Kisah Adu Mulut Bilal dan Abu Dzar al-Ghifari karena Beda Pendapat

Ilustrasi marah (tradingpsychologyedge.com)

Kisah Adu Mulut Bilal dan Abu Dzar al-Ghifari karena Beda Pendapat

Adu mulu karena beda pendapat sudah jauh-jauh hari terjadi, bahkan di masa sahabat Rasulullah SAW

Siapa sangka bahwa kehidupan para sahabat Rasulullah mulus tanpa ada catatan-catatan kesalahan, perselisihan, dan perbedaan pendapat.

Lika liku kehidupan pasti akan dialami oleh siapa pun selama ia masih disebut manusia. Tak terkecuali para sahabat Rasulullah SAW. Di antaranya percekcokan yang terjadi antara Abu Dzar al-Ghifari dengan Bilal bin Rabah. Begini ceritanya:

Suatu hari, para sahabat berkumpul di suatu majlis yang tidak dihadiri Rasulullah SAW. Di majlis tersebut ada beberapa sahabat senior di antaranya Khalid bin Al-Walid, Abdurrahman bin Auf, Abu Dzar Al-Ghifari dan Bilal bin Rabah.

Read More

Suasana mulai memanas ketika orang-orang mulai mengemukakan pendapatnya tentang suatu masalah. Abu Dzar, salah satu yang hadir dalam majlis tersebut juga mengemukakan pendapatnya, “Saya usul agar para pasukan melakukan ini dan itu.” Bilal menyahut, “Usul Anda kurang tepat.”

Mendengar Bilal menyalahkan pendapatnya, Abu Dzar kesal lantas berkata, “Engkau juga menyalahkanku wahai anak budak hitam?” Bilal tersinggung, marah lalu pergi sambil berkata, “Demi Allah, akan aku laporkan anda kepada Rasulullah.”

Sesampai di rumah Rasulullah, Bilal mengadu, “Ya Rasulallah, tidakkah anda mendengar apa yang dikatakan Abu Dzar kepada saya?” Rasulullah menjawab, “Apa yang dikatakan Abu Dzar kepadamu?” Bilal menjawab, “Dia memanggilku anak budak perempuan hitam.” Rasulullah marah, lalu memanggil Abu Dzar, dan Abu Dzar segera pergi ke masjid untuk menemui Rasulullah.

Sesampai di masjid, ia mengucapkan salam, dan Rasulullah pun menjawab salamnya. Rasulullah lalu bertanya, “Wahai Abu Dzar, benarkan engkau menghina ibu Bilal? Sungguh di dalam dirimu masih terdapat perilaku jahiliyah.”

Abu Dzar menangis lalu meminta maaf kepada Rasulullah dan memohon agar dimintakan maaf kepada Allah. Setelah itu, ia keluar dari masjid dalam keadaan menangis, dan segera menemui Bilal. Setelah bertemu Bilal, ia meletakkan pipinya di tanah sambil berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mengangkat pipiku sebelum engkau menginjaknya agar engkau memaafkanku.”  Bilal berkata, “Anda lebih mulia dari saya.” Bilal terharu melihat sikap Abu Dzar, lalu mereka berpelukan sambil menangis.

Rujukan: Aidl Al-Qarni, Mashari’ Al-‘Isyaq. Beirut: Dar Ibnu Hazm, t.th.