Kemiripan Suku Baduy dan Islam: Percaya Kepada Tuhan dan Nabi yang Sama

Sumber foto: http://www.adirafacesofindonesia.com

Kemiripan Suku Baduy dan Islam: Percaya Kepada Tuhan dan Nabi yang Sama

Beberapa hal dalam konsep ketuhanan dan kenabian dari Islam, diakui oleh orang Baduy justru lebih dulu ada dalam ajaran Sunda Wiwitan.

Pada umumnya, kita hanya mengenal Suku Baduy—yang memiliki nama asli Urang Kanekes—sebagai masyarakat adat yang konsisten mengisolasi diri mereka dari dinamisnya perkembangan zaman sampai hari ini. Tetapi tidak banyak dari kita yang tahu bahwa mereka memiliki kepercayaan lokal, yaitu kepercayaan yang dianut terbatas hanya oleh orang Baduy. Oleh penganutnya, kepercayaan itu disebut Sunda Wiwitan.

Selain Suku Baduy, nama Sunda Wiwitan sebagai kepercayaan juga digunakan oleh masyarakat adat yang tinggal di Cigugur, Kuningan, yang menurut penganutnya diciptakan oleh Pangeran Djatikusuma. Namun, kesamaan nama yang digunakan tidak serta merta membuat keduanya memiliki kesamaan unsur religi. Sunda Wiwitan Suku Baduy dan Sunda Wiwitan masyarakat adat Cigugur justru berbeda sama sekali.

Unsur religi dalam Sunda Wiwitan malah memiliki beberapa kesamaan dengan Islam. Beberapa hal dalam konsep ketuhanan dan kenabian dari Islam, diakui oleh orang Baduy justru lebih dulu ada dalam ajaran Sunda Wiwitan. Sehingga orang Baduy menjadikan orang muslim sebagai saudara muda, karena menganggap ajaran Sunda Wiwitan lah yang pertama diturunkan oleh Allah sebelum ajaran Islam turun dan diajarkan kepada umat manusia di luar Suku Baduy.

Read More

Ya, orang Baduy percaya bahwa alam semesta diciptakan oleh Gusti Nu Maha Suci Allah Maha Kuasa yang menurut mereka dalam ajaran Islam disebut Allah SWT—berbeda dalam nama tetapi dengan maksud tuhan yang sama. Setelah alam semesta diciptakan, Allah dipercaya kemudian menurunkan nabi Adam di hutan Larangan—tempat suci orang Baduy yang dianggap sebagai pusat alam semesta—dengan membawa ajaran Sunda Wiwitan.

Kesucian hutan larangan disebabkan oleh keberadaan Sasaka Domas yang merupakan situs penting dalam ajaran Sunda Wiwitan. Sasaka Domas dipercaya sebagai pusat alam semesta, sehingga orang Baduy menjadikannya “kiblat” untuk menentukan ke arah mana rumah harus dibangun. Tepat di Sasaka Domas lah nabi Adam memulai kehidupan di bumi dan memiliki keturunan yang kemudian menjadi Suku Baduy seperti hari ini.

Orang Baduy percaya nabi Adam diturunkan khusus untuk mereka saja, sehingga mereka mendaku sebagai umat nabi Adam. Sedangkan tugas menyebarkan ajaran untuk menyembah Allah di luar Suku Baduy diberikan kepada Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, orang di luar Suku Baduy oleh mereka dianggap sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Itulah alasan kenapa orang muslim dianggap sebagai saudara muda orang Baduy.

Berdasarkan alasan itu juga orang Baduy merasa tidak terkena berbagai kewajiban yang dikenakan kepada umat Nabi Muhammad SAW sebagai orang Islam, seperti kewajiban shalat, puasa Ramadan, zakat, serta haji dalam rukun Islam.

Sedangkan untuk syahadat, ajaran Sunda Wiwitan mengenalnya dengan istilah Syahadat Baduy. Berbeda dengan Islam, syahadat bagi orang Baduy digunakan sebagai salah satu syarat dalam ritual pernikahan.

Sikap tersebut dikarenakan anggapan orang Baduy bahwa berbagai kewajiban tadi baru turun ketika Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi nabi, sedangkan mereka sudah ada sebelumnya. Berbagai kewajiban yang diperintahkan Allah melalui Nabi Muhammad SAW hanya berlaku bagi orang di luar Suku Baduy, sedangkan orang Baduy—seperti yang sudah dikatakan sebelumnya—hanya merasa memiliki kewajiban untuk menjalankan apa yang diperintahkan Allah melalui nabi Adam.

Namun, apa yang dipaparkan dalam tulisan ini pada dasarnya hanya bersumber dari sudut pandang orang Baduy sebagai penganut Sunda Wiwitan. Sehingga sangat wajar ketika orang lain di luar Suku Baduy—khususnya orang Islam—tidak sependapat.

Selain konsep ketuhanan dan kenabian yang sama dalam beberapa hal, sebenarnya masih ada unsur religi lain dalam Sunda Wiwitan yang memiliki kesamaan dengan Islam. Lebih jauh akan coba diberikan pada tulisan selanjutnya.

Wallahu a’lam.