Kiai Politik dan Politik Kiai

Kiai Politik dan Politik Kiai

Kiai Marzuki adalah murid Kiai karismatik Abuya Dimyati Cidahu, Pandeglang, Banten. Sebagai alumni Pesantren Cidahu, belakangan ia merasa kurang “sreg” melihat salah satu putra kiainya mondar mandir keluar masuk istana, aktif dalam partai politik, sekaligus menjadi “ulama pemerintah”. Kekurang sreg-an ini ia simpan di hati

Suatu malam Kiai Marzuki bermimpi mobilnya mogok di suatu tempat yang ia merasa sangat mengenal tempat itu. Sambil menunggu mobilnya diperbaiki bengkel, ia mengelilingi tempat itu yang ternyata sebuah pesantren. Ia memasuki kobong-kobong (bilik kamar) santri, mengambil air wudlu di jeding (kulah) santri dan shalat dua rakaat di mushala pesantren.

Selesai shalat Kiai Marzuki dipanggil-panggil montir mobil dan segera menghampiri pemilik bengkel. Namun, ketika mau membayar ongkos perbaikan mobil, ia terkaget-kaget karena pemilik sekaligus montir mobilnya adalah putra kiaianya, Abuya Muhtadi. Ia memakai peci putih, rambut dan brewoknya sudah berwarna putih dan seluruh pakaiannya blepotan terkena oli.

Read More

Kiai Marzuki terbangun. Ia terus menerus mengucap istighfar dan berkali-kali tawasul kepada Abuya Dimyati.

“Saya kapok mensuuzani kiai. Abuya Dimyati ini memang ‘landep’ (tajam). Saya langsung ditegur dikasih isyarah lewat mimpi. Saya percaya anak seorang waliyullah pasti dilindungi doa ayahnya,” kata Kiai Marzuki

Sebagaimana isyarat dalam mimpi, saya yakin Abuya Muhtadi ini masuk dunia politik bukan untuk kekuasaan, popularitas, apalagi tujuan duniawiyah (materi).

“Jangan samakan dengan kita kita yang masih muda. Orang seperti beliau memasuki pusat kekuasaan untuk membenahi dari dalam, seperti montir mobil yang diisyaratkan dalam mimpi,” ujarnya

Orang yang bekerja di dunia kotor, lanjut Kiai Marzuki, pasti akan terkena kotoran. Tapi kotoran itu tak akan sampai mengotori hati dan tubuhnya karena sejak awal niatnya sudah bersih, tulus, dan ikhlas.

Tampaknya darah politik mengalir dari ayahnya. Di masa Orde Baru Abuya Dimyati, tutur Kiai Marzuki, pernah menjadi Jurkam partai politik (PPP). Beliau kemudian ditangkap dan dijebloskan penjara. Di penjara beliau membaca hizib dan menyebabkan seluruh sipir penjara terkena diare (mencret). Beliau akhirnya dikeluarkan. Sejak saat itu Sang Kiai mundur dari dunia politik dan memilih istiqamah di pesantren.

Abuya Dimyati tak silau terhadap harta dan kekuasaan. Abuya istirahat dan tinggal di kobong mushalanya. Wakil Presiden Sutrisno dan Habibi pernah bertamu dan disuruh menunggu lantaran Sang Kiai sedang mengaji. Gus Dur adalah salah satu muridnya.