Kepergian Jenderal Qasem Soleimani, Kehilangan yang Menguatkan Bangsa Iran

Kepergian Jenderal Qasem Soleimani, Kehilangan yang Menguatkan Bangsa Iran

Jenderal Qasem Soleimani wafat, ini peristiwa terbesar sejak wafatnya Imam Khomaeni 1989

Kepergian Jenderal Qasem Soleimani, Kehilangan yang Menguatkan Bangsa Iran

Denyut jantung kota metropolitan Tehran yang sibuk, hari itu seperti berhenti berdetak. Jalan dari arah apartemen di bilangan barat Tehran menuju kantor di daerah utara yang biasa macet, Senin (6/1) pagi hari terlihat lengang. Hanya beberapa mobil yang tampak berseliweran. Sementara di tempat lain, arah menuju Universitas Tehran, justru dibanjiri lautan manusia.

Sejak pagi hingga sore hari, jutaan orang menyemut mengikuti shalat jenazah Qasem Soleimani yang dilanjutkan dengan prosesi duka penghormatan terakhir dari bundaran Enghelab hingga Azadi. Pasar, pertokoan, kantor dan sekolah libur. Puluhan saluran televisi nasional didominasi siaran langsung prosesi duka sang martir di Tehran yang berlanjut hingga malam hari di kota Qom.

Sejak berita kematian jenderal Iran ini diumumkan di media nasional umat pagi, suasana duka menyelimuti kota Tehran. Foto-foto sang martir terpasang di mana-mana. Umbul-umbul hitam dikibarkan di jejeran toko, kantor pemerintah dan swasta, serta rumah penduduk. Pemimpin Iran, Ayatullah Khamenei langsung mengumumkan masa berkabung nasional selama tiga hari.

Selama sekitar 18 tahun tinggal di Iran, saya menyaksikan banyak kematian ulama, tokoh politik hingga artis. Akan tetapi tidak pernah sebesar yang terjadi kemarin. Selain Tehran, televisi nasional Iran juga menayangkan peringatan duka di berbagai kota dari Isfahan hingga Ardabil. Padahal Iran sudah masuk musim dingin dan cuaca Tehran sedang dingin menusuk. Bahkan di berbagai daerah seperti Ardabil, salju turun dengan lebat. Tapi ganasnya cuaca tidak menghadangi mereka menghadiri acara duka dan perghormatan terakhir untuk Qasem Soleimani.

Suasana Gerbang di Universitas Teheran dalam suasana pemakanan Jenderal Qaseem picy by Purkon Hidayat

Barangkali tidak salah jika beberapa media internasional menyebut skala berkabung ini hanya bisa dikalahkan oleh prosesi duka kematian Imam Khomeini pada Juni 1989.

Pembunuhan Qasem Soleimani dilakukan atas instruksi langsung Trump. Bahkan ia dengan bangga menjustifikasi aksinya yang dilakukan tanpa izin kongres AS sebagai keberhasilan terbesarnya. Trump bisa saja menyebut Soleimani sebagai teroris atau apa saja. Namun bagi kebanyakan orang Iran, dia adalah pahlawan. Semua orang menumpahkan kesedihan atas kematiannya. Tidak hanya orang-orang yang pro-pemerintah Iran yang merasa kehilangan, tapi juga mereka yang selama ini mengambil jalan berseberangan dengan Republik Islam.

Beberapa mahasiswa, kolega dan warga Iran yang saya kenal begitu getol mengkritik pemerintahannya ikut mengungkapkan kesedihannya atas kematian Solaemani. Di media sosial seperti instagram berjejer foto-foto sang jenderal ini. Sebagai orang luar yang mengamati dinamika Iran dari dalam, saya mengamati beberapa fenomena menarik dari kematian Qasem Soleimani, yang disebut pemerintah Iran sebagai korban terorisme AS.

Kematian yang Merekatkan Iran sebagai Bangsa

Pertama, Letnan Jenderal Qasem Soleimani dicintai oleh banyak kalangan di Iran, sebab dipandang sebagai pahlawan yang menjaga keamanan mereka, terutama dari serangan teroris ISIS. Bagi mayoritas masyarakat Iran, ISIS adalah ancaman serius terhadap keamanan mereka. Parlemen negara ini juga pernah menjadi sasaran serangan milisi teroris ISIS di tahun 2017. Beberapa kota seperti Ahvaz juga tidak luput dari aksi terror ISIS.

Kedua, Soleimani banyak berjasa dalam mengamankan daerah perbatasan Iran, terutama dari sindikat narkotika internasional di perbatasan negara ini dengan Pakistan dan Afghanistan. Iran merupakan salah satu jalur perdagangan narkotika internasional, karena bertetangga dengan negara produsen opium terbesar di dunia. Setiap tahun Iran menggelontorkan dana tidak kecil, bahkan mengorbankan nyawa sebagian pasukannya untuk menumpas sindikat narkoba.

Ketiga, kehidupan Haji Qasem yang sederhana menaruh simpati banyak orang. Di mata warga Iran, sang jenderal bekerja tanpa pamrih demi bangsa dan negara. Mungkin mereka melihat ketulusannya yang dalam dari kehidupan yang sederhana dan kejujurannya.

Keempat, dia juga dicintai bukan hanya di Iran, tapi juga mereka yang merasakan jasanya. Tentu, ada saja yang bersuka cita atas kepergiannya, seperti video CNN yang menayangkan beberapa orang Irak sedang menari setelah mendengar berita kematian Solaemani. Tapi tampaknya lebih banyak yang bersimpati. Keberhasilan Solaemani membantu Irak selamat dari cengkeraman kelompok teroris ISIS tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.

Di Irak, prosesi duka mengiringi jenazah dihadiri jutaan orang warga negara Arab ini. Di Lebanon dan Suriah dibuat acara khusus sebagai bentuk penghormatan atas jasanya. Orang-orang Yaman di Sanaa dan beberapa kota lain turun ke jalan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Soleimani.

Solaemani dibunuh melalui serangan drone AS tidak lama setelah keluar dari bandara Internasional Baghdad. Padahal dia datang sebagai tamu yang diundang khusus oleh pemerintah Irak, sebagaimana diakui PM Irak, Adel Abdul Mahdi. Banyak kalangan yang memahami hukum internasional dan politik global mengecam langkah Trump tersebut, termasuk di AS sendiri. Sebagian politisi AS melihat langkah Trump kelewat vulgar, padahal dia mungkin bisa mengambil langkah penyerangan tidak langsung dan tersembunyi.

Kematian Haji Qasem menjadi perekat Iran sebagai bangsa. Pemerintah Iran sangat paham mengelola kondisi psikologis bangsanya tersebut. Pengalaman perang delapan tahun dengan Irak dan akar historis budaya dan peradabannya yang tua dan kaya membuat bangsa ini selalu menemukan jalan untuk bertahan dari setiap tekanan, bahkan yang paling dahsyat sekalipun.

Saya amati dinamika media sosial, segelintir orang Iran yang menunjukkan sikap antipati terhadap kematian Solaemani dikecam oleh orang-orang yang selama ini begitu keras menentang pemerintah Iran, bahkan yang tidak menerima Republik Islam. “Diam atau hormatilah, karena dia rela mati demi bangsa ini!,” kira-kita begitu terjemahan bunyi cuitan salah satu akun berbahasa Farsi.

Saya menangkap spirit nasionalisme ini tampaknya luput dibaca oleh Trump. Padahal pendahulunya, Obama cukup jeli membaca kondisi psikologis orang-orang Iran. Barangkali karena Menlu AS di era Obama, John Kerry punya menantu keturunan Iran bernama Vala Nahed. Sedikit banyak ia memahami karakter tersebut dari interaksi dengan menantunya.

Kematian Soleimani menjadi momentum Iran untuk menyatukan seluruh elemen bangsa yang sempat tercerai berai karena berbagai kepentingan individu maupun kelompok, termasuk dalam masalah perundingan nuklir, JCPOA. Sejak jenazah Solaemani dibawa dari Irak ke Iran, peti diarak ke berbagai daerah dari Ahvaz, Mashhad, Tehran, Qom dan hari ini dimakamkan di Kerman. Di setiap daerah tersebut jutaan orang mengiringi kepergiannya.

Tidak ketinggalan, acara duka dan penghormatan terakhir dilaksanakan di berbagai daerah lain hingga ke pelosok Iran. Sebagian media internasional menyebut acara ini pengerahan massa dari pemerintah. Tapi saya melihat tidak demikian. Alih-alih dorongan pemerintah, warga yang berkabung datang atas inisiatif yang timbul dari simpati mendalam kepada sang jenderal.

Perang Langsung dan Hoaks Seputar Kematian Qasem Soleimani

Meskipun tenggelam dalam suasana duka, tapi tampaknya tidak ada indikasi bakal terjadi perang langsung, sebagaimana dilaporkan berita media-media internasional, termasuk di Indonesia. Memang statemen verbal bernada kecaman disampaikan secara bertubi-tubi oleh para petinggi Iran hingga masyarakat biasa. Tapi hal ini tidak bisa dijadikan sebagai indikasi perang langsung sebagaimana disebutkan banyak media.

Masalahnya, sejak hari Jumat, sudah beredar provokasi dari sebagian kalangan yang menghendaki perang antara kedua negara terjadi. Misalnya, cuitan mengenai video bendera merah di atap kubah Masjid Jamkaran yang diklaim sebagai pengumuman perang, padahal tidak demikian. Memang bendera yang dikibarkan di Jamkaran berwarna hijau, tapi perubahan menjadi bendera merah bukan hal yang istimewa, apalagi ditafsirkan sebagai pengumuman perang. Bendera ini dikibarkan sebagai bentuk berkabung, tidak lebih dari itu.

Bentuk provokasi yang ramai  di media nasional Indonesia, adalah hoaks bahwa pemerintah Iran mengumumkan sayembara 80 juta USD atau Rp. 1,1 Triliun sebagai hadiah bagi siapa saja yang bisa membunuh Trump.

Suasana di Tehran Iran ketika pemakaman Sang Jenderal. Pict by Purkon Hidayat

Setelah saya telusuri informasinya, statemen itu hanya disampaikan seorang pelantun syair duka sebagai bentuk kekesalan terhadap Trump dan tidak pernah ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran. Persoalannya, hoaks seperti ini tidak menutup kemungkinan akan terus muncul demi kepentingan tertentu. Padahal jika perang langsung terjadi yang dirugikan bukan hanya Iran dan AS, tapi Timur Tengah, bahkan dunia. Indonesia pun akan terkena dampak negatifnya.

Bagi saya, tidak pernah ada pemenang dalam perang apapun. Seperti kata pepatah, “Kalah jadi abu, menang jadi arang”. Apa yang harus dilakukan masyarakat dunia adalah meredam konflik, bukan sebaliknya memperkeruh ketegangan kedua negara. Minimalnya, tidak menyebarkan hoaks yang semakin mempertajam tensi konflik.

Meskipun semua pejabat Iran tampak marah, tapi saya melihat mereka sebagai aktor politik yang rasional. Sehingga mereka cukup hati-hati untuk mengambil langkah balasan. Dari puncak kekuasaan hingga Menlu, ada kata kunci untuk memahami aksi balasan Iran terhadap langkah AS, yakni “Dibalas pada waktu dan tempat yang tepat”. Oleh karena itu, kecil kemungkinan perang langsung terjadi. Yang jelas, perang proksi akan semakin meningkat.

Masalahnya, Trump terus-menerus memprovokasi pejabat Iran dengan cuitan apinya, seperti ancaman serangan terhadap 52 titik di Iran. Termasuk situs budaya warisan dunia yang terdaftar di UNESCO. Cuitan terbarunya bahkan menyebut Qasem Soleimani seharusnya diteror 20 tahun lalu.

Label apapun bisa disematkan Trump, media internasional dan siapa pun terhadap Haji Qasem, dari sebutan teroris hingga pembunuh. Tapi, bagi kebanyakan orang Iran, minimal tujuh juta orang yang menghadiri prosesi duka kemarin di Tehran, dia adalah pahlawan bangsa. Bagi mereka, kepergian sang jenderal adalah kehilangan yang menguatkan. Kematiannya akan menumbuhkan tunas-tunas baru. Seperti pesan kuat dalam spanduk yang terbentang di jalan raya Chamran hari ini, “Ou raft, to Iran bemonad”. Dia pergi, demi Iran tetap berdiri!.