Lima Hal yang Menjadi Pemicu Gibah (Menggunjing), Hindarilah!

Lima Hal yang Menjadi Pemicu Gibah (Menggunjing), Hindarilah!

Gibah tidak terjadi begitu saja, ada beberapa hal pemicu gibah, apa saja?

Gibah atau menggunjing merupakan hal yang begitu sering kita lihat, bahkan ada stereotipe bahwa ghibah bagi kaum ibu-ibu yang sedang berkumpul adalah hal yang biasa. Padahal, sebetulnya jenis sifat tidak terpuji yang satu ini sama sekali tidak ada kaitannya sama sekali dengan gender, semua kalangan dari berbagai jenis latar belakang pun sama berpotensinya untuk terjerumus dalam bahaya lisan ini, pun juga sama berpotensinya untuk bisa menghindar hal ini.

Pengertian gibah sebagaimana sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahinya adalah,

ذِكْرُكَ أخاكَ بِمَا يَكْرَهُهُ

Read More

Saat kamu menuturkan tentang saudaramu perihal yang tidak disukainya (apabila tampak), al-Ghazali memaparkan dalam Ihya’-nya bahwa ‘menuturkan’ di situ tidak hanya berlaku bagi lisan saja, melainkan juga selainnya seperti menirukan, berisyarat atau pun semacamnya yang pada intinya adalah dengan tujuan yang sama sebagaiman dijelaskan hadis.

Berikut di antara hal-hal yang sering memicu timbulnya gibah. Hal ini telah dijelaskan oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin-nya:

Pertama, Pelampiasan.

Hal ini biasanya terjadi tatkala kita marah pada seseorang namun sulit atau belum ada kesempatan untuk melampiaskan kemarahan tadi pada orang tersebut. Di sinilah pelampiasan dengan cara gibah itu muncul. Maka akibat pelampiasan itu, disebutkanlah kekurangan-kekurang orang yang dikesalkan tersebut.

Kedua, tidak ingin ketinggalan dalam obrolan.

Hal ini biasanya terjadi saat diawali oleh teman bicara, lalu agar tidak terkesan ketinggalan obrolan akhirnya seseorang ikut andil dalam gibah tersebut dengan turut menyumbangkan aib-aib orang lain yang ia tahu.

Ketiga, agar terlihat unggul.

Dengan menyebut kekurangan-kekurangan orang lain, ia ingin agar orang tadi terlihat tidak lebih baik atau pun lebih unggul darinya.

Keempat, dengki.

Hal ini biasanya muncul saat melihat orang lain begitu banyak menuai pujian, dukungan atau pun semacamnya, sementara dirinya yang mengharapkan justeru tidak begitu mendapatkannya.

Kelima, melucu. Hal ini biasanya muncul saat dalam perkumpulan yang penuh canda tawa lalu kehabisan bahan untuk membuat teman bicaranya tertawa lagi. Disitulah ia menyebutkan kekurangan-kekurangan orang lain sebagai bahanlawakannya.

 

Ikhtiar untuk menghindarinya 

“Untuk terhindar dari suatu penyakit, jauhilah penyebab-penyebabnya.” Demikian rumus kausalitas sederhana. Rumus ini berlaku pula jika kita hendak berusaha agar terhindar dari gibah.

Sudah menjadi keharusan bagi kita untuk menghindari beberapa penyebab yang bisa mendorong kita untuk melakukan gibah sebagaimana di atas. Jika kita memiliki anggapan bahwa menghindarinya sangat amat sulit, ada baiknya kita menengok nasihat al-Ghazali tentang menyikapi mindset yang demikian:

الإنسان إذا افترقت هِمَّتُهُ فِي شَيْءٍ أَظْهَرَ الْيَأْسَ مِنْهُ وَاسْتَعْظَمَ الْأَمْرَ وَاسْتَوْعَرَ الطَّرِيقَ وَإِذَا صَحَّ مِنْهُ الْهَوَى اهْتَدَى إِلَى الْحِيَلِ وَاسْتَنْبَطَ بِدَقِيقِ النَّظَرِ خَفَايَا الطرق فِي الْوُصُولِ إِلَى الْغَرَضِ

Watak manusia, ketika belum apa-apa sudah berkecil hati pada yang dikejarnya, maka yang tampak hanyalah ketidakmungkinan, lalu hal yang seolah-olah berat baginya dan bayangan akan sulitnya jalan yang ia tempuh. Beda halnya ketika ia benar-benar menginginkan sesuatu, maka yang mula-mula tampak adalah -bukanlah besar kecilnya masalah tapi (pen.)-, bagaimana cara untuk mencapainya serta pikiran yang terus-menerus untuk mencari jalan dan cela agar ia sampi pada tujuan tersebut.”

Nah, jika masih merasa tidak mungkin, bisa jadi niat atau kemauan kita yang belum benar-benar kuat dalam mencapainya, seperti nelayan yang mencari intan di dasar laut atau seperti kisah Khamim pekalongan yang pergi Haji jalan kaki.

Wallahu A’lam