Melihat dari Dekat Perempuan Penggerak Perdamaian

Melihat dari Dekat Perempuan Penggerak Perdamaian

Perempuan penggerak perdamaian ternyata ada di sekitar kita. Yuk lihat lebih dekat.

Melihat dari Dekat Perempuan Penggerak Perdamaian

Perempuan merupakan aktor penting dalam pencegahan intoleransi, tapi kerap dinomorduakan. Saya mendapatkan kesempatan menjadi salah satu peserta Peluncuran Hasil Survei Nasional Tren Toleransi Sosial-Keagamaan di Kalangan Perempuan Muslim Indonesia dan Halaqoh Perempuan untuk Perdamaian dan hal ini  merupakan sebuah prestise tersendiri. Terlebih acara tersebut diselenggarakan atas kerjasama antara Wahid Foundation dan UN WOMEN. lembaga PBB yang berkonsentrasi terhadap isu perempuan dan pemberdayaan di seluruh dunia.

Bertempat di Ball Room Hotel JS Luwansa, suasana sudah cukup ramai oleh para aktivis perempuan, cendekiawan, para Kyai dan bu Nyai, tak kurang dari itu, hadir beberapa akademisi dari pelbagai universitas, yang turut andil dalam kegiatan tersebut.

Dalam acara tersebut hadir Puan Maharani, selaku Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia. Yohana Yembise selaku, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Juga Direktur Wahid Foundation, Yenny Zannuba Wahid.

Pengalaman yang cukup jarang saya dapatkan ialah, hadir dalam sebuah acara yang mana bertemu para perempuan-perempuan cerdas, juga memiliki posisi strategis dalam pelbagai bidang dan organisasi. Dalam acara ini pula, hadir berbagai organisasi kewanitaan seperti, Muslimat NU, Aisyiyah, MUI Muslimat, dan lain sebagainya.

Dalam sambutan Puan Maharahi, ada hal penting saya catat, yaitu,“Perempuan memang memiliki kodrat khusus, namun tidak lantas menjadikan tidak memiliki sikap. Kelebihan perempuan ialah, dalam menghadirkan harmoni antara kegiatan internal dan eksternal.

Oleh karenanya, hasil survei ini selayaknya merupakan patokan perempuan untuk memposisikan diri di masa depan. Dan saya akan sangat bangga apabila melihat para perempuan hadir dalam berbagai posisi strategis baik dalam pemerintahan atau lainnya.”

Apa yang dikatakan beliau, rasa cukup memberikan gambaran penting kepada saya. Bahwa perempuan-perempuan yang memiliki kesempatan dan kemampuan lebih, tetap harus menjalankan kodrat sebagaimana mestinya. Namun perempuan tersebut, selalu memiliki cara dan tetap berusaha untuk menyeimbangkan kehidupan pribadi sebagai perempuan, dan juga sebagai perempuan profesional.

Catatan yang tak kalah penting bagi para akademisi seperti saya, survei yang dilakukan oleh Wahid Foundation dan UN Women seyogyanya, memberikan motivasi kepada para akademisi untuk melihat perempuan lebih dekat, termasuk dalam sudut pandang sosial-keagamaan perempuan. Hal tersebut harus diakui masih sangat sedikit, boleh dikatakan Wahid Foundation dan UN Women memberikan langkah besar dalam isu sosial-keagamaan dalam sudut pandang perempuan, lewat hasil survei ini.

Dalam penelitian ini, hadir 1500 responden baik laki-laki dan perempuan, yang didapat dari 34 provinsi di Indonesia. Apa yang dilakukan oleh Wahid Foundation dan UN Women ini, merupakan salah satu rangkaian kegiatan dari program “Perempuan Berdaya, Komunitas Damai”. Program tersebut dipandang sebagai aktor kuat dalam masyarakat, yang dapat mempromosikan perdamaian, baik dalam keluarga, lingkungan, dan seterusnya.

Adapun hasil dari survey tersebut sebagai berikut; 80,7% perempuan mendukung hak kebebasan menjalankan ajaran agama dan atau keyakinan. Kemudian, 80,8%  perempuan lebih tidak bersedia radikal, dibandingkan dengan 76,7% laki-laki, dan perempuan yang intoleran 55% lebih sedikit dibandingkan laki-laki 59,2%. Perempuan (53,3%) juga lebih sedikit kelompok yang tidak disukai dibandingkan dengan laki-laki (60,3%).

Secara garis besar, kalau boleh saya mengambil kesimpulan, bahwa perempuan Muslim Indonesia memiliki tingkat toleransi beragama lebih tinggi, apabila dibandingkan dengan laki-laki. Selain dari pada itu, hasil tersebut menurut saya memberikan gambaran penting akan sikap perempuan terhadap mereka yang berbeda agama.

Adapun beberapa catatan penting yang disampaikan oleh Yenny Wahid, Direktur Wahid Foundation. “Perempuan Muslim Indonesia memang memiliki kompleksitas yang tinggi, namun dari apa yang telah dipaparkan, secara garis besar perempuan Indonesia tergolong memiliki sikap moderat yang tinggi. Hal tersebut adalah temuan yang menggembirakan, karena perempuan Indonesia lebih banyak tidak bersedia radikal,” katanya.

Putri Almarhum Presiden keempat ini juga, hasil survey yang memaparkan situasi potensi toleransi sosial keberagamaan di kalangan perempuan Muslim menyoroti faktor yang berkontribusi terhadap penerimaan terhadap penguatan toleransi di Indonesia.

“Dalam analisisnya, survey ini juga menunjukkan rekomendasi terkait peran perempuan Muslim dalam membangun nilai toleransi dan perdamaian,” lanjut Yenny.

Selain dari pada itu, hal yang cukup mencengangkan apa ialah, menurut penuturan Yenny Wahid. Dalam hasil survei tersebut, hadir beberapa kelompok yang tidak disukai oleh masyarakat, kelompok tersebut antara lain: Komunis 21.9%, LGBT 17.8%, Yahudi 7.1%, Kristen 3.0%, Ateis 2.5%, Syiah 1.2%, Cina 0.7%, Wahhabi 0.6%, Katolik 0.5%, Buddha 0.5%. Namun rata-rata responden tidak menyukai kelompok tersebut, ternyata fakta yang hadir di lapangan ialah, responden tidak pernah bertemu secara langsung dengan kelompok-kelompok tersebut.

Hal tersebut memang perlu penelitian lebih lanjut, namun setidaknya hal tersebut memberikan asumsi awal kepada saya, bahwa masyarakat bisa jadi tidak menyukai sebuah kelompok karena tidak memiliki informasi yang berimbang, atas informasi yang didapat. Sehingga menghadirkan imajinasi kuat, yang pada akhirnya berefek kepada pemikiran dan prilaku.

Dalam survei ini juga dapat dilihat bagaimana permasalahan kesetaraan gender dipersepsikan oleh perempuan, dan hal tersebut apabila melihat data perempuan Muslim Indonesia memiliki otonom yang kuat dalam pelbagai hal, baik dalam sikap hidup, putusan hidup yang penting, politik, ekonomi hingga sosial.

“Pria(suami) juga memiliki peran penting dalam pembentukan iklim kesetaraan gender, yang pada akhirnya hal tersebut akan hadir pada kehidupan bermasyarakat,”tutup Yenny.

Dalam hal ini, saya beranggapan bahwa para suami memiliki peran penting, atas apa yang dilakukan oleh seorang perempuan (istri). Para perempuan dapat memberikan banyak sumbangsih lebih besar, apabila suami memiliki pandangan lebih bijak, dan menyadari potensi besar dalam diri seorang perempuan.

eran kelompok perempuan merupakan kunci perdamaian, dalam sebuah negara, seperti apa yang dikatakan oleh Yenny Zannuba Wahid. Semoga.