
Pada akhirnya, setiap perayaan adalah pengulangan. Tetapi tidak semua pengulangan bersifat membebaskan. Ada pengulangan yang memurnikan, sebagaimana puasa melatih tubuh dan batin, dan ada pengulangan yang justru membelenggu—menyembunyikan stagnasi di balik kebiasaan.
Lebaran, tahun ini, seperti pengulangan dari masa lalu yang belum selesai. Bukan sebagai pemurnian, melainkan sebagai penyangkalan: bahwa sesuatu telah rusak, bahwa sesuatu sedang mundur.
Di negeri ini, demokrasi—sebuah kata yang dulu menggelegar penuh harapan—kini terdengar letih, dipaksa berjalan seperti boneka di balik layar pentas.
RUU TNI yang disahkan tanpa perdebatan berarti, jurnalis yang diteror dengan kepala hewan mati, aparat yang memukul warga seperti petugas parkir menertibkan motor: ini bukan serpihan peristiwa, melainkan pola. Dan pola adalah bahasa yang hanya bisa dibaca jika kita bersedia menolak lupa.
Seperti tokoh Winston dalam 1984 karya George Orwell, kita hidup di antara slogan yang membingungkan: “Perang adalah damai, kebebasan adalah perbudakan, ketidaktahuan adalah kekuatan.” Di negeri ini, “demokrasi adalah stabilitas”, dan stabilitas artinya menutup mulut. Di hari-hari terakhir Ramadan, sementara televisi memutar iklan sirup dengan keluarga sempurna, kita menyaksikan para penguasa menggeser oposisi dari peta, menyisakan panggung yang kosong dari kritik. Bahkan oposisi tak lagi diizinkan tampil sebagai badut.
Tentu, ini bukan diktator dalam bentuk klasik. Tidak ada mars militer di jalanan, tak ada penyensoran resmi. Tapi justru karena itulah ia sulit dikenali.
Otoritarianisme hari ini bekerja dengan bahasa yang kita kenal: keamanan, nasionalisme, keharmonisan. Ia menyelinap lewat algoritma, lewat narasi yang dibentuk oleh buzzer, lewat rasa lelah kolektif terhadap kekacauan. Seperti Bane dalam The Dark Knight Rises, ia datang tidak dengan teriakan, tapi dengan keyakinan yang tenang: bahwa semua ini demi kebaikan.
Dalam sejarah, transisi menuju otoritarianisme hampir selalu dibungkus oleh rasa aman. Kita tahu dari pengalaman republik-republik yang gagal bahwa demokrasi tidak mati karena dibunuh secara terang-terangan, melainkan karena dijalankan seperti formalitas, diisi dengan prosedur kosong.
Di Roma, sebelum Caesar menyeberangi Rubicon, republik telah kehilangan jiwa dalam senat yang korup dan rakyat yang apatis.
Demokrasi tidak dihancurkan oleh musuhnya, tetapi ditinggalkan oleh mereka yang mengaku menjaganya.
Tapi kita sedang menyambut Lebaran. Dan Lebaran, jika dipahami dengan benar, bukan sekadar akhir dari puasa, melainkan awal dari kesadaran. Di tengah situasi politik yang mengecilkan ruang kebebasan, Lebaran mengajarkan satu hal: bahwa pengampunan tanpa kesadaran hanyalah kosmetik. Ia bukan rekonsiliasi, tapi sekadar penundaan konflik.
Kita memaafkan bukan karena semua baik-baik saja, tetapi karena kita memilih untuk tidak dikendalikan oleh luka. Tapi luka itu harus dikenali terlebih dahulu, dibuka, dan diperiksa.
Dalam salah satu suratnya, Spinoza menulis bahwa kebebasan bukan berarti ketiadaan halangan, tetapi kemampuan untuk memahami sebab-musabab dari tindakan kita.
Di negeri ini, banyak hal tampak bebas, tetapi tanpa pemahaman. Kritik dianggap serangan. Perbedaan dibaca sebagai ancaman. Dalam situasi seperti itu, kita tidak hidup dalam kebebasan, tapi dalam ilusi kebebasan—yang jauh lebih berbahaya.
Barangkali kita lupa, demokrasi adalah proyek kebudayaan. Ia bukan hanya sistem pemerintahan, tapi juga cara berpikir, cara bertenggang rasa, dan cara menyikapi yang berbeda. Ia adalah kemampuan untuk hidup dalam ketidakpastian, dan justru karena itu, membutuhkan keberanian moral.
Demokrasi bukanlah tujuan, melainkan metode yang tak selesai. Ia serupa perjalanan Sisifus dalam mitologi Yunani, yang mendorong batu ke puncak gunung hanya untuk menyaksikannya jatuh kembali. Tetapi dalam absurditas itu, kita menemukan makna: bahwa perjuangan itu sendiri adalah pengukuhan martabat.
Di masa seperti sekarang, kita kerap tergoda untuk memilih kenyamanan. Sebuah kenyamanan yang datang dengan harga: diam. Kita ingin stabilitas, tapi menolak syaratnya—keadilan. Kita ingin ketertiban, tapi tak bersedia membayar ongkos kebebasan berekspresi. Maka ruang-ruang publik menjadi sepi dari kritik. Universitas menjadi tempat birokrasi alih-alih laboratorium pemikiran. Media menjadi ladang iklan, bukan medan pertarungan ide. Dan masyarakat sipil? Ia dibanjiri disinformasi, direduksi jadi buzzer atau dituduh subversif.
Lebaran, dalam peradaban Islam, adalah momentum kultural untuk merengkuh kembali keutuhan diri. Tetapi tak banyak yang bertanya: keutuhan macam apa yang ingin kita capai, bila ruang kolektif kita terfragmentasi oleh ketakutan? Bagaimana kita membayangkan kebersamaan, jika negara memelihara kesenjangan informasi dan memusuhi keragaman suara?
Dalam Thirteen Ways of Looking at a Blackbird, Wallace Stevens menulis: “I do not know which to prefer, / The beauty of inflections / Or the beauty of innuendoes.” Dalam lanskap politik hari ini, infleksi telah digantikan oleh intruksi, dan inuendo digantikan oleh intimidasi. Kita hidup dalam zaman literal, di mana tafsir digantikan oleh klaim. Ruang tafsir, yang menjadi nyawa demokrasi, dipersempit oleh satu narasi tunggal: stabilitas negara.
Namun sejarah tidak pernah berjalan satu arah. Ia dipenuhi tikungan, percabangan, dan kebetulan.
Jose Luis Borges menyebut waktu sebagai taman berpagar yang bercabang-cabang. Kita, sebagai bangsa, sedang memilih jalan di antara banyak jalan. Di titik ini, Lebaran bukan sekadar ibadah, tetapi juga medan pilihan moral. Kita bisa ikut merayakan dengan rasa puas palsu, atau menjadikannya panggilan untuk menggugat.
Gugatan itu tak selalu harus lantang. Ia bisa berupa tulisan sunyi, percakapan di meja makan, atau keberanian untuk berkata “tidak” dalam ruang rapat. Ia bisa berwujud pertanyaan yang tidak dijawab. Atau penolakan untuk ikut tertawa pada lelucon yang menyudutkan yang lemah. Demokrasi bukan dibela lewat slogan, tapi lewat kebiasaan sehari-hari yang melatih kepekaan.
Di sinilah kita membutuhkan imajinasi politik. Bukan dalam artian kampanye atau strategi, tetapi imajinasi sebagai daya untuk membayangkan bentuk hidup bersama yang belum sempat terjadi. Seperti para sufi yang memandang ibadah sebagai jalan estetika, kita pun perlu memandang demokrasi sebagai ruang penciptaan bersama: tak pasti, tak selalu harmonis, tapi terus kita rawat karena kita mempercayainya.
Ketika takbir berkumandang, dan langit masih gelap menjelang pagi, kita pun tahu: kemenangan bukan milik yang menguasai panggung, melainkan mereka yang terus menjaga nyala di dalam gelap. Demokrasi adalah nyala itu—lemah, kecil, sering dilupakan. Tapi justru karena itu, ia perlu terus dihidupkan.
Maka di akhir Ramadan ini, marilah kita rayakan Lebaran bukan hanya dengan maaf dan peluk, tetapi juga dengan janji untuk menjaga ruang bebas, menolak lupa, dan merawat demokrasi bukan sebagai prosedur, melainkan sebagai kebiasaan berpikir dan bertindak. Sebab negeri ini belum selesai. Dan Lebaran, seperti hidup bersama, adalah momen untuk menyadari bahwa belum selesainya itulah yang membuat kita manusia.