Konsep Izzul Islam wal Muslimin yang Kerap Disalahpahami

Konsep Izzul Islam wal Muslimin yang Kerap Disalahpahami

Izzul Islam wal Muslimin kerap digaungkan tanpa kita melihat konteksnya

Konsep Izzul Islam wal Muslimin yang Kerap Disalahpahami
Foto: Hexa/Islamidotco

Seorang dai yang cukup terkenal, saat memberi kata pengantar buku karangannya, menyatakan, “…jelaslah bahwa siapapun yang bergabung dengan kelompok atau harakah yang tidak melandaskan dirinya untuk izzul Islam wal-muslimin (kejayaan Islam dan umatnya) adalah kebohongan yang nyata.” Dari pernyataan ini, orang segera menangkap kesan: muslim manapun yang berada di luar kategori di atas bukanlah muslim beneran, atau, boleh dikatakan, “muslim gadungan”.

Pada kalimat sebelumnya, dai tersebut menegaskan, “… yang dimaksudkan seorang muslim adalah ‘seorang yang berpihak kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mempunyai misi untuk memenangkan agama Islam semata-mata’.” Pernyataan ini diberi keterangan penguat: al-Taubah (9): 33, al-Fath (48): 28 dan al-Shaff (61): 9. Bunyi ayat, “huwa al-ladzî arsala rasûlahû bi al-hudâ wa dîn al-haqqi li yuzh-hirahû ‘ala al-dîni kullih”, tidak ditulis secara eksplisit, mungkin karena telah disebutkan di awal tulisan. Dan, pernyataan ini agaknya merupakan penekanan khusus terhadap bunyi “li yuzh-hirahû ‘ala al-dîni kullih”.

Begitulah, dai tersebut mengemukakan sebuah keyakinan: siapapun yang mengaku muslim harus masuk dalam barisan yang menegaskan prinsip “demi kejayaan Islam dan umatnya” atau “kemenangan Islam semata-mata”. Ini komitmen. Kalau tidak, jangan pernah mengaku muslim.

Namun, adakah muslim yang tidak menginginkan Islam berjaya? Rasanya tidak ada. Muslim manapun tentu akan bersedih jika “keluarga besar”-nya tenggelam dalam ketepurukan dan kehinaan. Setiap muslim tentu juga ingin memberi sumbangan bagi kejayaan agamanya. Pertanyaannya kemudian, apakah tidak ada masalah dalam pemahaman kita tentang “kejayaan Islam dan umatnya”?

Dalam khotbah-khotbah, ceramah-ceramah, maupun pernyataan-pernyataan pribadi tokoh agama, kita sering diingatkan tentang kejayaan dan kemenangan Islam. Kita pun mendengar lagi, dan lagi, cerita-cerita “kejayaan Islam” di masa lampau. Diceritakan bagaimana Islam merebut kembali Makkah setelah sekian lama kaum muslim tinggal di Madinah, karena diusir kaum Quraisy Makkah. Kemenangan itu kemudian diabadikan dengan istilah Fath Makkah.

Tidak hanya itu, kisah kemenangan dan kejayaan Islam dihubungkan dengan kemenangan perang-perang di era Nabi dan Sahabat. Sebutlah, perang Badar, perang Khandaq, perang Yamamah. Perang Badar paling sering kita dengar kisahnya. Kemenangan pasukan muslim yang jauh lebih kecil ketimbang pasukan musuh merupakan sebuah kisah kepahlawanan yang selalu diulang.

Begitu pula dengan kisah penyerangan ke Persia dan Romawi. Saat itu, konon, Persia dan Romawi merupakan dua kekuatan besar dunia. Rasulullah berkali-kali mengirim surat kepada raja-raja imperium raksasa itu. Penyerangan militer belum dilakukan. Pada periode-periode berikutnya, yakni masa-masa Khulafa al-Rasyidin, ekspansi ke Persia mulai dilakukan. Juga ke Romawi. Alkisah, kaum muslim berhasil menaklukkan dua kerajaan besar ini.

Demikianlah kita diberi gambaran tentang komitmen dan kejayaan Islam: komitmen terhadap kejayaan Islam yang identik dengan peperangan, penaklukan, penggempuran, dan kekuasaan politis. Gambaran macam ini tidak pernah kita persoalkan, malah kita anggap bagian dari ajaran. Maka, ketika disebutkan “kejayaan Islam dan umat Islam” (izzul Islam wal muslimin) benak kita pun langsung membayangkan penaklukan dan kekuasaan politis tersebut.

Kemudian sekarang, kita menyaksikan berbagai tindak kekerasan yang dilakukan saudara-saudara muslim kita. Mereka pun mengatakan jika apa yang dilakukan itu tak lain demi kejayaan Islam. Sebab, kini umat muslim sedang dikurung musuh dari berbagai penjuru sehingga harus segera bangkit melawan. Musuh itu ibarat Dajjal yang berkekuatan besar dan sulit diduga kedatangannya. Umat muslim harus segera keluar dari “era Jahiliah modern” menuju “zaman kejayaan Islam”.

Beberapa tokoh Islam, meski menyatakan tidak menyetujui tindak kekerasan, pun mengobarkan pentingnya “izzul Islam wal muslimin”. Tak begitu jelas apa yang dimaksudkan. Tapi, pernyataan semacam itu segera diiringi kisah-kisah tentang khilafah, negara Madinah, sistem politik Islam, dan seterusnya. Pendeknya, diiringi kisah jaya kekuasaan politis. Pun, seringkali ungkapan itu disertai analisis adanya “skenario besar” musuh-musuh Islam atau adanya kelompok yang tidak suka dan hendak menyisihkan Islam.

Jarang, bahkan mungkin tak pernah, ungkapan “izzul Islam wal muslimin” bergandengan dengan kisah-kisah saudara-saudara kita yang getol memperjuangkan kepentingan buruh, kaum miskin kota, tukang becak, pemulung, dan kaum-kaum tersisih lainnya. Yang akrab malah ungkapan-ungkapan yang mengesankan ketidakteraturan, pemberontakan, kemalasan shalat,  jauh dari Tuhan, dan sejenisnya.

Begitu pula dengan kisah saudara-saudara kita yang hendak mengembangkan khazanah pemikiran Islam. Yang sering menyertai justru ungkapan “agen Barat” atau “konco Zionis”. Muncul pula anggapan, mereka mendukung “skenario besar”, sebab mereka mendapat pendidikan di Amerika Serikat atau Eropa, atau karena mereka mengutip beberapa potong gagasan pemikir non-muslim.

Kita seakan-akan lupa, zaman kejayaan Islam yang sering disebut-sebut itu sebenarnya tidak pernah lepas dari peran golongan lain atau agama lain. Kita seolah juga tidak ingat jika ilmu Allah tidak dibatasi wilayah, komunitas, ras, warna kulit, bahkan agama. Ilmu Allah tidak pernah habis digali meskipun seluruh bentangan samudera menjadi tinta untuk merumuskannya (QS al-Kahfi [18]: 109). Dan, tokoh-tokoh “zaman kejayaan”, yang sering kita sebut-sebut, menyadari ini. Dari al-Ghazali, Ibn Khaldun, Ibn Rusyd, Ibn Bajjah, hingga Jamaluddin al-Afghani, semua memahami pentingnya pengetahuan Yunani atau Barat.

Entah kenapa, untuk “kejayaan Islam”, kita lebih tertarik pada “skenario besar” yang tak jelas juntrungnya. Tapi, kita seolah-olah lupa jika kemiskinan dan kebodohan begitu nyata di depan mata. Jadi, benarkah kita sedang memperjuangkan “kejayaan” atau malah, sebaliknya, “keterpurukan”? Mujtaba Hamdi