Louisville, Mohamed Ali dan Segregasi Rasisme

Louisville, Mohamed Ali dan Segregasi Rasisme

Bagaimana jejak Mohamed Ali di Lousville dan rasisme

Kota Louisville, Kentucky, Amerika Serikat menyimpan begitu banyak inspirasi dan daya tarik tersendiri bagi pengunjungnya, tentu saja bukan karena kulinernya yang sudah mendunia, tapi karena di kota ini lahir sosok manusia bernama Muhammad Ali.

Petinju kelas berat dunia yang pernah tenar di tahun 1970-an ini lahir pada 17 Januari 1942 silam. Ia lahir dari keluarga terhormat, Ayahnya, Cassius Marcellus Clay, adalah seorang seniman dan musisi. Ia dikenal sebagai pelukis dan pemain Piano yang handal. Banyak yang mengenalnya sebagai sosok yang tampan, jago dansa dan pujaan banyak wanita. Sementara kakeknya, Herman Heaton Clay, adalah pejuang kesetaraan hak bagi warga Amerika.

Meski dikenal dengan ‘nama Islam’ Muhammad Ali, juara dunia tiga kali ini memiliki nama lahir yang sama persis dengan nama bapaknya, dengan tambahan kata “junior” (Jr.) di belakangnya. Cassius Marcellus Clay, Jr., itulah nama aslinya. Ia masih gunakan nama itu dalam berbagai pertandingan tinju yang ia ikuti kala ia masih remaja. Hingga akhirnya, ia memeluk Islam dan dihadiahi nama yang sangat ia sukai, Muhammad Ali.

Read More

Bagi Ali, nama barunya tak sekadar penanda identitas anyarnya, lebih dari itu, nama baru ini adalah penanda untuk posisi dirinya yang baru, yang bebas dan merdeka. Nama ini sekaligus menjadi inspirasi perjuangannya dalam membela kaum tertindas.

Meski menekuni olahraga sarat “kekerasan” sebagai profesi utamanya, namun Ali bukan petinju biasa, dia adalah pejuang kemanusiaan yang berani melawan segregasi rasisme antara kulit hitam dan putih di masanya. Dia berani melawan kebijakan pemerintah Amerika saat memberlakukan wajib militer bagi warganya.  Ia melawan kebijakan itu dengan menolak bergabung ke militer untuk berperang melawan Vietnam.

“Aku tak sudi terbang ribuan kilometer hanya untuk membunuh orang-orang lemah demi meneruskan perbudakan oleh orang kulit putih,” demikian katanya saat ditanya alasan menolak bergabung dengan militer

Pemerintah Amerika tentu berang dengan penolakan ini, mereka melakukan berbagai cara agar Ali ikut berperang di Vietnam. Termasuk di antaranya adalah mencabut ijin bertanding Ali, bahkan ia juga dikenakan denda sebesar 10.000 dolar AS .
Ali tetap tak gentar, ia tak mau ikut perang.

“I ain’t got no quarrel with them Viet Cong!” katanya.

Meski demikian, Ali tak putus asa, ia terus melakukan perlawanan hingga ke pengadilan dan akhirnya menang, dan diperbolehkan kembali bertanding.

Pejuang Kemanusiaan

Islam dan kemanusiaan tampaknya telah tertanam kuat dalam hati dan pikiran Ali. Saat memeluk Islam, Ali mendalami ajaran Islam moderat (Sunni). Baginya Islam adalah agama pembebasan, agama kemanusiaan, agama yang tidak membedakan warna kulit dan strata sosial. Atas dasar itu, ia pun merasa terpanggil untuk menyuarakan nilai-nilai Islam itu, berjuang melawan segregasi rasial di masanya.

Kita tahu, di masa Ali, orang-orang kulit hitam tidak punya hak di ruang publik. Mereka tidak boleh makan bersama orang kulit putih di restoran, mereka pun dilarang duduk di depan saat berada di bis; mereka harus di belakang. Tempat duduk depan hanya untuk kalangan kulit putih. Belum lagi stigma miring yang kerap dituduhkan kepada mereka, masa itu adalah masa yang suram untuk masyarakat kulit hitam.

Meski Islam mengakui adanya perbedaan, termasuk perbedaan warna kulit, bukan berarti manusia harus dibeda-bedakan. Pandangan ini sejalan dengan Al-Quran yang mengatakan “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal, sesungguhnya orang paling mulia di antara kamu, disisi Allah ialah orang yang bertaqwa (QS. Al-Hujurat:13).

Kiprah dan sejarah perjuangan Ali ini membawa inspirasi tentang pentingnya membumikan  nilai-nilai agama untuk kemanusiaan, dengan cara memuliakannya.

Pemuliaan manusia bukan karena status, agama, warna kulit, pangkat dan jabatannya, tapi karena Tuhan sendiri telah memuliakannya, sebagaimana bunyi surah Al-Isra, ayat 70, “sungguh kami telah memuliakan anak cucu Adam”. Maka dari itu, tidak sepantaslah kita untuk merendahkan martabat dan harkat manusia.