Memoar Tuan Guru Haji (TGH) Shafwan, Sang Guru yang Penyabar

Memoar Tuan Guru Haji (TGH) Shafwan, Sang Guru yang Penyabar

Saya mengenang Tuan Guru Shafwan yang penyabar. Pada kami, santri nakal yang sering membolos dari kajian rutin beliau di asrama.

Memoar Tuan Guru Haji (TGH) Shafwan, Sang Guru yang Penyabar
foto: dok. penulis

Saldomirok.”

Dawuh itu begitu klasik; dulu, kami sering mendengarnya meluncur dari bibir beliau. “Tanyalah hati kecilmu,” kira-kira begitu maknanya, disampaikan di penghujung pengajian, dalam berbagai kesempatan. Pemilik dawuh itu adalah TGH (Tuan Guru Haji) Shafwan Hakim, tuan guru dari tanah Kediri, Lombok Barat. Pengasuh pondok pesantren Nurul Hakim, ulama besar tanpa mitos mistik yang melekat di tubuhnya.

Gurunda besar itu telah kembali ke hadirat Ilahi. Dengan mengembuskan nafas terakhir di Puskesmas Kediri pada malam 20 Juni 2018, Tuan Guru Shafwan meninggalkan umat Islam, para santri asuhan, dan gelimang kenangan di benak tak terhitung orang. Kabar kepergian beliau tersiar sangat cepat, bahkan diumumkan di masjid-masjid seantero pulau Lombok.

Sejujurnya, begitu saya mendapat kabar itu, satu perasaan kosong menggelayut dada. Saldomirok itu sudah tidak akan lagi terdengar.

Walaupun saya tidak pantas menulis memoar beliau, namun saya tetap bersikeras menyebut tulisan ini memoar karena saya masih memelihara serpihan kenangan tentang beliau.

Saya mengenang Tuan Guru Shafwan yang penyabar. Pada kami, santri nakal yang sering membolos dari kajian rutin beliau di asrama, beliau menunjukkan amarah dengan berwejang sambil berteriak, tapi tanpa secuilpun kalimat kasar terucap. Sewaktu angkatan saya menjadi santri-pengurus, Tuan Guru Shafwan tidak bosan-bosannya memanggil ketua dan wakil ketua, tak alpa bertanya tentang apa yang telah, sedang, dan akan kepengurusan kami lakukan.

Bila setelah sekian puluh tahun Tuan Guru Shafwan mampu bersabar dan berbijaksana membimbing umat (terutama masyarakat Kediri dengan tabiat begitu rupa), maka apalah arti santri nakal macam kami, yang setelah dimarahi selalu beliau doakan?

Saya mengenang Tuan Guru Shafwan yang, pada suatu siang di bulan puasa 2014, hanya dengan kaos oblong dan sarung, membaca koran dengan tubuh berbaring menyamping di lantai Masjid Zakariya. Beliau berbaur bersama para santri yang tertidur karena lelah membaca Al-Quran. Sebagai pemimpin umat, beliau tidak ingin berputih mata dari memantau perkembangan zaman, dan tidak melulu menciptakan jarak dengan santri yang diasuhnya.

Saya mengenang Tuan Guru Shafwan yang tidak bisa mengendarai motor dan mobil sampai akhir hayatnya. Tidak pula beliau punya supir pribadi. Siapapun yang ada dan sedang luang saat dibutuhkan, padanyalah beliau akan meminta tolong. Anak-anaknya, asatidz pondok, tukang ojek, warga desa, bahkan preman kampung, akan dengan senang hati mengantar beliau.

Karena siapalah yang tak segan pada tuan guru terpandang yang meminta tolong, nunas tulung dalam bahasa Sasaknya, saat beliau bisa saja memanfaatkan popularitas untuk dilayani bak seorang raja? Saya masih mengingat cara duduk beliau yang khas bila membonceng motor: punggung tegak, kedua telapak tangan menempel di pundak si pengantar.

Dengan semua kualitas itu, beliau dihormati masyarakat: didengarkan dan dimuliakan. Beliau dijunjung namun tetap bersahaja. Beliau dilimpahi Allah rizki namun selalu dikelola untuk menyekolahkan keluarga dan membangun pondok. Beliau panutan yang tidak digerus politik. Beliau berkomitmen pada transformasi umat—terutama tunas mudanya, para santri.

Maka Tuan Guru Shafwan pergi diiringi tangis banyak manusia. Pengasuh pondok wasathan (tanpa afiliasi ormas Islam apapun) yang telah melahirkan ribuan alumni membanggakan itu telah tiada.

***

Telah merebak kabar, samar-samar, bahwa rasa hormat masyarakat sekitar pada pondok Nurul Hakim perlahan meredup, seiring redupnya pengaruh beberapa tuan guru. Ada keretakan-keretakan internal di yayasan pondok, ada pula kegelisahan tentang pengganti Tuan Guru Shafwan sebagai tidak hanya pengasuh pondok melainkan pemimpin umat.

Alkisah, saat Tuan Guru Shafwan mewarisi amanah pengasuhan dari ayahnya, TGH. Abdul Karim (pendiri pondok Nurul Hakim sejak 1924), beliau mengalami fase penolakan, sebelum akhirnya bisa merebut hati umat, dan mengembangkan pondok sedemikian rupa.

Hanya saja, memang tidak bisa ditampik sama sekali bahwa kepergian Tuan Guru Shafwan menyisakan sebuah ruang hampa di hati. Terasa sebuah kehilangan yang tidak kecil.

Saldomirok.”

Masih terngiang dawuh lembut itu. Bertanya pada ‘hati bersih’ adalah menengok dan berpegang pada kejujuran, kejernihan, kesabaran, kebaikan dan sederhananya kebenaran. Saat jalan terlihat mengabur, ragu mulai mengembus, dan keadaan terasa seperti yang tidak diharapkan, saldomirok: bertanyalah, apa yang sebaik-baiknya harus dilakukan.

Selamat jalan, Tuan Guru, guru umat yang budiman. Irji’ ila robbika rodhiyatan mardhiyyah.