Katanya, Lebaran itu Menyatukan Pecahan Kehidupan Keluarga Kita

Katanya, Lebaran itu Menyatukan Pecahan Kehidupan Keluarga Kita

Katanya, Lebaran itu Menyatukan Pecahan Kehidupan Keluarga Kita
Ilustrasi: muvila.com

Lebaran selalu berarti menyatukan pecahan kehidupan dan keluarga. Penyatuan itu barangkali mulai berjalan ketika Ramadhan, yang mempertemukan anggota kecil keluarga di meja makan pada saat takjil atau makan sahur.

Momen-momen tersebut perlahan mengutuhkan kembali hubungan yang sempat diinterupsi oleh kesibukan masing-masing.

Bapak dan ibu sibuk bekerja, anak-anak menghabiskan waktu di sekolah lalu pulang dalam kondisi sama-sama lelah sehingga tidak banyak kesempatan untuk berinteraksi.

Penyatuan yang lebih besar terjadi pada saat lebaran. Pengalaman ini selalu saya rasakan ketika mudik ke kampung halaman. Kembali ke rumah. Bertemu dengan orang tua, saudara, para tetangga serta teman-teman sepermainan waktu kecil. Menemukan kembali tempat-tempat lama yang menyimpan nostalgia.

Saya berlebaran di Desa Kemantren, Paciran, Lamongan. Salah satu desa di wilayah Pantura yang menyimpan sejarah awal Islam di wilayah pesisir utara. Kemantren berada di sebelah timur Drajat, tempat Sunan Drajat di makam.

Di Kemantren sendiri juga terdapat makam yang konon lebih tua dari Sunan Drajat, yaitu makam Syekh Maulana Ishaq. Sejak 15 tahun terakhir, makam ini menjadi magnet baru bagi para peziarah.

Lebaran di Kemantren memberi pengalaman menarik.

Sebagai persiapan menyambut lebaran, rumah-rumah di Kemantren akan dibersihkan dan diperbarui catnya, seperti kebiasaan di tempat lain. Begitu juga makam-makam. Ia dibersihkan dan batu-batu nisannya dicat warna-warni, seolah kebahagiaan dan kemeriahan itu bukan hanya untuk yang hidup.

Lalu, di sore hari, sehari sebelum hari lebaran tiba, makam itu disesaki oleh keluarganya dan ahli warisnya. Besar kecil semua tumpah di sana, mengirim doa.

Dalam rangka menyambut lebaran juga ada tradisi megengan.

Jika di Surabaya megengan, yang berasal dari kata ‘megeng’ yang berarti menahan, menjadi ritual pembuka puasa, di Kemantren ia menjadi tanda berakhirnya puasa.

Biasanya dilakukan pada hari-hari setelah puasa berjalan dua puluh hari. Setiap rumah akan mengeluarkan sedekah yang dibagikan kepada seluruh tetangga.

Dulu, paket megengan berupa berkat berisi nasi, sambal kepala, telur, dan apem. Sekarang, dengan alasan kepraktisan, paketnya berubah jadi makanan mentah. Beras, telur, mi instan dan krupuk. Beberapa malah berupa botol sirup atau soft drink dan selembar uang, dengan besaran bervariasi, sesuai kemampuan. Namun yang tetap tidak boleh ketinggalan adalah apem, panganan olahan dari tepung beras, santan, dan gula yang oven dalam cetakan.

Megengan dilaksanakan per-RT. Jadi, kalauq di sebuah RT jumlah warganya 60 rumah, maka setiap rumah akan menyediakan 60 berkat. Ritual ini menjadi semacam acara tukar kado. Sebelum kado dibagikan, ada seorang yang dituakan diundang untuk memimpin doa, meminta keberkahan.

Kemeriahan terjadi pada malam lebaran. Secara rutin pengurus masjid menggelar lomba takbir keliling. Setiap musola akan mengirim delegasi.

Peserta lomba akan berangkat dari masjid, berkeliling kampung dengan alat musik dan dandanan yang berbeda, dan kembali berkumpul di masjid untuk mendengar pengumuman juara.

Tentu saja, puncak dari kemeriahan itu adalah bermaaf-maafan, sesudah Salat Idul Fitri.

Beberapa tetangga kampung melaksanakannya pada malam lebaran, sehingga setelah Idul Fitri mereka beraktivitas seperti biasa, seperti ke ladang, berkunjung ke saudara jauh, atau piknik bersama keluarga ke tempat wisata.

Meski di masjid, kepala desa sudah mengikrarkan permohonan maaf mewakili diri sendiri dan segenap jajarannya, lalu jamaah saling bermafan selepas Salat Id, tapi setiap orang tetap akan saling berkunjung ke rumah sambil menyampaikan permohonan maaf.

Acara saling kunjung ini mempertemukan banyak individu. Banyak orang yang rela menabung sepanjang tahun, menerobos kemacetan di jalan untuk merayakan pertemuan ini.

Mereka bertemu dengan keluarga, handai taulan dan teman lama. Jabat tangan, pelukan dan percakapan-percakapan singkat menghadirkan kenangan masa lalu. Sebuah kebersamaan yang bisa menjadi terapi bagi jiwa yang mengalami kekosongan.

Serangan terhadap tradisi bermaaf-maafan kerap dilancarkan di media sosial oleh kalangan tertentu. Mereka menyebut tradisi ini tidak ada dalilnya, karena Nabi SAW. tidak pernah mengajarkan hal serupa; yang diajarkan oleh Nabi SAW. adalah saling mendoakan agar ibadah kita selama puasa diterima oleh Allah; saling memaafkan tidak perlu menunggu waktu lebaran. Mereka mungkin juga akan mengatakan makan ketupat tidak ada dalilnya.

Tapi di kampung saya, bermaaf-maafan tetap berjalan, termasuk halal bihalal yang biasanya digelar dalam grup-grup yang lebih besar. Tradisi ini memang khas Indonesia.

Banyak versi tentang asal-usul tradisi ini. Terlepas dari itu, tradisi ini memiliki arti penting. Kita dilatih untuk mendidik diri sendiri untuk meminta maaf atau memaafkan orang lain, setelah sebulan lamanya kita memohon maaf kepada Allah.

Karenanya, meskipun Idul Fitri secara bahasa berarti “kembali berbuka/makan” setelah sebelumnya berpuasa pada siang hari, tapi dengan praktiknya seperti dalam tradisi, Idul Fitri bisa juga bermakna kembali ke fitrah, yakni kembali ke kondisi awal saat manusia diciptakan; bersih, tanpa noda, tanpa dosa.

Jadi, lebaran tidak semata soal membayar zakat, takbiran, salat Id, makan-makan, dan bermaaf-maafan. Lebaran dengan segenap hiruk-pikuknya adalah peristiwa yang dapat menyembuhkan hubungan yang retak, merevitalisasi fungsi keluarga, menguatkan ikatan kebersamaan, mencairkan komunikasi, dan menumbuhkan rasa saling percaya dan memiliki. Lebaran menyatukan kembali pecahan kehidupan secara mental, spiritual dan sosial.