Kisah Kesabaran Seorang Ulama, Meski Anaknya Dimangsa Binatang Buas

Kisah Kesabaran Seorang Ulama, Meski Anaknya Dimangsa Binatang Buas

Kisah Kesabaran Seorang Ulama, Meski Anaknya Dimangsa Binatang Buas
Ilustrasi seseorang yang sedang merenungi diri.

Salah seorang yang terkenal bijak bestari (sebut saja bernama Ahmad) pernah melakukan perjalanan ke sebuah ribat (tempat berkumpulnya para sufi). Saat sampai di Mesir, ia melihat ada sebuah kemah yang dihuni oleh seorang yang buta dan tak memiliki tangan dan kaki sama sekali (anggap saja Fulan).

Dalam keadaan yang sedemikian menyedihkan itu, Ahmad masih mendengar Fulan memanjatkan pujian dan rasa syukur kepada Allah, yakni syukur atas kondisinya yang dirasanya masih lebih baik daripada orang lain.

Ahmad mendekati Fulan dan berkenalan dengannya. Ia bertanya kepada Fulan apakah ia berkenan menjawab pertanyaannya. Fulan menjawab, “Jika aku tahu, maka akan aku jawab”.

Ahmad pun mengajukan pertanyaan, “Atas nikmat macam apa sehingga kamu masih bisa bersyukur? Padahal, musibah yang kamu alami sudah sangat besar”.

Fulan tak menjawab. Ia justru balik bertanya kepada Ahmad, “Apakah engkau tidak melihat bagaimana Allah berbuat kepadaku?”.

“Iya, tentu saja,” jawab Ahmad.

Fulan pun meneruskan kata-katanya. Ia bercerita banyak hal. Intinya adalah seandainya ia diberi cobaan yang lebih berat dari yang dia alami saat ini, ia tetap—dan bahkan akan semakin—cinta dan memuji Allah Swt. Dalam kesempatan kali itu, ia pun meminta tolong kepada Ahmad untuk melakukan satu hal.

“Saya memiliki seorang anak yang setia membantu saya ketika saya akan melakukan shalat dan berbuka puasa. Namun ia tak ada sejak kemarin. Maukah kamu menolongku untuk mencarinya?” tanya Fulan.

Ahmad pun bersedia. Ia langsung berangkat mencari anak Fulan yang hilang itu. Hingga akhirnya ia sampai pada sebuah bukit pasir. Di sana ia melihat anak itu sedang dimangsa oleh seekor binatang buas. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un,” katanya. Ia lantas mencari solusi bagaimana cara menyampaikan berita duka ini kepada Fulan, agar tak bertambah beban hidupnya.

Sekembalinya dari bukit pasir dan membawa jenazah anak si Fulan, Ahmad bertanya kepada Fulan, “Wahai Fulan, siapakah yang lebih baik, engkau atau Nabi Ayub?”

“Tentu Nabi Ayub as.,” jawab Fulan.

“Bukankah Allah menguji Nabi Ayub as. dan dia tetap bersabar, padahal ia juga dijauhi oleh orang-orang dekatnya?” kata Ahmad mengajukan pertanyaan lagi.

“Iya,” jawab Fulan singkat.

Ahmad akhirnya memberanikan diri untuk menceritakan ihwal anak Fulan yang meninggal dimangsa binatang itu. Anehnya, Fulan sama sekali tak bersedih. Ia justru mengucapkan pujian kepada Allah yang telah menjadikan hatinya tak bersedih meratapi dunia. Fulan menarik nafas sejenak dan kemudian meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Kini, hanya ada Ahmad seorang diri. Ia bingung bagaimana cara mengurus jenazah Fulan dan anak itu. Tak lama setelah itu, sebuah kafilah lewat di depannya. Terjadilah percakapan di antara Ahmad dan orang-orang itu. Ahmad menceritakan semua hal yang telah terjadi dan kafilah itu akhirnya berkenan membantunya mengurus kedua jenazah tersebut. Setelah selesai, kafilah itu melanjutnya perjalanan. Sedangkan Ahmad masih di sana.

Malam harinya, ia bermimpi melihat Fulan sedang berada di sebuah taman hijau. Kala itu, Fulan memakai sutera hijau dan sedang membaca Al-Qur’an. Ahmad bertanya, “Bukankah kamu adalah Fulan?”

“Iya,” jawab Fulan singkat.

“Ibadah apa yang kamu lakukan sehingga kamu mendapatkan kenikmatan luar biasa seperti ini?” tanya Ahmad penasaran.

Fulan menjawab bahwa ia adalah orang yang selalu bersabar ketika mendapat ujian dan bersyukur ketika kesejahteraan.

Kisah ini ditulis oleh Ibnu Jauzi dalam kitab ‘Uyun al-Hikayat, Lewat kisah ini kita bisa belajar betapa pentingnya memiliki sifat sabar. Ia (sabar) memang kalimat yang mudah diucapkan namun berat dilaksanakan. Semoga Allah anugerahkan kepada kita kemampuan untuk selalu bersabar. Amin.

Sumber:

Ibn al-Jauzi, Jamaluddin Abi al-Farj bin. ’Uyun al-Hikayat. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2019.