Kisah Perang Jamal, Perang Akibat Ulah Para Provokator

Kisah Perang Jamal, Perang Akibat Ulah Para Provokator

Perang Jamal antara kelompok Aisyah dan Ali bin Abi Thalib terjadi akibat ulah provokator, harusnya kita bisa mengambil ibrah dari perang ini.

Pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin, terjadi suatu peristiwa yang menghebohkan kaum muslimin, yaitu terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan. Beliau terbunuh dalam keadaan membaca Al-Quran, hingga darah bercucuran dalam mushaf yang beliau baca.

Umat muslim dibuat heboh dengan kabar ini. Khalifah Ali bin Abi Tholib, sebagai penganti kekhalifahan berikutnya, dituntut untuk mengusut tuntas kasus pembunuhan Khalifah Ustman bin Affan.

Proses pengusutan kasus ini tidaklah mudah sehingga membutuhkan waktu yang begitu lama. Para sahabat yang resah kemudian mengadu kepada Aisyah RA. Aisyah kemudian mengirim pasukan agar datang ke Sayyidina Ali. Tujuannya adalah mengajak kerjasama penyelesaian kasus terbunuhnya Sayyidina Ustman RA.

Read More

Ketika pasukan tersebut sampai ke kediaman Sayyidina Ali RA. Beliau mengira akan ada penyerangan dikarenakan jumlah pasukan yang begitu banyak. Kesalahfahaman tersebut membuat beliau menyiapkan pasukan dan mengirim utusan untuk menanyakan tujuan pasukan yang datang tersebut. Pasukan Sayyidatina Aisyah menjelaskan bahwa kedatangan mereka untuk mengajak kerjasama pengusutan kasus pembunuhan Khalifah Ustman RA.

Setelah mendengar penjelasan tersebut, Sayyidina Ali dan pasukannya merasa senang dan menyambutnya dengan baik. Pada malam harinya, mereka tidur dengan tenang dan damai, di bawah tenda-tenda di padang pasir kota madinah.

Dalam kegelapan malam itu, ada sekelompok orang yang menyelendup, baik pasukan Ali maupun Aisyah RA. Kelompok ini adalah pengikut dari pembunuh Khalifah Ustman RA. Mereka ingin mengadu domba kedua belah pihak dengan menyusup pada masing-masing kelompok agar keberadaan mereka tidak dapat diketahui. Pasukan penyusup ini dibagi menjadi dua kelompok, satu menyerang pasukan Ali, satu lagi menyerang pasukan Aisyah.

Dalam kegelapan malam yang gelap gulita, yang terdengar hanyalah suara pertempuran dan hantaman pedang. Pasukan Sayyidina Ali mengira bahwa terjadi penyerangan oleh pasukan Sayyidatina Aisyah, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, pasukan Sayyidina Ali dan Sayyidatina Aisyah saling menyerang dan terjadi pertempuran dahsyat di kegelapan malam itu. Pertempuran ini disebut sebagai perang Jamal. Ribuan korban syahid berjatuhan. Termasuk di antaranya adalah sahabat dekat nabi, yaitu Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awaam.

Dari kisah tersebut, kita dapat mengambil hikmah bahwa fitnah dan adu domba adalah ancaman yang menggerikan bagi kaum muslimin. Sayyidina Ali RA yang merupakan sahabat dekat nabi adalah seorang khalifah, seorang yang dijamin masuk surga oleh rasul, seorang yang dijuluki rasul sebagai babul ilmi (pintunya ilmu), bisa termakan oleh fitnah pengadu domba, apalagi kita, orang-orang awam yang hidup jauh setelah kenabian, yang faqir ilmu pengetahuan keagamaan, yang belum tentu nanti meninggal dalam iman atau kekafiran (naudzubillah), tentunya kita sangat rawan terhasut fitnah oleh pengadu domba.

Pada zaman yang sudah serba modern ini, informasi dapat tersebar luas secara cepat. Jikalau zaman dahulu fitnah hanya menyebar ke seluruh kota, sekarang dalam waktu sejam-dua jam sudah bisa menyebar ke seluruh pelosok negeri bahkan luar negeri. Sehingga begitu mudahnya berita bohong menyebar ke seluruh negeri.

Ada kepuasan tersendiri bagi sang provokator apabila apa yang ia provokasi dipercaya dan diikuti banyak orang. Namun yang merugi adalah orang-orang yang terprovokasi. Seperti halnya kisah di atas, kelompok pengadu domba tersebut mendapat kesenangan dan keuntungan karena mereka tak tertangkap. Namun, yang rugi adalah kaum muslimin sendiri. Mereka tak bersalah, mereka semua syahid meninggal dijalan Allah, namun hal ini dapat melemahkan kekuatan, terpecah belah dan menimbulkan konflik berkepanjangan.

Dalam konteks perkembangan zaman saat ini, teknologi semakin maju, informasi semakin mudah tersebar, sehingga fitnah dan adu dombapun sangat mudah dilancarkan. Media sosial adalah pisau bermata dua, yang mana bisa menjadi baik apabila dipegang oleh orang baik, dan menjadi buruk apabila digunakan oleh orang jahat, terutama pengadu domba.

Ada dua topik pembicaraan yang sering menimbulkan konflik dan dijadikan bahan adu domba, terutama di Indonesia. Yang pertama adalah mengenai agama, sedangkan yang kedua adalah masalah politik. Karena dengan dua hal ini, para pengikutnya begitu fanatik sehingga bisa menjadi sasaran empuk bagi pengadu domba. Bahkan kedua hal ini sering disaut pautkan sehingga menjadi satu kesatuan, yang mana politik di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari masalah agama.

Masalah ini masih sama dari masa pembunuhan Khalifah Ustman hingga saat ini. Seharusnya kita sebagai umat muslim menyadari akan bahaya adu domba ini. Cukuplah kisah pembunuhan khalifah-khalifah pendahulu menjadi pelajaran bagi kita semua.

Di zaman yang serba canggih ini tentu lebih mudah untuk menyebar fitnah, namun kita harus membentengi diri agar tidak mudah terprovokasi dengan fitnah-fitnah yang tidak bertanggung jawab.

Wallahu A’lam