti untuk negeri, memainkan gerakan bersama dengan pengetahuan, kreatifitas, jejaring serta kekuatan moral untuk berkontribusi bagi bangsa Indonesia.

Kita bisa saksikan, dalam beberapa dekade terakhir, santri-santri muncul menjadi pemimpin nasional. Saya teringat bagaimana Kiai Sahal membagi politik dalam dua layer: politik praktis dan politik tingkat tinggi. Para santri kini mulai piawai memainkan strategi politik praktis dan politik tingkat tinggi: mana untuk kepentingan jangka pendek, mana untuk misi jangka panjang, misi ke-NU-an, misi keIndonesiaan.

Kemampuan santri di berbagai level, ditunjang kreatifitas, leadership, dan kesiapan mental. Gemblengan semasa di pesantren menjadi kuncinya. Para santri selalu siap untuk menerima keadaan, mau mengambil inisiatif untuk berkhidmah di masyarakat.

Ketika kran politik terbuka, kebijakan pemimpin nasional memberi ruang bagi aspirasi santri, komunitas bersarung ini sedikit demi sedikit mewarnai. Sebagian menjadi akademisi, pengusaha, birokrat, juga diplomat dan negarawan.

Pada lima dekade yang lalu, sulit ditemukan kader-kader santri yang bergelut di bidang sains dan teknologi. Akses pendidikan menjadi kuncinya. Kuliah di luar negeri dengan biaya besar, tentu saja perlu dukungan akses ekonomi dan beasiswa yang memadai. Ketika negara menjadi kesetaraan kompetisi, komunitas santri mengejar ini.

Kini, mudah ditemukan santri-santri yang suntuk di laboratorium sains, mengkaji inovasi, belajar geopolitik, seraya tetap menjaga akar tradisi mengaji. Silaturahmi tetap dirawat, kekeluargaan tetap dijaga.

Sejauh jangkauan ngluyur dan silaturahmi, saya menemukan saudara-saudara, santri-santri dengan kemampuan sumber daya yang mumpuni. Mereka menjadi profesor, pengajar, peneliti, pekerja profesional, serta beragam pekerjaan dengan basis pengetahuan yang kokoh.

Para santri ini tetap membangun komunitas, menjaga tradisi, seraya tetap mengaji. Mereka berhimpun dalam komunitas Nahdliyyin lintas negara, membentuk dan menghidup-hidupkan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU).

PCINU ini menjangkau dari Amerika hingga Australia, dari United Kingdom, Jerman, Belanda, Prancis, Turki, hingga China, Maroko, Sudan, Mesir, India, Iran dan berbagai negara lain. Sedulur-sedulur santri berhimpun dalam lebih dari 30 PCINU maupun komunitas santri yang aktif tersebar di berbagai negara.

Bersama beberapa kawan, saya membangun jaringan komunikasi antar PCINU. Tujuannya, untuk saling menguatkan publikasi, dokumentasi ide, sekaligus diseminasi gagasan. Dari kader-kader PCINU, telah lahir generasi santri 4.0 yang beridentitas muslim kosmopolitan.

Mereka mempraktikkan Islam Nusantara sebagai nilai dan tradisi, seraya memainkan gerak langkah sebagai muslim kosmopolitan. Menjaga akar tradisi, sekaligus memaknai kesantrian dan keislaman dalam konteks global.

Di antara ide-ide yang patut dikerjakan bersama, yakni memunculkan Diaspora Santri sebagai isu bersama. Siapa Diaspora Santri ini? Selama ini mereka bergerak dalam sunyi, mengejar karir intelektual dan profesional di berbagai negara. Mereka mendapat gemblengan pendidikan dan jaringan level internasional, namun tetap menjaga tradisi-tradisi santri.

Sudah saatnya kita menyapa Diaspora Santri, menjadi bagian penting transformasi Nahdlatul Ulama pada masa depan. Demi kebaikan bersama, demi Indonesia yang lebih baik. Proses saling belajar, saling mendukung, saling mendoakan seraya saling berkontribusi untuk kerja kemanusiaan dan kebangsaan jangka panjang yang akan menjadi tugas bersama.

Selamat Hari Santri,

Salam,
Munawir Aziz, Wakil Ketua PCINU United Kingdom. Koordinator Jaringan Media PCINU Lintas Negara