Keistimewaan Ibn Ma’in, Guru Besar Para Ulama Hadis

Keistimewaan Ibn Ma’in, Guru Besar Para Ulama Hadis

Ibn Main adalah guru para ulama hadis terkenal.

Ketika Membaca hadis dalam Sahih Bukhari, Anda tidak akan asing lagi dengan nama Ibn Ma’in. Namanya cukup terkenal di kalangan para pelajar hadis, pengajar hadis, dan peneliti hadis. Hampir setiap hadis yang kita baca di Sahih Bukhari berasal dari Ibn Ma’in ini.

Jangan kaget dan harap maklum. Ibn Ma’in ini adalah salah satu guru dari Imam al-Bukhari, penulis kitab Sahih al-Bukhari. Jadi wajar saja jika namanya selalu muncul di kitab karangannya.

Nama lengkap Ibn Ma’in adalah Yahya bin Ma’in bin Aun, nama kunyahnya Abu Zakariya al-Baghdadi al-Hafiz. Ibn Ma’in lahir tahun 158 H. Ibn Hibban dalam al-Tsiqqah-nya menceritakan bahwa Ibn Ma’in adalah sosok yang rela meninggalkan kenikmatan dunia demi mengumpulkan hadis.

Read More

Ia rela berkeliling dunia demi mendapatkan hadis. Apapun rela dilakukan demi dapat mendapatkan hadis dan menghafalnya. Termasuk menulis hadis tersebut berkali-kali agar dapat menghafalnya dengan kuat.

Hal ini pernah diceritakan oleh Abbas ad-Dauri yang mendengar langsung dari Ibn Ma’in bahwa ia belajar menghafal hadis dengan menulisnya berkali-kali. Tentu dengan perantara itu, ia semakin hafal dan tidak hilang dari ingatannya.

“Jika aku tidak menulis sebuah hadis sebanyak tiga puluh kali, maka niscaya aku tidak akan mampu menghafalnya dengan kuat hingga menempel di kepala,” sebutnya.

Perjalanannya berpuluh-puluh tahun dalam mencari hadis, menghasilkan hadis yang tidak sedikit. Ahmad bin Uqbah pernah secara langsung bertanya kepada Ibn Ma’in terkait jumlah hadis yang telah ia kumpulkan. Saat itu, Ibn Ma’in menjawab bahwa ia telah mengumpulkan sebanyak 600 ribu hadis.

Kesungguhan Ibn Ma’in dalam mengumpulkan dan menjaga hadis tersebut bersambut. Semua ulama menjulukinya sebagai al-Hafiz dan Imamul Muhaddisin (Imamnya para ulama hadis). Ibn Hajar al-Asyqalani menyebutnya sebagai Imam Jarh wa Ta’dil.

Ibn Ma’in juga cukup berhasil melahirkan generasi-generasi emas di bidang hadis. Tercatat dalam kitab tarajum bahwa ia memiliki murid-murid yang sangat kredibel. Selain Imam al-Bukhari sebagai muridnya, ada juga Imam Muslim, penulis kitab Sahih Muslim; Imam Abu Dawud, penulis kitab Sunan Abu Dawud; Imam Ahmad bin Hanbal, penulis kitab al-Musnad; Imam Abu Hatim al-Razi, dan beberapa murid hebatnya yang lain.

Karena kecintaannya kepada Rasulullah SAW, setiap ia pergi haji, ia rela mengambil jalan yang cukup jauh dari kampungnya agar bisa lewat Madinah. Sebaliknya ketika pulang haji, ia mengambil jalan yang jauh agar bisa mampir di Madinah.

Pada saat perjalanannya untuk haji dan tiba di Madinah, ia mendadak sakit. Ia pun meninggal pada tujuh malam terakhir bulan Dzulqa’adah. Para penduduk Madinah yang mendengar kedatangan dan wafatnya Ibn Ma’in, berbondong-bondong mendatangi jenazahnya. Karena keistimewaan Ibn Ma’in tersebut, ia dimandikan dan dishalati di atas al-A’wadz, semacam kasur yang digunakan untuk memandikan Rasulullah SAW.

Ibn Ma’in wafat pada tahun 233 H dalam perjalanan haji menuju Mekkah. Ia dimakamkan di Baqi’. Karya dan usahanya dalam mengumpulkan hadis Rasulullah SAW akan menjadi amal jariyahnya kelak, selama masih ada para pelajar dan pengkaji hadis Rasul SAW.

Wallahu A’lam.