Ketika Kitab-kitab Agama Se-Dunia Berbicara Kerukunan dan Perdamaian

Ketika Kitab-kitab Agama Se-Dunia Berbicara Kerukunan dan Perdamaian

Ajaran-ajaran agama, apapun agama itu, bersifat luwes, kasih sayang dan harmonis kepada sesama.

Fenomena kekerasan antar umat beragama yang muncul di pusaran politik global atau teritorial, telah mencoreng ajaran agama-agama yang menyeru pada kasih sayang dan kebersamaan. Kriminalisasi satu umat beragama oleh umat beragama lain, dengan mengatasnamakan ajaran agama tertentu, merupakan penyalahgunaan agama dari inklusif menjadi eksklusif, sporadis, rigid dan cacat nalar.

Setiap agama pasti memiliki nalar kerukunan. Ajaran-ajaran agama, apapun agama itu, bersifat luwes, kasih sayang dan harmonis kepada sesama. Hindu misalnya, sebagai agama tertua di dunia setelah Kristen dan Islam, memiliki ajaran kerukunan terhadap sesama manusia tanpa membeda-bedakannya. Dalam kitab sucinya, Veda (dibaca Weda) agama yang pemeluknya kurang lebih sebanyak 1 miliar ini menggagas konsepsi kerukunan.

Dalam kitab Veda X. 191.3 juga, agama yang berasal dari India ini mengajarkan umat beragam untuk mengedepankan musyawarah, menyatukan hati dan fikiran, untuk menciptakan kebersamaan hidup. Begitu pula dalam Atharva Deva VII. 52.1, agama lanjutan dari agama Weda ini mengajarkan umat beragama untuk berlaku harmonis, penuh intim, baik kepada orang yang dikenal atau tidak. Dengan begitu Dewa Asvuna akan mengerahkan rahmat-Nya untuk sesama.

Read More

Di dalam kitab sucinya pula, kitab Veda, masalah kerukunan dijelaskan secara gamblang dalam ajaran tattwan asi, karna pahala dan ahisma. Tattwan asih adalah kata kunci agar umat beragama saling asah, asih dan asuh antar intern dan eksternal umat diri mereka. Sedang karma pahala merupakan keyakinan orang Hindu bahwa dengan menciptakan keharmonisan sesama akan mengundang rahmat Tuhan dalam bentuk pahala.

Ajaran Ashima merupakan konsep hidup bersosial tidak dengan kekerasan dan enggan menyakiti orang lain. Dalam ajaran Ashima dan karma ini pula, diperintahkan untuk menjauhi sifat merusak, mengancam, meneror, dan menyakiti hati umat lain dengan niat tidak baik.

Nalar Kerukunan yang humanis juga tercermin dalam keyakinan agama Buddha. Agama yang didirikan Sidharta Gautama ini mengajarkan keterbukaan fikiran dan hati yang simpatik. Kepada sesama manusia ajaran yang lahir pada 6 SM ini mengajarkan dasar-dasar kemanusiaan, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, metta (welas asih), karunia, mudita (bahagia karena kebahagiaan orang lain), dan karma (hukum sebab akibat jika berbuat harmonis).

Dalam salah satu kitabnya, Sanghyang Kamahyanikan ayat 79, Buddha mengajarkan kasih sayang seseorang pada dirinya hendaknya diaplikasikan kepada semua orang tanpa melihat perbedaan apapun. Dalam sebuah Prasasti Batu Kalingga No. XXII, yang ditulis oleh pemeluk Buddha pada abad ke-SM, Raja Asoka, mengajarkan untuk menghormati agama lain. Dengan menghargai agama lain berarti telah membantu perkembangan agama Buddha. Karena menghancurkan agama lain sama dengan akan menghancurkan agamanya sendiri.

Tidak beda dengan dua agama di atas, Islam pun merupakan agama pembawa misi kerukunan kepada sesama. Islam sendiri berasal dari kata “salam” yang artinya keselamatan. Islam berarti agama visioner keselamatan baik untuk umatnya atau umat agama yang lain. Dalam kitab suci ya pada QS. Al-Hujurat: 11 agama Islam melarang untuk saling mengolok agama lain. Karena bisa jadi yang mengolok tidak lebih baik daripada yang diolok.

Begitu pula dalam sumber agama Islam kedua, Hadis Nabi, Islam mengharuskan umatnya mencintai orang lain sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Begitu pun dalam Piagam Madinah, dari pasal 16 sampai pasal 35, Islam mengatur soal multietnis dan multiagama. Dalam sebuah Hadis Nabi Muhammad, warga Najran, agama, gereja dan harta pemeluk agama lain adalah jaminan Allah dan Rasul-Nya.

Sedangkan dalam ajaran Kristen Katolik dikenal dengan nalar kerukunan berbasis penyelamatan. Hal itu berawal dari kata Kritos, yang memiliki arti penolong atau juru selamat. Nilai kerukunan dalam agama ini berupa nilai kerukunan yang tercipta dalam kesatuan layanan kesetaraan dan kesetiaan kepada misi yang dipercayakan kepasa Yesus.

Bagi Kristen, perangkat utama menciptakan perdamaian bukanlah kekerasan. Sebagaimana disebut dalam Matius 5:9, berbahagialah orang yang membawa damai, karena akan disebut anak-anak Allah. Begitu juga ajakan perdamaian dengan lawan selama masih dalam pertengahan jalan (Matius 5:25).

Dalam historinya, Yesus sebagai penyembuhan agama Kristen, bergaul dengan siapapun tanpa memandang derajat dan kasta. Yesus berkerabat dengan orang berdosa, pemungut cukai, pelacur, dan mereka yang tidak ambil pusing dengan hukum Allah diberlakukan atas dasar kasih sayang (Matius 11: 19, Lukas 5: 30, 15: 2, dan 19: 1-2). Prinsip hidup Yesus mau bersama dengan siapa saja dalam rangka menciptakan kedamaian dan kerukunan.

Adapun terakhir adalah agama Konghucu atau Konfusianisme. Agama yang berdasarkan kelembutan hati, sifat terbelajar dan hati luhur ini mengajarkan hubungan antar manusia (Ren Deo) dan antar Ilahi (Tuan Deo). Kitab suci agama Konghucu, yaitu Wu Jing dan Si Hu, dapat diringkas di dalamnya dalam bentuk delapan kebajikan, yaitu xiao laku bakti: berbakti pada orang tua, ti rendah hati: rendah hati sesama saudara, zhong setia: kesetiaan pada atasan, xin dapat dipercaya, li susila: sopan, yi bijaksana: berpegang kebenaran, kian suci hati: sederhana, dan Chi tahu malu: mawas diri.

Ajaran agama yang dalam istilah Tionghoa disebut Rujiao ini mengharuskan umatnya memperlakukan orang lain sebagaimana memperlakukan diri sendiri (Kitab Mengze bab II. B1/4). Dalam ajaran Konghuci ini, bila kedamaian, kerukunan dan kesejahteraan dapat ditempuh manusia, maka segenap makhluk akan selalu berada dalam keterpeliharaan cinta kasih-Nya.

Setiap agama pada dasarnya memiliki ajaran kerukunan antar sesama. Agama apapun menghendaki semua manusia hidup dalam bingkai perdamaian dan kerukunan satu sama lain. Perdamaian menjadi benang merah semua agama dalam visi menegakkan ajaran-ajarannya. Nilai-nilai perdamaian setiap agama sudah mestinya dipandang sebagai modal terbesar untuk menciptakan dan merawat kerukunan antar semua umat manusia.

Wallahu a’lam.

 

Artikel ini diterbitkan kerja sama antara islami.co dengan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kemkominfo