Kisah Perkenalanku dengan Dokter yang Mengharamkan Vaksin

Kisah Perkenalanku dengan Dokter yang Mengharamkan Vaksin

Kisah Perkenalanku dengan Dokter yang Mengharamkan Vaksin
Ilustrasi: moneycontrol.com

Izinkan saya mengawali tulisan ini dengan sebuah cerita. Kawan saya, sebut saja namanya Mawar. Ia berasal dari keluarga yang berkecukupan. Kehidupannya hingga masa SMA bisa dibilang baik-baik saja. Selalu bisa bersekolah di sekolah negeri dan konsisten berada di peringkat murid terbaik. Ia tidak pernah tinggal di pesantren. Demikian pula ketika ia kuliah. ia tinggal di kost yang menurut orang tuanya cukup aman dari godaan pergaulan bebas.

Program studi yang ia geluti ketika kuliah adalah kedokteran di kampus negeri. Sebuah program studi dambaan mahasiswi dan orang tua. Meskipun mahal tak mengapa. Bayangan besarnya pendapatan seorang dokter di negeri ini menjadi kekuatan mereka. Di kampus itulah ia bertemu dengan organisasi mahasiswa yang fokus pada masalah keislaman.

Kader-kader organisasi tersebut mengajak para mahasiswa dan mahasiswi baru untuk mengkaji kembali tingkat keimanan dan keislaman masing-masing orang. Terbelalak lah si Mawar. Ia yang sedari awal memang tidak pernah mesantren dan hanya mendapatkan pelajaran agama di sekolah selama dua jam pelajaran tiap minggu, menjadi tersadar bahwa dia begitu awam dalam soal keislaman.

Maka mulailah ia rajin mengikuti setiap kegiatan, kajian, dakwah, maupun daurah dari organisasi tersebut. Ia lahap semua kajiannya. Ia sepakati dan yakini. Ia pun tidak sempat menemukan pembandingnya, karena memang kabarnya pimpinan organisasi tersebut tidak mengizinkan para kader “mengaji” di tempat lain.

Tidak lebih dari 6 bulan, sukseslah dia menjadi seorang kader militan. Dia yang dulu hijabnya biasa saja, kini sudah berhijab syar’i, bahkan sebulan yang lalu ia sudah memantapkan hati untuk bercadar. Ia tinggalkan semua kegiatan yang menurutnya bid’ah, seperti ziarah ke makam kakeknya, atau mengikuti acara keluarga yang menurut dia didalamnya terkandung maksiat.

Orang tuanya tentu saja kaget. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Karena baru saja ditanyai, si anak sudah menceramahi kedua orangtuanya dengan fasih, dan tak lupa mengajak agar orang tuanya pun ikut seperti dirinya.

Ia tak sepakat dengan islamnya orang-orang di luar kelompoknya yang menurutnya berwarna-warni. Dia juga tak suka dengan berbagai pendapat terkait satu saja permasalahan dalam islam. Lebih-lebih dia tak sukai perdebatan. Baginya, islam itu satu. Semua perdebatan dalam islam mesti diakhiri dengan mengikut hanya pada satu pandangan. Yakni pandangan Al-Quran dan hadis. Menurut penafsiran siapa? Tentu saja menurut penafsiran murabbi yang dia ikuti.

Islam baginya begitu simpel. Jika tidak hitam ya putih. Jika tidak putih ya hitam. Sama seperti bilangan biner, jika tidak 0 ya 1, jika tidak 1, ya 0. Dia tidak bisa menerima keberagaman pendapat. Baginya, jika tidak salah ya benar, demikian sebaliknya. Dia tidak mengenal istilah mendekati benar, setengah benar, apalagi istilah la’alla shawab (barangkali benar) dalam penafsiran. Tidak ada.

Hal itu selaras dengan keilmuan yang ia geluti. Eksakta. Khususnya kedokteran. Baginya semuanya harus tepat. Salah diagnosa dan salah penanganan bisa bahaya. Mal praktik namanya.

Karena menurut dia jika tidak benar maka pasti salah, sementara dia sangat meyakini bahwa dirinya benar, maka mulailah ia melangkah di atas muka bumi dengan merasa bahwa orang yang tidak sepaham dengan dirinya itu salah. Mulailah ia rajin menasehati kawan-kawannya dan siapapun yang ia kenal yang masih belum berhijab untuk berhijab. “Sekedar mengingatkan”, demikian imbuhnya.

Jika dia menemukan sebuah permasalahan keagamaan, ia langsung membuka Al-Quran dan kitab hadis untuk mencari solusinya. Ia cocok-cocokkan ayat yang ada dengan permasalahan yang ia hadapi. Bagaimana dia memahami bacaan Al-Quran dan hadis? Tentu saja dari tejemahan. Ia tentu saja tak punya banyak waktu untuk mempelajari bahasa Arab dengan segala tetek bengek nahwu sharafnya. Merujuk pendapat ulama tentu saja ia enggan. Tidak murni dan berpretensi. Begitu ujarnya. Namun lain soal jika yang mengemukakan pendapat itu adalah Murobbinya. Baginya, antara dia dan Murabbi itu satu frekuensi. Sama-sama mengusung islam yang murni. Maka apapun yang dikatakan Sang Murabbi, akan ia ikuti.

Sampailah pada suatu kesempatan Murabbi mengatakan bahwa haram menggunakan vaksin pada bayi karena dikhawatirkan vaksin tersebut berasal dari babi. Itu terjadi tepat dua hari sesudah ia dikukuhkan menjadi dokter dalam prosesi sumpah profesi. Maka kini, jadilah ia dokter yang anti vaksin. Amazing, bukan?

Sebagai dokter muda, selanjutnya ia ditempatkan di daerah terpencil. Di situ ia menemukan fakta bahwa warga disitu, jika sakit, mereka akan datang kepada seorang tabib yang melakukan pengobatan menggunakan media air yang dibacai ayat Al-Quran. Awalnya ia labrak tabib tersebut. Ini suwuk. Praktik musyrik menurutnya. Namun, demi melihat tabib tersebut bercelana cingkrang dan berjidat hitam. Ia masih memberi kesempatan pada tabib tersebut untuk memberi penjelasan.tabib berkilah bahwa ini bukan suwuk, tapi rukyah, dan tak lupa tabib pun memberikan keterangan bahwa dahulu kala, Nabi pun melakukan hal tersebut.

Maka tertariklah dr. Mawar untuk mempelajari metode pengobatan tersebut. Rukyah, bekam, dan apa-apa yang diistilahkan dengan tibbun nabawi mulai ia pelajari. Genap setahun sesudah masa pengabdiannya. Sahih lah dia menjadi dokter yang anti vaksin dan lebih menganjurkan praktik pengobatan rukyah. Apalagi begitu dia dengar kabar tentang konspirasi dunia farmasi. Makin mantap lah dia untuk meninggalkan metode pengobatan moderen.

Ada yang punya kenalan yang sama?