Kisah Inspiratif Temple Grandlin, Anak Autis yang Jadi Profesor

Kisah Inspiratif Temple Grandlin, Anak Autis yang Jadi Profesor

Kisah Profesor Temple Grandlin ini mengingatkan kita untuk tidak meremehkan anak autis

Siapa bilang anak autis tak punya masa depan? Penelitian terbaru mengungkapkan anak-anak autis ternyata kebanyakan mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi. Tapi karena tak mampu bersosialisasi, kecerdasannya tak terlihat. Bahkan, terlihat bodoh. Padahal, bila tahu cara mendidiknya, kecerdasan anak-anak autis akan tampak. Salah seorang penderita autis yang cerdas itu adalah Profesor Temple Grandin, ahli psikologi hewan dari AS.

Betapa kagetnya Richard Grandin dan Eustacia Cutler, ketika anak pertamanya yang baru berusia 3 tahun dinyatakan terkena autis oleh dokter. Saat itu Grandin gelap memikirkan bagaimana masa depan putrinya. Si sulung yang lahir 3 Desember 1947 ini ternyata perkembangan sarafnya terganggu sehingga tidak mampu berkomunikasi normal dengan orang lain. Temple suka menyendiri dan kadang berperilaku aneh. Ia tak mau disentuh, pendiam, dan pemarah.

Seiring berjalannya waktu, gejala autis Temple pun semakin parah. Dokter berpendapat ia mengalami kerusakan otak dan harus menerima perawatan jangka panjang. Bahkan Ayahnya ingin agar Temple dirawat di “rumah rehabilitasi” penyakit saraf seumur hidup.

Read More

“Ayah saya ingin menempatkan saya di sebuah rumah perawatan seumur hidup untuk anak autis,” jelas Temple Grandin, yang kini lebih dikenal sebagai profesor ilmu psikologi hewan di Colorado State University. Meski ayahnya putus asa, tapi ibunya tidak.

“Putri saya masih punya harapan. Saya yakin putri saya adalah anak yang cerdas,” kata Eustacia, sang ibu. Eustacia pun mengirim putrinya ke terapi wicara dan menyewa pengasuh untuk menghabiskan waktu berjam-jam tiap hari dengan bermain game dengannya. “Ketika saya masih sangat muda, saya tidak berbicara, tidak memperhatikan atau melakukan kontak mata sama sekali dengan orang lain. Saya hanya akan bersenandung sendiri dan menggiring bola pasir di tangan,” kenang wanita 69 tahun ini.

Menurut Temple, memberikan banyak waktu untuk bersama lebih dini sangat penting untuk anak autis. Hal itu dapat menghentikan sang anak mengisolasi diri dan membuat perubahan di otaknya.

Sang ibu merasa yakin bahwa dengan interaksi yang cukup, Temple dapat dilatih untuk belajar berperilaku ‘normal’. Tak hanya belajar berbicara, Temple pun diajari sopan santun. Pada usia 5 tahun, sang ibu mengajarkan dengan sedikit memaksa kepada Temple untuk dapat menempatkan serbet di pangkuan, lalu menata sendok dan garpu dengan benar.

Menurut Temple, anak-anak autis zaman sekarang terlalu banyak dimanja sehingga menyebabkan sensory-nya overload. Akibatnya mereka panik berlebihan. “Jika Anda tidak menekan sedikit, maka tidak akan ada kemajuan apapun,” jelas Temple.

Keluarga Grandin kemudian mengirim Temple ke sekolah swasta yang memberi perhatian lebih kepada penderita autis. Di sekolah itu, ada satu kelas yang benar-benar membuat Temple merasa senang, yaitu kelas berkuda dan laboratorium ilmu pengetahuan. Kuda rupanya sangat memikat hatinya. Temple amat suka dengan kuda dan sering bermain ke tempat peternakan kuda. Kebetulan bibinya punya peternakan kuta.

Bersahabat dengan kuda menjadi titik balik bagi Temple. Bukan saja ia bisa merawat kuda bibinya, tapi ia juga mulai merasakan ikatan khusus dengan ternak, yang membuatnya merasa lebih damai ketimbang harus berinteraksi dengan orang lain. Jika Dr Doolittle dapat berbicara dengan hewan, maka Temple dapat berpikir seperti apa yang hewan pikirkan. Setelah bisa bersahabat dengan kuda, Temple pun mendekati sapi. Ternyata ia menemukan bahwa sapi sama seperti dirinya, resah dengan suara dan gerakan yang tak terduga. Namun dengan tekanan yang sesuai, sapi bisa tenang. Terpesona dengan kondisi itu, Temple membujuk bibinya agar diperbolehkan mencoba memerah susu sapi. Ternyata, memerah sapi dapat menenangkan gejolak saraf Temple. Dari pengalaman memerah susu sapi inilah, Temple kemudian membuat mesin pemerah susu.

Pelan tapi pasti, Temple pun mulai bisa belajar dengan baik. Ia mengaku di SMA adalah masa yang paling sulit. Tapi ia bisa bertahan. Lulius SMA, Temple mengambil kuliah psikologi di Franklin Pierce University, New Hampshire. Lulus psikologi, Temple melanjutkan kuliah pascasarjana di Arizona State University, mendalami ilmu perilaku hewan.

“Tinggal di sebuah kamar bersama dengan orang lain di asrama adalah bagian tersulit dalam perjalanan hidup saya. Mesin pemerah susu dibuang oleh teman sekamar karena dianggap berantakan,” kenang Temple.

Beruntung, Temple sudah bisa mengendalikan emosinya. Temple yang dulu pemarah, sudah berubah. Ia bisa mengendalikan kemarahannya.

Ketika melakukan penelitian, Temple mulai merasakan bahwa ternak dan hewan lainnya sama seperti dirinya, mengandalkan petunjuk visual untuk mengarahkan i dunia mereka. “Hewan adalah pemikir sensorik. Mereka berpikir dalam gambar, juga dalam bau dan suara,” jelas Temple.

Dengan perspektif yang unik, Temple pun mulai menulis artikel untuk majalah ternak yang terkenal. Selanjutnya, dia mengalihkan perhatiannya ke rumah pemotongan hewan, merancang sistem penyembelihan ternak yang lebih manusiawi.

Luar biasanya, kini lebih dari setengah ternak di AS dan Kanada ditangani dengan fasilitas yang dirancang oleh Temple. Ia juga bekerja sebagai konsultan bagi McDonald, perancangan dan pelaksanaan program-program kesejahteraan hewan.

Anak autis ini mampu mengubah industri peternakan Amerika, lalu menjadi juru bicara autisme dan mengajar mahasiswa PhD di Colorado State University. Dr Temple Grandin juga menulis sepuluh buku, tentang hewan dan perilaku manusia. Atas jerih payahnya itu, ia pun diangkat menjadi guru besar psikologi hewan.

Luar biasa!

Apa yang dapat kita ambil dari kisah di atas? Ternyata benar, anak-anak autis mempunyai potensi kecerdasan yang lebih. Masalahnya bagaimana mengaktualkan kecerdasan itu! Orang tua harus telaten dan selalu mencari jalan terbaik untuk mendidik anak autis. Gadis kecil penderita autis yang kini menjadi Prof. Dr. Temple Grandin adalah contoh keberhasilan orang tua dalam mendidik anaknya yang menderita gangguan saraf otak itu.

Dari kisah di atas, kita sebagai manusia jangan putus asa jika mendapatkan “sesuatu” yang tidak sesuai keinginan kita. Boleh jadi, Tuhan sedang menguji – bagaimana cara bersyukur kita – bila Tuhan memberikan sesuatu. Sesuatu itu, bisa keberuntungan, bisa pula musibah.

Bagi orang yang selalu bersyukur – pinjam Rendra, musibah dan keberuntungan sama saja. Kisah hidup Prof. Temple Grandin memberikan pelajaran, betapa hidup itu harus optimis dan berusaha untuk mensyukuri pemberian Tuhan. Dan mensyukuri adalah mengaktualkan semua potensi yang ada dalam diri agar bermanfaat untuk orang lain.