Kisah Karamah Umar bin Khattab di Hari Jumat

Ilustrasi: Screen Capture film Umar.

Kisah Karamah Umar bin Khattab di Hari Jumat

Sebagai sahabat Rasulullah SAW, Umar bin Khattab pernah melakukan hal aneh (karamah) saat khutbah di hari Jumat.

Selain sebagai khalifah kedua, pengganti Abu Bakar, Umar bin Khattab merupakan seorang khalifah yang dipercaya memiliki beberapa karamah.

As-Suyuthi dalam kitab Tarikh al-Khulafa menyebutkan beberapa karamah sayyidina Umar bin Khatab beserta riwayatnya. Bahkan bisa dikatakan bahwa semua riwayat terkait kisah dan karamah Umar bin Khatab dalam Tarikh Khulafa bersanad sahih dan hasan.

Beberapa di antara karamah sayyidina Umar bin khatab, suatu hari, tepatnya di hari Jumat, Umar bin Khatab memimpin khutbah Jumat sebelum pelaksanaan shalat Jumat. Anehnya, ia malah tidak langsung menyampaikan khutbah seperti biasanya. Tiba-tiba ia meneriakkan kata “Ya sariyyatal jabal” sebanyak tiga kali.

Read More

Para jamaah yang hadir pada saat itu pun merasa aneh. Bahkan ada sebagian orang yang menganggap bahwa Umar sedang gila.

Kemudian datanglah Abdurrahman bin Auf menenangkan Umar dan beberapa jamaah shalat jumat yang hadir. Abdurrahman bin Auf mencoba mengklarifikasi ucapan Umar tentang sariyyatul jabal yang mengakibatkan beberapa orang mencela umar.

Umar pun dengan santai menjawab: “Saya mendapati pasukan muslim berperang. Sedangkan musuh mengepung mereka dari berbagai tempat. Ketika saya mengucapkan ya sariyyatal jabal, saya berharap para pasukan untuk menuju ke arah gunung.”

Ternyata ucapan Umar kepada Abdurrahman bin Auf ini benar adanya. Hal ini dibuktikan dengan datangnya utusan dari pasukan yang berperang kepada Umar satu bulan kemudian.

Utusan itu pun bercerita bahwa ketika mereka berperang pada hari jumat, tiba-tiba mereka mendengar suara kencang yang meneriakkan kata-kata “ya sariyyatal jabal” sebanyak tiga kali. Kemudian para pasukan muslim pun bergerak menuju gunung dan akhirnya mereka berhasil mengalahkan musuh dan memenangkan peperangan.

Padahal peperangan tersebut berada di Nahawand, yakni negeri di luar tanah Arab. Sedangkan posisi Umar pada saat berkhutbah adalah di Madinah.

Wallahu a’lam.