Kisah Nabi Muhammad dan Anak Yatim dalam Sebuah Lagu

Kisah Nabi Muhammad dan Anak Yatim dalam Sebuah Lagu

Pada suatu hari Nabi Muhammad SAW keluar rumah untuk menunaikan salat Eid (Hari Raya). Dalam perjalanan menuju masjid, beliau berpapasan dengan anak-anak berpakaian baru dan bagus-bagus sedang bermain dengan riang gembira. 

Nabi SAW menjumpai salah satu di antara mereka seorang anak telanjang sedang duduk menangis tersengguk-sengguk.

Nabi Muhammad SAW menghampiri anak itu dan bertanya padanya:

Read More

“Kenapa menangis?”

“Tinggalkan aku!” Bentak anak itu. Si anak tak tahu sedang berhadapan dengan Nabi SAW.

“Apa yang kau tangisi?” Nabi SAW mengulang pertanyaannya.

“Ayahku meninggal sewaktu berperang bersama Nabi. Ibuku kawin lagi dan meninggalkanku sendiri. Ia merampas rumahku dan mengambil seluruh milikku. Aku hidup sebatang kara. Tanpa pakaian, tanpa makanan. Ketika aku menyaksikan kawan-kawanku berbahagia di hari raya ini, hatiku bertambah sedih. Karena itu aku menangis”

“Maukah kamu menjadikanku sebagai ayahmu, Aisyah sebagai ibumu, Fatimah sebagai bibimu, Ali sebagai pamanmu, Hasan dan Husein sebagai saudaramu?” Kata Nabi SAW sambil memeluk anak itu dan membawanya ke rumah beliau.

Itulah kira-kira cerita dalam lagu “Qishohtu al-Nabi Maal Yatim” (Kisah Nabi bersama Seorang Yatim) yang dinyanyikan Dorsof Hamdani, seorang penyanyi sekaligus musikolog dari Tunisia. Meskipun tidak sepenuhnya sama persis, syair lagu ini disadur dan diadaptasi dari hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Basyar bin Aqrabah:

“Ayahku mati Syahid ketika berperang bersama Nabi SAW. Nabi SAW lewat di depanku ketika aku sedang menangis. ‘Diam!’ Ujar Nabi ‘Maukah kau menjadikanku ayah dan Aisyah ibumu?’ Aku mengiyakan. [HR Bukhari]

Itulah akhlak Nabi SAW. Sebagai Manusia Agung yang dilahirkan yatim, Nabi Muhammad SAW merasakan betul bagaimana rasanya hidup tanpa ayah dan ibu.  Karena itu banyak sekali hadis nabi yang menceritakan kelebihan dan keutamaan anak yatim. Kita tidak boleh menghardik anak yatim, mengambil hartanya, apalagi sampai mengeksploitasinya untuk kepentingan tertentu, semisal mendirikan Panti Asuhan untuk mengambil keuntungan pribadi. Naudzubillah.

Semoga di Hari kelahirannya ini (Maulid Nabi) kita bisa belajar dan meneladani akhlak mulia Kanjeng Nabi Muhammad SAW.