Kisah Pertaubatan Dua Wali yang Lalai Ketika Mencintai Perempuan

Kisah Pertaubatan Dua Wali yang Lalai Ketika Mencintai Perempuan

Dua orang ini menjadi wali karena cintanya kepada perempuan.

Siapa yang menyangka jika ternyata berawal dari mabuk cinta dan kerinduan kepada perempuan, seseorang dapat diangkat menjadi wali dan kekasih Allah SWT. Dua wali berikut ini adalah contohnya.

Pertama, Utbah Al Ghulam (عتبة الغلام بن أبان البصري)

Utbah merupakan salah satu murid dari Imam Hasan Al-Bashri. Dalam kitab Sifatul Shofwah diterangkan bahwa dia dijuluki Al-Ghulaam karena kegigihan dan kesungguhannya pada waktu masih kecil.

Read More

Sedangkan dalam Hilyatul Auliya’, diriwayatkan bahwa dia dijuluki alGhulaam karena dia seperti budak yang hidupnya hanya digadaikan untuk beribadah kepada Allah.

Diceritakan bahwa sebab taubatnya adalah pada suatu hari ketika sedang berjalan-jalan, Utbah melihat seorang perempuan yang cantik. Kecantikan perempuan tersebut membuat Utbah jatuh cinta pada pandangan pertama.

Berangkatlah Utbah mendatangi kediaman si perempuan tersebut. Sesampainya di rumahnya, Utbah pun menyatakan ketertarikannya kepada perempuan tersebut. Perempuan tersebut kemudian bertanya, “Anggota tubuhku yang mana yang Engkau anggap bagus?” Utbah menjawab,“Kedua matamu.”

Selang beberapa waktu kemudian, perempuan tersebut mencongkel kedua matanya dan menaruhnya di atas sebuah piring. Perempuan tersebut kemudian mengantarkan kedua mata tadi kepada Utbah dan berkata, “Apa yang sudah Engkau lihat, lihatlah hal itu sekarang!” Betapa terkejutnya Utbah melihat apa yang diperbuat perempuan tersebut. Utbah kemudian bangkit-tersadar dari kelalainya dan bertaubat kepada Allah. Sejak saat itu Utbah konsisten mendatangi majlis Hasan Al-Bashri rahimahuallahu ta’alaa.

 

Abdullah bin al-Mubarok (عبد الله بن المبارك)

Siapa yang tidak mengenal Ibn al-Mubarok. Waliyullah prolifik, pengarang kitab al-Arba’in fi Al-Hadits ini merupakan seorang yang sangat masyhur. Namun tahukah kalian kisah taubatnya beliau?

Abdullah bin al-Mubarok dilanda kerinduan kepada seorang gadis. Kerinduan tersebut bahkan sampai membuat hilang akalnya. Pada malam yang sangat dingin, Ibn al-Mubarok memutuskan untuk mendatangi rumah gadis tersebut. Namun, bukannya bertamu dan masuk ke dalam rumah gadis tersebut, Ibn al-Mubarok cuma berdiri di depan pagar rumah gadis tersebut. Ternyata si gadis berada di teras lantai atas.

Kedua insan tersebut kemudian saling berpandangan hingga terdengar suara muadzin mengumandangkan adzan Subuh. Dalam benak Ibn al-Mubarok, dia menyangka bahwa itu adalah suara Adzan Isya. Ternyata dia salah. Fajar tidak lama kemudian terbit. Dia tersadar bahwa itu adalah adzan untuk sholat shubuh. Dia tenggelam dalam kenikmatan menyaksikan gadis yang dia rindukan.

Tidak berapa lama kemudian dia tersadar dan mulai menyesali perbuatannya tersebut. Berkatalah dia kepada dirinya sendiri, “Apakah Engaku tidak malu, Wahai, Ibn al-Mubarok, Engkau telah membiarkan dirimu digenggam hawa nafsu dari malam hinggu shubuh menjelang?”

“Engkau berdiri terpaku di atas kedua kaki tapi tidak mengetahui bahwa ada kepala di atas kaki! Sekalipun imam memanjangkan durasi sholatnya, hal itu hanya akan menghasilkan kegusaran dan kebosanan bagi dirimu, dan Engkau tidak akan mempu berdiri untuk beribadah kepada Allah walau hanya sekejap. Seperti itukah perbuatan orang-orang mulya? Seperti itukah kehormatan dijaga?”

Hatinya kemudian dipenuhi kegundahan, kacau balau, dan serasa terbakar. Sejak saat itulah Ibn al-Mubarok menyatakan diri bertaubat kepada Allah. Menyibukkan dirinya dengan ilmu. Derajatnya diangkat oleh Allah sehingga sampai pada kesempurnaan.

Dua waliyullah di atas adalah teladan bagaimana seharusnya cinta terhadap perempuan (dunia) diletakkan. Sebesar apapun cinta kepada makhluk tidak boleh melebihi cinta kepada sang Kholik. Sehingga dapat melalaikan diri dari kewajiban manusia untuk beribadah kepada Allah SWT. Cinta kepada Makhluk adalah fana dan cinta kepada Khaliq adalah kekal selamanya.

 

Kisah disarikan dari kitab Tadzkiratul Auliyaa’, karangan Syaikh Farid al-Din Aththor Naisaabuuri