Kiai dan Santri Jaga Jarak, Akankah Tradisi Pesantren Berubah?

Kiai dan Santri Jaga Jarak, Akankah Tradisi Pesantren Berubah?

Pandemi Covid-19 membuat banyak pesantren meliburkan kegiatan pendidikannya. Kiai dan santri terkendala physical distancing. Akankah tradisi pesantren berubah?

Kiai dan Santri Jaga Jarak, Akankah Tradisi Pesantren Berubah?

Dalam dunia pesantren, hubungan seorang santri dengan kiai bisa diungkapkan salah satunya melalui tradisi sowan, nyabis, dan silaturahmi. Menjadi kebahagian tersendiri bagi seorang santri ketika ia bisa bertatap muka langsung dengan sang kiai, mencium tangannya, berjumpa fisik sambil menerima nasihat dan wejangan dari sang guru.

Sebuah syair Imam Syafi’i yang sangat populer di kalangan santri menegaskan, ada enam hal yang harus dimilliki seorang pencari ilmu untuk mendapatkan apa yang dia cari: kecerdasan, kegigihan, kesabaran, dana penunjang, arahan guru, dan waktu yang cukup (dzaka’un wa hirshun wa ishtibarun wa bulghatun wa irsyadu ustadzin wa thulu zamani).

“Arahan guru” atau petunjuk kiai menjadi lokus utama dalam dunia pesantren, sebab kiai adalah role model. Kiai adalah panutan sekaligus titik sentral dalam pendidikan pesantren. Seorang santri, ketika ia memutuskan untuk belajar di sebuah pesantren, seringkali hanya terpikat oleh satu sosok: pengasuh pesantren. Kiai adalah mata air tempat para santri memasrahkan “kehidupan intelektual” mereka selama tinggal di pesantren. Hubungan kiai-santri tidak sekedar merefleksikan hubungan guru-murid, tapi juga menggambarkan relasi bapak-anak. Seorang kiai senantiasa aware dan perhatian terhadap kondisi, perilaku, dan perkembangan intelektual santrinya.

Imam Al-Ghazali pernah menulis sebuah kitab wejangan yang beliau dedikasikan untuk murid-muridnya, dengan judul yang meneguhkan kedekatan psikologis antar mereka. Kitab tersebut berjudul Ayyuhal Walad al-Muhib (Wahai Anakku Tercinta). Lihat, betapa sang Imam menganggap santri-santri beliau sebagai “anak”. Ungkapan ini adalah contoh bagaimana seorang guru memosisikan anak didiknya dengan cara yang sangat intim dan tidak mengambil jarak dengan mereka.

Saya teringat kata-kata Kiai Abdul Hamid, Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan tentang relasi kiai-santri. Beliau berkata, “Aku tidak akan menjadi pengasuh pesantren, hingga aku bisa melihat santri-santriku seperti aku melihat ikan di akuarium.” Artinya, perhatian seorang kiai kepada para santrinya juga menjangkau hal-hal kecil dalam keseharian mereka, “hidup dan matinya”. Begitulah salah satu gambaran kedekatan hubungan kiai dan santri.

Maka tidak heran jika banyak yang khawatir bahwa (penanggulangan) penyebaran wabah covid-19 saat ini—yang salah satu jargon keselamatannya adalah physical distancing (jaga jarak)—akan mengubah pola hubungan kiai-santri, setidaknya untuk sementara waktu. Relasi kiai-santri dibatasi oleh protokol yang sangat ketat. Sebagian besar pesantren bahkan melakukan lockdown dan melarang santri maupun wali-santri untuk sowan ke pesantren, memasuki area pesantren. Pesantren pun dikosongkan. Tradisi khataman yang biasa dilakukan selama bulan Ramadan ditiadakan. Wabah ini berhasil membangun jarak antara kiai dan para santri, merusak sebagian sendi hubungan intim di atas.

Jaga jarak menjadi semacam “wabah” baru di tengah wabah covid-19 yang menghalangi seorang santri melakukan perjumpaan fisik dengan sang guru.

Tradisi sorogan adalah bukti konkret bagaimana hubungan kiai-santri terbangun secara akrab dan dekat di pesantren. Tradisi ini sudah lama sekali dikenalkan dan dilestarikan di dunia pesantren. Dengan metode ini, seorang santri mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung kepada ustad atau kiai, terutama terkait dengan kemampuan membaca kitab kuning. Sorogan adalah wujud pendidikan partisipatif yang dilakukan kiai atau ustad untuk mendidik anak didiknya secara langsung dan mendalam. Saat ini, akibat penyebaran pandemi covid-19, tradisi sorogan hampir mustahil dilakukan.

Metode lainnya adalah wetonan atau bandongan, di mana para santri secara kolektif menyimak penjelasan sang kiai terhadap sebuah kitab kuning. Meskipun dilakukan dalam skala yang umum, dengan peserta ngaji yang banyak, metode wetonan juga meniscayakan perjumpaan fisik kiai-santri, setidaknya dalam area yang terbatas. Kitab kuning berbahasa Arab disampaikan oleh sang kiai dengan pemaknaan tradisional dalam bahasa lokal (semisal Jawa, Madura, atau Sunda) dan disimak oleh para santri.

Dalam kondisi normal, dua metode ini masih merupakan metode yang lazim digunakan di dunia pesantren hingga saat ini, di tengah metode-metode pendidikan modern yang berkembang. Tapi apa yang bisa dilakukan di tengah pandemi?

Menurut Zamakhsyari Dhofier (1982), ada lima elemen dasar yang menjadi tiang penyangga kehidupan pesantren. Pertama, pondok sebagai asrama dan tempat tinggal para santri. Kedua, masjid sebagai titik sentral pendidikan. Masjid atau surau biasanya menjadi bangunan pertama yang dibangun ketika seorang kiai menggagas sebuah pesantren. Ketiga, kitab kuning sebagai referensi utama pendidikan. Keempat, santri sebagai peserta didik. Kelima, kiai sebagai sosok utama yang berada di balik kelestarian sebuah pesantren.

Di antara lima elemen di atas, kiai dan santri adalah elemen aktif, living factor, yang menggerakkan dan menghidupkan elemen-elemen lain. Kitab kuning, masjid, dan asrama hanyalah infrastruktur: mereka bergantung kepada sejauh mana usaha kiai dan santri mengoptimalkan serta mengorkestrasikannya. Nah, jika hubungan antara kiai dan santri sejenak “dirusak” oleh budaya jaga-jarak akibat pandemi saat ini, lalu bagaimana nasib kehidupan pesantren pasca-covid-19 di masa mendatang?

Wallahu a’lam. [rf]