Khutbah Jumat: Keseimbangan Alam dan Cara Kita Menjaganya

Khutbah Jumat: Keseimbangan Alam dan Cara Kita Menjaganya

Bumi diciptakan penuh harmoni, keteraturan, keseimbangan. Makhluk hidup dan lingkungannya membentuk ekosistem, ragam hayati, semua menopang kelestarian bumi serta menghindarkannya dari kerusakan.

Khutbah Jumat: Keseimbangan Alam dan Cara Kita Menjaganya
Menjaga Lingkungan bagian dari Syariat Islam Image by jcomp on Freepik

Bumi diciptakan penuh harmoni, keteraturan, keseimbangan. Makhluk hidup dan lingkungannya membentuk ekosistem, ragam hayati, semua menopang kelestarian bumi serta menghindarkannya dari kerusakan. Sedikit saja gangguan pada harmoni tersebut akan mengguncang keseimbangan bumi dan membawa bencana. Simak khutbah Jumat berikut terkait kelestarian alam dalam pandangan Islam sebagai tanda kebesaran Allah bagi orang berpikir dan bagaimana kita bersyukur dengan cara merawatnya.

Khutbah Pertama: Keseimbangan Alam dan Cara Kita Menjaganya

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Hadirin Yang Dimuliakan Allah

Puja puji serta syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. sebab dengan kemurahan, hidayah dan taufik-Nya kita masih diberi kesempatan melaksanakan ibadah shalat jumat berjamaah. Shalawat serta salam semoga Allah limpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW. juga kepada keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya.

Hadirin rahimakumullah

Perlu kita ketahui bersama bahwa bumi yang kita pijak ini diciptakan Allah SWT dengan penuh keteraturan dan keseimbangan. Dengan kebesaran-Nya tercipta ekosistem; hubungan timbal balik antara mahkluk hidup dan lingkungannya. Hal ini, membentuk harmoni alam, menghindarkan bumi dari bencana dan kehancuran yang tentunya tidak kita inginkan. Terkait keseimbangan ini, Allah berfirman :

الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًاۗ مَا تَرٰى فِيْ خَلْقِ الرَّحْمٰنِ مِنْ تَفٰوُتٍۗ فَارْجِعِ الْبَصَرَۙ هَلْ تَرٰى مِنْ فُطُوْرٍ

(Dia juga) yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih ketidakseimbangan sedikit pun. Maka, lihatlah sekali lagi! Adakah kamu melihat suatu cela? (Al-Mulk [67]:3)

Ayat di atas menegaskan keseimbangan seluruh ciptaan Allah, baik di langit atau di bumi. Seperti pendapat Ibnu ‘Asyur, ahli tafsir terkemuka asal Tunisia dalam tafsirnya at-Tahrir wa at-Tanwir. Kemudian, pemilihan kata ar-Rahman dalam penggalan fii khalqirrahman memberi kesan bahwa ciptaan Allah merupakan kasih sayang-Nya, rahmat kepada manusia. Agar manusia dapat senyaman mungkin beraktifitas. Sebab, bila langit atau bumi ini mengalami ketidakseimbangan, tentu saja tidak akan layak huni.

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah

Sayangnya, keseimbangan planet bumi mulai goyah, perlahan runtuh akibat ulah manusia yang egois, tamak, dan rakus. Industri pangan, sandang, dan papan, bahkan industri hiburan dibangun manusia dalam skala besar menyebabkan efek gas rumah kaca, akibatnya iklim berubah secara drastis, cuaca ekstrem tidak terprediksi suhu bumi menjadi semakin panas dalam skala global. Padahal, menurut para ilmuwan, pemanasan global “hanya” menaikkan suhu bumi sebesar satu derajat celcius. Namun, akibatnya sungguh sangat dahsyat mulai dari banjir rob, badai, dan uniknya di saat bersamaan menimbulkan kekeringan akut di mana-mana. Itulah bukti ketika keberaturan bumi ciptaan Allah ini bergeser seujung jari, berakibat fatal bagi seluruh makhluk hidup.

Maka al-Quran dalam ayat sebelumnya mengajak manusia memperhatikan, memikirkan ciptaan Allah yang tidak ada sedikit pun cela. Bila mana suatu saat bumi ini mulai kacau, bukan salah Sang Pencipta, melainkan ulah manusia itu sendiri.

Hadirin pendengar khutbah Jumat

Dalam banyak ayat, Allah dengan terus terang menyatakan harmoni alam adalah tanda kebesaran-Nya bagi orang yang berakal sehat. Salah satunya dalam surat al-Baqarah ayat 164 :

 اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ مَّاۤءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍ ۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang bahtera yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengannya Dia menghidupkan bumi setelah mati (kering), dan Dia menebarkan di dalamnya semua jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengerti. (Al-Baqarah [2]:164)

Dalam tafsir Kementrian Agama dijelaskan bahwa pergantian malam dan siang akibat rotasi bumi menggerakkan udara secara global berupa angin. Dengan angin, kapal dapat bergerak menggunakan layar. Angin pula yang menggerakkan uap air dari lautan hingga membentuk awan lalu mendorongnya ke daratan hingga tercurah sebagai hujan. Dengan hujan itu, tumbuhlah tumbuhan yang menghidupi beragam jenis hewan. Allah juga berfirman :

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَسَلَكَهٗ يَنَابِيْعَ فِى الْاَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهٖ زَرْعًا مُّخْتَلِفًا اَلْوَانُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهٗ حُطَامًا ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَذِكْرٰى لِاُولِى الْاَلْبَابِ ࣖ

Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia mengalirkannya menjadi sumber-sumber air di bumi. Kemudian, dengan air itu Dia tumbuhkan tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian ia menjadi kering, engkau melihatnya kekuning-kuningan, kemudian Dia menjadikannya hancur berderai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi ululalbab. (Orang yang memiliki kepekaan pikiran) (Az-Zumar [39]:21)

Ayat ini dikomentari oleh Ibnu Jarir al-Thabari, salah satu ahli tafsir paling awal dalam sejarah Islam. Menurutnya, seorang mukmin yang berpikir seharusnya terinspirasi dengan adanya ayat di atas. Mulai dari tidak berbuat seenaknya terhadap alam, sebagai pengingat dalam melestarikan lingkungan, hingga menghidupkan kembali bila lingkungan telah dirusak.

Hadirin yang berbahagia

Melestarikan alam adalah salah satu wujud syukur kita karena telah Allah sediakan tempat tinggal berupa bumi, satu-satunya planet layak huni di Tata Surya yang seimbang dan teratur sedemikian rupa. Bersyukur tidak cukup dengan hanya memuji Allah lewat lisan. Ciri orang yang bersungguh-sungguh dalam bersyukur adalah orang yang memaksimalkan potensi dari nikmat yang Allah beri sesuai dengan kehendak-Nya. Allah menghendaki manusia menjadi khalifah, penjaga, pelindung, dan pelestari bumi, maka syukur kita adalah dengan memenuhi panggilan Allah dalam melestarikan harmoni alam.

Pelestarian alam pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim terekam bahwa Rasulullah membangun hima; sejenis cagar alam di masa modern di sekitar Kota Madinah. Di tempat tersebut manusia sama sekali dilarang merusak ekosistem yang telah terbentuk di tempat tersebut.

Bila membangun cagar alam ini terasa sulit, kita dapat menjaga alam dimulai dari hal kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan, menghabiskan makanan, menggunakan moda transportasi umum, memilah sampah organik dan non-organik, hemat energi di rumah, hemat dalam menggunakan air walau itu untuk berwudhu, seperti pesan Rasul bahwa dalam berwudhu, kita tetap harus hemat meski berwudhu di sungai yang mengalir.

Hadirin yang mulia

Demikian khutbah singkat kali ini. Semoga bermanfaat, khususnya bagi khatib pribadi, dan umumnya bagi jama’ah sekalian.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Teks Khutbah Jumat Kedua

    ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ َأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَتَابِعْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ بِالْخَيْرَاتِ رَبَّنَا اغْفِر وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَرُ

(Download pdf)

Baca juga teks khutbah Jumat yang lain di sini.

Download teks khutbah Jumat yang lain di sini.