Khutbah Jumat: Menumbuhkan Kesalehan Sosial Saat Pandemi

Khutbah Jumat: Menumbuhkan Kesalehan Sosial Saat Pandemi

Khutbah Jumat: Menumbuhkan Kesalehan Sosial Saat Pandemi
ilustrasi

Khutbah Jumat pertama: Menumbuhkan Kesalehan Sosial Saat Pandemi

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَكْرَمَ مَنْ اِتَّقَى بِمَحَبَّتِهِ وَأَوْعَدَ مَنْ خَالَفَهُ بِغَضَبِهِ وَعَذَابِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ بِالْهُدَى وَالدِّيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ،

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَقُرَّةِ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ الله وَخَيْرِ خَلْقِهِ، وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِهِ، أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin, jama’ah shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah ta’ala.

Ucapan syukur marilah kita haturkan kepada Allah swt, Dzat yang telah melimpahkan nikmat karunia-Nya. Shalawat dan salam semoga tersanjugkan kepada Nabi Muhammad saw, utusan yang membawa rahmat bagi alam semesta.

Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri kami pribadi, dan umumnya kepada jama’ah kesemuanya untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ta’ala. Dengan cara menjalankan perintah-Nya, serta menjahui larangan-Nya.

Hadirin, sidang Jumat hafidhakumullah.

Seringkali kita dengar dalam keseharian hidup umat Islam, ada beberapa pihak yang mencoba mendikotomikan antara kesalehan invidu dan kesalehan sosial. Perdebatannya berpusat pada skala prioritas ibadah yang perlu didahulukan, ibadah individual atau ibadah sosial. Seakan dua bentuk kesalehan tersebut berjarak secara diametral yang saling berjauhan.

Perdebatan soal kesalehan individu dan kesalehan sosial tentu saja tak lahir dalam ruang hampa. Melainkan hadir dari sebuah fakta tentang prilaku umat Islam dengan derajat keimanan terlihat matang namun sikap sosialnya jauh panggang dari api. Bukan sekadar memandang pihak lain yang tak sejalan penuh curiga, lebih dari itu kerap memosisikan kelompok berbeda sebagai entitas layak dimusuhi. Bahkan diperangi.

Kesalehan individu merupakan bentuk ibadah yang memprioritaskan ritus keagamaan personal sebagai jembatan komunikasi langsung dengan Allah (hablum minallah) demi supremasi diri sebagai hamba beriman seperti shalat, puasa, haji, zikir, dan seterusnya. Insentif pahalanya pun hanya dikonsumsi untuk kebaikan diri sebagai bekal di akhirat kelak.

Dalam praktiknya, kesalehan individu terkadang tak berbanding lurus dengan kepekaan sosial. Bahkan sering kali mengabaikan nilai-nilai humanisme Islam dalam kehidupan sosial di masyarakat.  Dengan kata lain, kesalehan individu bukan jaminan dalam menghadapi kehidupan serba kompleks yang membutuhkan nalar agama yang lebih responsif dan budaya saling menghormati.

Sedangkan kesalehan sosial menunjuk pada perilaku seseorang yang sangat peduli dengan nilai-nilai Islami yang bersifat sosial. Misalnya sikap ramah kepada sesama, peduli terhadap problem umat, menjunjung tinggi toleransi, menumbuhkan sikap empati, serta menghargai segala bentuk perbedaan.

Oleh karena itu, dikotomi antara kesalehan individu dan kesalehan sosial sebenarnya tak relevan. Sebab, tindakan baik sejatinya sebagai implementasi dari penghayatan nilai-nilai yang diajarkan dalam ritual individual. Apalagi dalam ritus individu sesungguhnya mengandung banyak aspek sosial seperti shalat berjamaah, memberi zakat, maupun ibadah puasa.

Dengan demikian, kesalehan sosial dapat dimaknai sebagai manifestasi dari penghayatan ibadah individual yang dipraktikkan dalam bentuk kepekaan sosial berupa tindakan baik bagi masyarakat sekitar. Sehingga timbul perasaan nyaman dan damai antar sesama. Kombinasi keduanya disebut sebagai kesalehan total.

Karena itu, kesalehan total dalam Islam mencakup hubungan baik dengan Allah (hablum minallah) serta relasi hangat dengan sesama manusia (hablum minan nas). Keduanya harus dinarasikan seimbang. Sabda Nabi Muhammad saw mengatakan sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi orang lain. Selain itu, tanda kita dirahmati oleh Allah ta’ala, salah satunya adalah kita senang mengasihi sesama makhluk ciptaan-Nya. Hal ini sebagaimana termaktub dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi (384-458 H) dalam kitab al-Sunan al-Kubra:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ الرَّاحِمُونَ يرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِى الأَرْضِ يرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ (رواه البيهقي)

Artinya: Diriwayatkan dari Abdillah bin ‘Amr bin al-‘Ash ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Orang-orang yang penyanyang akan disayangi oleh Allah yang Maha Penyayang. Maka sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya makhluk yang ada di langit akan menyayangimu.” (H.R. al-Baihaqi)

Selain itu, perbuatan baik bagi orang lain hakikatnya manfaatnya juga akan kembali juga pada diri  pribadi. Begitu juga berbuat tidak baik kepada orang lain, juga akan berimbas buruk pada diri sendiri.  Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur’an surat al-Isra’:

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا (الإسراء: 7)

Artinya: Jika kamu berbuat baik, berarti kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kerugian kejahatan itu untuk dirimu sendiri. (Q.S. al-isra’: 7)

Saat ini, diskursus kesalehan sosial menjadi penting dikumandangkan di tengah fragmenasi masyarakat yang kian ekstrim, faksi kita (minna) dan faksi mereka (minhum) makin mengeras seiring perbedaan pilihan hidup. Padahal Islam mengajarkan tata pola menyikapi perbedaan dengan bijak. Tidak lain karena perbedaan adalah rahmat Allah yang mesti disyukuri.

Hadirin, jama’ah shalat Jumat yang dimuliakan Allah ta’ala.

Islam bukan sebatas agama ritual yang memediasi manusia dekat dengan Allah. Lebih dari itu, Islam merupakan sistem nilai komprehensif yang memuat tuntunan tatakrama (akhlak) dalam tindakan keseharian hidup bermasyarakat. Islam mengajarkan kesantunan dan cinta kasih terhadap sesama. Nyaris tak ada guna memperbanyak nilai ibadah personal jika dalam keseharian hidup kita masih sering memfitnah, menebarkan kebencian (hate speech), dan menimbulkan ketakutan pada pihak lain, terutama pada masa pandemi seperti sekarang ini. Tak berlebihan kiranya jika Islam selalu diasosiasikan sebagai akhlak, prilaku, dan tindakan yang terintegrasi sekaligus.

Sejak awal Islam memiliki doktrin moral agama sebagai basis membangun kohesivitas sosial. Nabi Muhammad diutus ke muka bumi tujuan utamanya untuk menyempurnakan akhlak umat manusia (innama bu’istu li utammima makarimal akhlak). Inilah bekal keagamaan yang diyakini umat Islam dalam prinsip tindakan sosial.

Perbaikan akhlak mencakup upaya menghilangkan sikap saling memusuhi, diskriminatif terhadap kelompok minoritas, mengangkat derajat wanita, menentang sikap mengkafirkan pihak lain yang tak seiman, menumbuhkan sikap toleran dan menghargai perbedaan. Hanya kadar ketakwaan kepada Allah yang membedakan kita dengan yang lain, bukan kelas sosial, ras, maupun jabatan politik.

Berbagai kejadian di negara ini memberi banyak pelajaran penting betapa rasa simpati, persahabatan, dan interpersonal trust tercerabut dari akar budaya keagamaan kita. Saling memfitnah terjadi secara brutal. Tindakan sosial semacam ini pada gilirannya mendistorsi nilai humanisme yang menyuburkan permusuhan.

Padahal sikap empati penuh persahabatan mendarah daging dalam pesan keagamaan kita yang secara intrinsik melekat dalam setiap teks kitab suci. Di tahun politik ini kita harus menanggalkan tradisi lama barbar sembari mengajak kembali pada ajaran Islam hanif yang beradab di tengah gersangnya etika sosial.

Sikap empati dan menjunjung tinggi perbedaan inilah yang mengantarkan Indonesia hidup damai sentosa. Beragam friksi sosial politik bahkan konflik komunal terkendali karena bangsa ini memiliki bekal modal sosial yang sudah teruji dengan matang.

Pasca reformasi nyaris tak ada pertumpahan darah akibat fragmentasi rakyat yang ekstrim. Jika pun terjadi letupan masih dalam batas kewajaran sebagai bangsa yang baru terbebas dari otoritarianisme Orba. Itu artinya, umat Islam di Indonesia sejak awal menjadikan modal sosial sebagai bekal menjaga stabilitas demokrasi.

Praktik demokrasi yang tumbuh subur menjungkalkan klaim bahwa Islam memusuhi perabadan. Meski dalam banyak hal nilai-nilai Islam dan demokrasi saling bertabrakan namun masih bisa berjalan seiring bersama. Sebab itu modal sosial harus menjadi bekal utama menghadapi dinamika kebangsaan.

Hadirin, sidang Jumat yang dimuliakan Allah ta’ala.

Indonesia serupa rumah besar di dalamnya terdiri banyak kamar yang mesti dirawat harmoni kehidupan penghuninya yang beda rupa. Kamar-kamar itu adalah representasi kemajemukan yang secara alamiah melekat pada jati diri bangsa. Tak perlu dipertentangkan apalagi diseragamkan. Tak perlu pula ada rasa paling benar. Semua kamar adalah cerminan rakyat yang patut dihormati hak dan kewajibananya.

Islam mengajarkan pentingnya akhlak sosial dalam menghadapi perbedaan. Nilai-nilai humanis diletakkan di atas segalanya dalam membangun relasi harmonis antar penghuni kamar rumah kebangsaan. Akhlak sosial itu merupakan manifestasi dari ritual keagamaan personal yang kita anut, diyakini, dan diimplememtasikan dalam kehidupan nyata. Inilah esensi dari kesalehan sosial dalam Islam.

Tautan hati kebangsaan direkatkan oleh nilai-nilai inklusif yang disepakati bersama untuk meletakkan kepentingan umum di atas segalanya. Menjadikan rasa empati sebagai komitmen utuh membangun persaudaraan sejati tanpa sekat-sekat primordial. Karena Islam menerabas sekat-sekat yang membuat perbedaan selalu dipertentangkan. Islam menjelma serupa teologi pembebasan yang mengikis habis praktik ketimpangan yang didasarkan pada klaim superioritas klan tertentu.

Pada tahap ini kesalehan sosial mesti menjadi spirit membangun pluralisme Indonesia guna mewujudkan kehidupan yang rukun dan harmonis, terutama di saat masa krisis seperti pada masa pandemi sekarang. Sikap saling menghormati terbangun karena doktrin agama yang menganjurkan perdamaian, persaudaran, dan kerukunan. Islam merupakan agama universal rahmatan lil’alamin yang secara definitif menentang bentuk diskriminasi dalam semua level kehidupan.

Oleh karena itu, mari rawat suasana hati kebangsaan yang dibangun susah payah dengan bekal modal sosial sesuai doktrin Islam. Sebuah doktrin yang tiada henti mendakwahkan pentingnya menjunjung tinggi perasaan ukhuwah Islamiyah guna membangun solidaritas kemanusiaan paripurna.

Doktrin kesalehan sosial bukan semata konsumsi domestik kalangan umat Islam. Namun jauh melampaui tujuan mulia yang melintas batas negara, lintas batas agama, serta lintas batas rasial. Inilah salah satu misi penting dari kontekstualisasi kesalehan sosial saat ini.

Semoga Allah senantiasa membimbing langkah kita. Amin ya rabbal’alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ، وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

***

Khutbah Jumat kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، اَللَّهُمَّ لَا تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا اِلَّا غَفَرْتَهُ وَلَا عَيْبًا اِلَّا سَتَرْتَهُ وَلَا هَمًّا اِلَّا فَرَجْتَهُ وَلَا ضَرًّا اِلَّا كَشَفْتَهُ وَلَا دَيْنًا اِلَّا أَدَيْتَهُ وَلَا حَجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَالْأَخِرَةِ اِلَّا قَضَيْتَهَا وَلَا مَرِيْضًا اِلَّا شَفَيْتَهُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

عِبَادَ الله إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وِالْإِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

(AN)

Khutbah Jumat ini disarikan dari buku “Khutbah Jumat Kontemporer” yang diterbitkan oleh Political Literacy bekerjasama dengan PPIM UIN Jakarta