Menanti Ustadz Somad Berpolitik Kebangsaan Seperti Muhammadiyah dan NU

Menanti Ustadz Somad Berpolitik Kebangsaan Seperti Muhammadiyah dan NU

Kita tentu saja menunggu Ustadz Abdul Somad berkiprah dengan politik kebangsaan seperti yang dilakukan dua ormas ini

Silaturahim Ustaz Abdus Somad (UAS) kepada Habib Luthfi bin Yahya (Pekalongan) dan Kiai Maimoen Zubaer (Sarang) beberapa waktu lalu memunculkan ragam tafsir, bil khusus tafsir politik. Tak hanya sowan ke dua punggawa Nahdlatul Ulama, UAS juga ziarah kubur ke pusara Hadlrotus Syaikh Hasyim Asy’ari dan Presiden RI ke-4 KH. Abdurrahman Wahid di Tebuireng, Jombang.

Seperti diketahui, Abdus Somad merupakan nama dari sosok ustaz yang terus berkibar dua tahun terakhir ini. Ia nyentrik dan menarik. Ustaz Somad, begitu ia akrab disapa, berani tampil penuh energi di dalam arus kontroversi di sekitarnya. Apa pun yang dikatakan publik, Ustaz Somad bergeming dan tetap melaju sesuai dengan pakem serta kaidah agama yang selalu disampaikannya. Pokoknya ia selalu tampil berani dan meyakinkan.

Dalam arus politik nasional, nama UAS pun cukup ramai diperbincangkan. Bahkan ia sempat digadang-gadang menjadi pendamping Prabowo dalam gelanggang Pilpres 2019 melalui “ijtimak ulama”. Ternyata gayung tak bersambut, UAS menolak “lamaran” politik itu. Dikatakan oleh UAS, bahwa ia ingin fokus di jalur dakwah.

Read More

Masalahnya, UAS di masa lalu boleh dibilang sering offside membincang apa yang tidak menjadi bidangnya. Bahkan pada titik tertentu, ceramahnya justru menyulut kegaduhan daripada menebar keteduhan. Apa pun selalu dibincang oleh UAS, dengan pendekatan agama tentu saja, sejauh ada jemaah yang menyoal lewat sesobek kertas dalam sebuah majelis pengajian. Ya, umat bertanya, UAS menjawab.

UAS, umpamanya, pernah membuat statement mengejutkan terkait relasi neraka dan ngopi di Starbucks (2018). Kendati sesungguhnya antara Starbucks dan Ustadz Somad adalah dua hal berbeda, tetapi masing-masing mempunyai persamaan, yaitu penuh kontroversi.

Dan kontroversi yang cukup terkenal, misalnya, saat UAS mengomentari fenomena lepas hijab Rina Nose (2017) dengan mencacat secara fisik tanpa peduli ada apa gerangan di balik keputusan (sulit) yang bersangkutan melepas hijab. Atau, dalam salah satu video ceramah Ustaz Somad yang diketahui pada saat Muktamar HTI di Riau, UAS (2018) mengatakan bahwa Rasulullah selama 40 tahun hidup tidak bisa mewujudkan Islam rahmatan lil ‘alamin.

Alasannya selama itu Rasulullah hanya sholih terhadap dirinya sendiri dan keluarga. Tak hanya itu, dalam sebuah video yang tersebar luas di media sosial, Ustaz Somad (2018) juga pernah menyebut istilah “sogok syariah”. Terang saja hal itu memicu kontroversi, karena antara sogok dan syariah merupakan dua kata yang sangat berbeda.

Penggabungan kedua kata itu tentu saja sangat merusak makna. Sebabnya sederhana saja, menyogok itu jelas bertentangan dengan kaidah syariah, dan lebih dari itu karena istilah syariah disandingkan dengan praktik kriminal. Lagi pula, mana mungkin ada sogok syariah? Sesat pikir yang sangat berbahaya.

Bahkan tidak cukup sampai di situ, UAS juga sempat “menantang” polemik dengan menyebar hoax sehubungan dengan salah satu tokoh NU, Kiai Ahmad Ishomuddin (2018). Dikatakan oleh UAS bahwa Kiai Ishom adalah kiai yang dusta ihwal gelar haji, dusta juga gelar doktornya, dan ditambah sebagai kiai yang belum sunat. Video viral ini menggegerkan masyarakat, khususnya warga nahdliyyin.

Maka, dengan merapatnya UAS ke barisan NU, apakah itu akan memberi efek signifikan kepada pola dakwah UAS—dari yang membuat kegaduhan ke ujaran keteduhan? Bisa iya, bisa tidak.

Iya, karena UAS layak mendapat optimisme publik. Dengan penguasaan rumpun keilmuan agamanya, baik secara formal mauppun kultural, ia jelas jauh lebih unggul ketimbang ustaz-ustaz populis lain yang sekadar cari sensasi tapi miskin referensi.

Sementara, bisa juga tidak, jika keilmuan UAS tidak di-upgrade seiring dengan padatnya jam terbang ceramahnya. Sebab, mengutip Dr. Abdul Moqsith Ghazali (2018), orang yang telalu sering ceramah, ia akan kekurangan waktu untuk membaca. Di situlah malapetaka bermula.

Ya, saya tidak menyangsikan jika jadwal ceramah UAS begitu padat. Bahkan, dalam satu daerah saja, UAS bisa tiga atau empat kali ceramah, atau bahkan lebih. Dan, karenanya tidak menutup kemungkinan jika UAS lupa kalau materi ceramah itu setiap saat pasti berkurang, apalagi jadwalnya sangat padat. Di saat yang sama, jadwal yang padat pasti tidak membuka ruang dan waktu UAS untuk membaca. Dari sini, malapetaka akan bermula.

Akan tetapi satu hal yang pasti, dengan merapatnya UAS ke NU, saya yakin kalau yang demikian itu otomatis akan mengubah gerak dan sikap politiknya. Bukan tentang Paslon nol-satu atau nol-dua. Tapi, lebih dari itu, sudah saatnya UAS bicara tentang politik kebangsaan selaras dengan khittah kebangsaan atau Qanun Asasi yang diwariskan Rais Akbar NU Hadlratus Syaikh Hasyim Asy’ari.

Pasalnya, nilai-nilai luhur agama merupakan salah satu pondasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan, menjadi tanggungjawab besar para ulama, kiai, ustaz, serta para da’i dalam menanamkan nilai-nilai luhur itu kepada semua masyarakat

Bukankah para pendiri bangsa ini sejak awal telah sadar betul dengan prinsip dasar itu? Sehingga sila pertama dalam Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Ya, ini adalah konsensus kebangsaan yang dilahirkan para pendiri bangsa, termasuk di dalamnya para ulama yang diakui keulamaan dan komitmen kebangsaannya.

Maka, dari sini UAS seharusnya belajar. Bahwa gelarnya sebagai ustaz, bahkan kini telah didaulat oleh Habib Luthfi sebagai Syekh Abdus Somad (SAS), harus menjadikannya sebagai figur publik yang memberikan contoh dan tauladan kepada masyarakat. Dan, tentu saja saya menunggu Ustadz Somad berpolitik kebangsaan seperti halnya Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Semoga