Khalifah Utsman bin Affan, Menantu Rasulullah yang Sangat Dermawan

Khalifah Utsman bin Affan, Menantu Rasulullah yang Sangat Dermawan

Utsman bin Affan diangkat menjadi khalifah Islam yang ketiga setelah wafatnya Umar bin Khattab. Tak hanya menjadi khalifah, Utsman bin Affan juga sesungguhnya merupakan menantu dari Rasulullah SAW karena menikahi dua orang putri Rasulullah SAW. Pertama, Utsman bin Affan menikahi Ruqayyah. Kemudian setelah Ruqayyah meninggal dunia, Utsman dinikahkan dengan putri Rasulullah SAW yang bernama Ummu Kultsum. Oleh sebab itu Utsman bin Affan pun dijuluki sebagai Dzun Nurain atau pemilik dua cahaya karena Beliau menikahi dua orang putri Rasulullah SAW.

Utsman bin Affan berasal dari klan Umayyah, salah satu kabilah terkemuka dan terkaya di suku Quraisy. Meskipun Utsman bin Affan memiliki kekayaan yang melimpah dan status sosial yang tinggi, Utsman memiliki sifat yang rendah hati dan sederhana. Padahal, ia pun mendapatkan harta warisan yang sangat banyak sepeninggalan sang ayah yang meninggal dunia. Dengan bisnisnya yang terus berkembang dan harta warisan yang banyak, Utsman bin Affan pun menjadi salah satu orang terkaya di Mekah.

Selain sederhana dan rendah hati, Utsman bin Affan juga terkenal sebagai sosok yang pemalu. Sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda, “Orang yang paling penyayang di antara umatku adalah Abu Bakar, yang paling tegas dalam menegakkan agama Allah adalah Umar, yang paling pemalu adalah Utsman, yang paling mengetahui tentang halal dan haram adalah Muadz bin Jabal, yang paling hafal tentang Alquran adalah Ubay (bin Ka’ab) dan yang paling mengetahui ilmu waris adalah Zaid bin Tsabit. Setiap umat mempunyai seorang yang terpercaya, dan orang yang terpercaya di kalangan umatku adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah.” (HR. Ahmad)

Read More

Meskipun sosoknya pemalu, Utsman bin Affan merupakan seorang khalifah yang paling dermawan. Pasalnya, ia telah banyak menghabiskan kekayaannya demi membantu umat Islam. Suatu ketika umat Islam pernah mengalami kesulitan air, sementara itu hanya ada satu sumur di wilayah tersebut dan sumur tersebut adalah milik seorang Yahudi yang menjual air kepada umat muslim dengan harga sangat tinggi. Rasulullah pun mengumumkan kepada para sahabat bahwa siapa yang bisa membeli sumur tersebut dan mendermakannya kepada kaum muslim maka imbalannya adalah rumah di surga.

Utsman bin Affan kemudian mencoba membeli sumur tersebut namun sang Yahudi menolak. Tak kehabisan akal, Utsman pun menawarkan untuk membeli setengahnya sehingga sumur tersebut satu hari menjadi milik Utsman dan hari berikutnya menjadi milik sang Yahudi secara bergantian. Saat menjadi milik Utsman, air tersebut dibagikan secara gratis kepada kaum muslim. Saat menjadi milik sang Yahudi, tak ada satu pun umat Islam yang mau membeli air di sumur tersebut hingga akhirnya sang Yahudi menjadi kesal dan menjual seluruh sumur tersebut kepada Utsman.

Dalam kesempatan lain, pada masa pemerintahan Umar bin Khattab pernah terjadi kemarau panjang sehingga rakyat sangat kelaparan. Tiba-tiba, datang seorang kafilah yang membawa 1.000 onta penuh dengan biji-bijian dan bahan pangan dari Suriah. Para penduduk pun dengan segera menawar barang-barang tersebut dengan keuntungan 5% namun tawaran mereka ditolak oleh sang kafilah. Rupanya barang-barang tersebut merupakan milik Utsman bin Affan dan sudah ditawar dengan keuntungan sepuluh kali lipat.

Akhirnya para penduduk pun merasa putus asa dengan keputusan tersebut. Namun secara mengejutkan, Utsman bin Affan justru membagi-bagikan barang-barang kebutuhan pokok tersebut secara gratis kepada para penduduk. Di saat permintaan naik, secara ekonomi harusnya harga barang pun turut naik berkali lipat namun Utsman justru membagikan barang-barang tersebut secara gratis. Menurut Utsman, Allah lah yang akan membalasnya sepuluh kali lipat hingga bahkan tujuh ratus kali lipat lebih banyak.