Lima Panduan Berpisah dengan Ramadan

Ramadan tiba sebentar lagi

Lima Panduan Berpisah dengan Ramadan

Bulan Ramadan tahun ini hampir pergi meninggalkan kita. Kepergian bulan Ramadan ini berarti usainya bulan penuh berkah, rahmat dan pengampunan. Bulan penuh janji terkabulnya doa, bulan rizki orang mukmin diluaskan, bulan setan dibelenggu, bulan ibadah sunat diberi pahala seperti melakukan ibadah wajib dan pahala ibadah wajib dilipatgandakan. Karena itu Rasulullah bersabda, “Andai semua orang mukmin menyadari keistimewaan bulan Ramadan, tentu mereka berharap setiap bulan adalah Ramadan.”

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan menghadapi berakhirnya bulan Ramadan, diantaranya :

Pertama, memohon dan berharap ibadah yang dilakukan di bulan Ramadan diterima oleh Allah Swt. Para ulama salafussaleh sangat memperhatikan bagaimana agar amal mereka diterima melebihi perhatian terhadap amal itu sendiri. Setiap melakukan ibadah mereka bukan berpuas diri namun justru selalu khawatir akankah amal itu diterima. Tak henti-hentinya mereka memohon kepada Allah agar diberi kemudahan dan keikhlasan beribadah serta agar jerih payahnya itu diterima.

Read More

Diantara tanda amal yang diterima adalah diberi pertolongan oleh Allah Swt. untuk melakukan amal saleh lagi setelahnya. Para ulama mengatakan, “Tanda diterimanya amal kebaikan adalah wujudnya amal kebaikan setelahnya.” Berakhirnya bulan Ramadan bukan berarti berakhir pula segala kebaikan dan ibadah. Momentum Ramadan seharusnya menjadi tonggak kesadaran kita untuk mendekatkan diri dengan-Nya sehingga setelah Ramadan lebih rajin beribadah dan menjadi orang yang baru sama sekali dibanding sebelum Ramadan. Bisyr Al-Hafi mengatakan, “Seburuk-buruk kaum adalah yang tak mengetahui hak-hak Allah kecuali di bulan Ramadan.” Mereka adalah orang-orang yang hanya tekun beribadah kepada Allah di bulan Ramadan saja.

Kedua, beristighfar meminta ampun kepada Allah. Sebesar apapun ibadah yang kita lakukan tentu masih ada kekurangan. Dalam Lathaif al-Isyarat Syarh Nadhm al-Waraqat disebutkan, “Andai seseorang beribadah mulai lahir hingga meninggal, ia belum memenuhi seujung kuku dari hak ibadah kepada-Nya memandang nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan-Nya. Allah Swt berfirman, “Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS 73:20).

Ketiga, membayar zakat fitrah. Ibadah puasa belum akan diterima dan diberi pahala sempurna hingga membayar zakat fitrah. Rasulullah Saw. bersabda,”(Puasa) bulan Ramadan masih tergantung (tertahan) antara langit bumi. Ia belum diangkat kepada Allah kecuali dengan zakat fitrah ditunaikan.” (HR. Ad-Dailamy dan Ibn Syâhin). Zakat fitrah juga berfungsi sebagai penebus perbuatan tanpa faidah dan ucapan kotor yang dilakukan ketika puasa. Zakat juga sebagai iktikad baik berbagi dengan sesama yang mengalami kesulitan hidup.   Sayyidina Abdullah bin Abbas berkata, “Rasulullah Saw. mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih dari perbuatan sia-sia dan ucapan buruk waktu berpuasa serta sebagai suguhan makanan bagi fakir miskin.” (HR. Abu Dawud dan Hakim). Karena itu walau kewajiban dalam zakat fitrah adalah makanan pokok, sebaiknya juga disertakan bahan untuk lauk makan agar lebih meringankan para penerima.

Keempat, menghidupkan malam hari raya dengan ibadah. Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa mendirikan dua malam hari raya (dengan ibadah) karena Allah maka hatinya tak akan mati ketika hati orang lain mati (hari kiamat)” (HR.Ibnu Majah). Hadits ini menunjukkan ia memiliki harapan besar meninggal husnul khatimah dan selamat di akhirat. Imam Al-Hafni menjelaskan maksud hadits ini adalah menggunakan sebagian besar waktu malam hari raya untuk beribadah dengan shalat, dzikir, atau lainnya.  Malam hari raya juga waktu mustajab untuk berdoa. Rasulullah Saw. bersabda sebagaimana disampaikan As-Suyuthi dan Ibnu Asakir, “Ada lima malam di mana doa ketika itu tidak ditolak : awal bulan Rajab, malam nishfu Sya’ban, malam Jumat, malam Idul Fitri, dan malam Idul Adha.”

Kelima, memperbanyak membaca takbir mulai maghrib malam hari raya sampai imam memulai sholat Idul Fitri. Membaca takbir di malam Idul Fitri adalah syiar dan ibadah. Sebaiknya takbir itu dibaca dengan meresapi kebesaran dan keagungan Allah Swt. Rasulullah Saw. bersabda, “Hiasilah hari raya kalian dengan takbir.” (HR. Thabrani).

Keenam, berpuasa enam hari di bulan Syawwal. Puasa ini boleh dilakukan kapanpun baik berurutan atau tidak asal masih di bulan Syawal. Sebaiknya puasa ini dilakukan pada tanggal 2-7 Syawwal. Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian mengikutinya dengan enam hari dari bulan Syawwal maka ia seperti puasa satu tahun.” (HR. Muslim).

Disarikan dari Al-Badlâ’i al-Ghâliyah al-Atsmân, Al-Mausù’ah Al-Imâniyah, dan sumber-sumber lain

*) Penulis adalah Pegiat Komunitas Literasi Pesantren, tinggal di Magelang