Kisah Annalise yang Muallaf & Betapa Malu Saya Menjadi Muslim atas Sikap Baiknya

Kisah Annalise yang Muallaf & Betapa Malu Saya Menjadi Muslim atas Sikap Baiknya

Ini kisah mualaf Annalise yang saya temui ketika di Inggris

Kisah Annalise yang Muallaf & Betapa Malu Saya Menjadi Muslim atas Sikap Baiknya

“Happy Ramadan sis!” pesan pendek via facebook itu saya terima dari seorang kawan nun jauh di Inggris sana. Namanya Annalise. Usianya jauh lebih muda 4 tahun dari saya, namun ia punya pembawaan ramah seperti orang dewasa. Ia warga lokal yang memeluk islam ketika masih belajar di High School. Saya bertemu dengannya ketika magister di salah satu kampus di Britania.

Nah, teks singkat tadi mengingatkan saya betapa banyak pelajaran yang saya petik darinya.  Sebagai mualaf, Annalise tak canggung berkawan dengan siapa saja dalam komunitas muslim di kampus. Padahal ia sendiri bukan seorang mahasiswi. Sehari-hari ia hanya membantu ibunya di rumah karena kondisi kakinya menyulitkan ketika ia bekerja. Ibaratnya, jika manusia dewasa normal sudah bisa berjalan sepuluh langkah, dengan kecepatan yang sama, semaksimal-maksimalnya ia hanya bisa separonya saja.

Sedangkan untuk urusan kuliah, sejujurnya ia berharap dapat berstatus resmi sebagai mahasiswa. Beberapa kali sudah ia mencoba mengikuti ujian masuk dan mengirimkan data dirinya. Namun apa daya, hingga kini belum ada berita baik yang ia terima dari satu kampus sekalipun. Menariknya, segala ujian, kekurangan, dan keterbatasan kondisi fisik tadi tidak membuatnya rendah diri, bahkan hal itu tidak menghalanginya untuk terus aktif menuntut ilmu dan mendalami islam.

Tiap kali Islamic Society/ISOC, sejenis Rohis di kampus saya mengadakan salat jumat, kajian rutin, atau acara lainnya, ia akan berusaha untuk datang meski harus berjalan tertatih-tatih dari rumahnya. Pernah suatu kali saat Idul Adha, ia tiba di aula besar tempat penyelenggaraan sholat dengan terengah-engah. Wajahnya bercucuran keringat .

“I found no bus,” katanya sengau sembari menampakkan kekecewaan karena ternyata sholat ied telah usai. Jamaah pun mulai berhamburan keluar untuk sekadar mengobrol dan menyapa satu sama lain.

“It’s fine. Allah has rewarded you for your intention and your efforts,” hibur saya padanya agar ia kembali tersenyum.

Ia lalu mengangguk pelan dan masih terlihat sulit menyembunyikan penyesalannya yang melewatkan ied. Setelah berbincang agak lama, saya tahu bahwa ia semalam telah berusaha meminta tolong orangtuanya untuk mengantar ke kampus pagi ini, namun saat akan berangkat, ternyata mereka masih terlelap dan ia segan untuk membangunkan orangnya.

Melihat kondisi tersebut, ia pun memutuskan untuk berjalan kaki saja dari rumah. Padahal jarak rumahnya dengan kampus cukup jauh. Bila orang biasa mungkin membutuhkan waktu setengah jam, Annalise bisa dua kali lipatnya.  Sayangnya, ketika telah sampai di tempat penyelenggaraan salat, sang imam telah mengucapkan salam, pertanda salat selesai dikerjakan.

Melihat dan mendengar perjuangannya, saya malah tertunduk. Betapa banyak nikmat sehat yang sering kita sepelekan. Orang yang harus tertatih-tatih dan perlu mengeluarkan energi dua kali lipat saja masih mau bersusah payah beribadah, kenapa kita yang dianugerahi kekuatan fisik yang lengkap, justru berleha-leha?

Memeluk Islam di tengah keluarga yang memiliki keyakinan berbeda tentu menjadi suatu tantangan tersendiri. Syukurlah, keluarga Annalise tidak hanya menerima keputusannya menjadi muslim, tapi ia juga didukung penuh untuk melaksanakan ibadah.

Saat Ramadan lalu, beberapa kali ayah dan ibunya bergantian mengantarnya untuk berbuka bersama di kampus.  Kemudian menjemputnya pulang meski tarawih baru usai sekitar jam setengah 12 malam. Saya sempat menemui dan mengobrol dengan ibunya di parkiran mobil, sembari menyampaikan respek saya pada beliau.

Melihat orang tua Annnalise, saya terharu akan sikap mereka yang justru mendorong Annalise mendalami agama barunya dengan sepenuh hati, padahal mereka sendiri bukan muslim. Usai menjabat erat tangan ibunya, beliau kemudian membalas dengan senyuman tulus dan ucapan terima kasih. Dengan nada lemah lembut, ia pun mengucapkan syukur, Annalise memiliki teman-teman baik yang mau menemani putrinya beribadah.

Kini, ketika saya kembali ke tanah air dengan durasi puasa yang jauh lebih pendek dan kondisi lingkungan yang jauh lebih mendukung dalam beribadah, saya pun tersadar bahwa banyak kenikmatan dan kenyamanan di negeri mayoritas muslim yang justru sering saya sepelekan.

Tak terbayangkan bila saya di posisi seperti Annalise, apakah saya mampu memupuk semangat untuk terus mendalami dan menerapkan nilai-nilai ajaran Islam secara hakiki? Saya juga sangat yakin, penerimaan keluarga Annalise tentu tidak terlepas dari bagaimana ia menginternalisasi ajaran Islam dan kemudian menerapkan akhlak terbaiknya kepada semua anggota keluarganya saat di rumah.

Dari seorang Annalise, saya seperti dipahamkan bahwa dakwah terbaik, terutama kepada lingkungan terdekat, tidaklah cukup dengan menggurui maupun mengandalkan lisan semata, tapi juga dengan sikap dan perbuatan yang mencerminkan sunnah Rasul. Bukan malah merasa sok suci, apalagi kemudian menjaga jarak dengan orangtua karena merasa ia jauh lebih paham agama, padahal baru belajar singkat dari akun-akun dakwah medsos yang mengaku paling Islami.