Kata Kang Sobary Tentang Surah al-Maun dan Tafsir Agama yang Tekstual

Kata Kang Sobary Tentang Surah al-Maun dan Tafsir Agama yang Tekstual

Ini perspektif tafsir menarik tentang surah Al-Maun

Kata Kang Sobary Tentang Surah al-Maun dan Tafsir Agama yang Tekstual
Al-Qur’an

Kang Sobary memberikan perspektif menarik terkait surah Al-Maun. Yang tak pernah tertinggal dari buah karya beliau yang sudah-sudah, selain uraian makna mendalam mengenai peran tokoh pewayangan dan gerakannya dalam membela hak petani tembakau adalah tafsirannya tentang Surah al-Maun. Surah itu seakan-akan menggerakkan nurani dia dalam pergolakan perlawanannya terhadap banyak persoalan pelik bangsa ini.

Selain dipengaruhi oleh kultur Muhammadiyah, Surah al-Maun ini bagi dia adalah semesta kehidupan. Surah yang hanya terdiri dari tujuh ayat ini, oleh Sobary dijabarkan dan diaplikasikan di lebih dari tujuh permasalahan.

Berangkat dari problematika yang dihadapi umat seperti kegaduhan politik, pemimpin yang lalim, sikap kemunafikan, pendidikan, kebudayaan, kemiskinan hingga ritual ibadah yang sebatas menonjolkan ritus formalitas belaka.

Problematika tersebut jelas memiliki tekstur dan gejala yang berbeda-beda. Akan tetapi, oleh Budayawan sekaliber Kang Sobary semuanya mampu dikontrol melalui intrepretasinya terhadap Surah al-Maun.

Seperti gejala kredensialisme agama yang bertitik tolak pada terpatrinya pikiran masyarakat terhadap simbol-simbol agama dan tafsir tekstual.

Terutama fenomena yang terjadi di layar kaca, yang memahami agama secara tekstualis, asal nompo, dengan meniadakan  ikhtiar menelaah secara artifisial, prakondisi, dan kontekstualisasi, padahal terjemahan yang komprehensif atas surah dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia itu penting sekali bagi umat. Selain sebagai pembelajaran, ia akan sangat membantu umat dalam memahami ajaran agamanya.

Namun, terjemahan dalam bentuk konkrit berupa tindakan memandikan anak-anak terlantar, anak miskin, dan yatim piatu, serta memberi mereka pendidikan layak—yang merupakan tafsir makna dari surah al-Maun—jelas lebih penting.

Selain penting untuk memaknai ajaran agama terhadap konteks sosialnya, yang tidak kalah penting lagi, yang ingin disampaikan Budayawan alumni UI itu adalah bagaimana agama bisa bergerak di dua ruang dimensi sekaligus. Ruang ritual individual dan ritual massa.

Dengan harapan, ajaran agama apapun sanggup berkolaborasi dalam satu tujuan hidup bernegara, berbangsa dan beragama, dengan kasih sayang untuk persatuan.

Seni memahami agama seperti itu, bagi Sobary kelak akan melahirkan pemahaman agama yang holistik. Pemahaman yang tanpa menepikan prinsip pendiri bangsa kita dalam menjaga keutuhan: yakni keragaman, Bhinneka Tunggal Ika.

Sebaliknya, kebanyakan dari kita diajak berdamai saja sudah repot, apalagi untuk perubahan yang mengarah pada urusan kemaslahatan bersama? Sementara kadar mereka yang ‘sadar’ masih belum mampu angkat bicara.

Kritik Sobary terhadap simbolisme tidak berhenti pada unsur keagamaan belaka. Ia juga menandai peringatan hari kemerdekaan dengan prosesi upacara  pengibaran bendera di pagi hari dan penurunan bendera di malam hari sebagai kebahagiaan simbolis belaka. Bahkan sekedar ritual politik kenegaraan kita.

Alangkah lebih mengena lagi, apabila simbolisme seperti mengerek bendera pusaka itu mengingatkan pada kita semua bahwa bendera pusaka ini merupakan simbol suci yang kita hormati, untuk menekankan makna sumpah palapa yang relevan dengan kebutuhan nasional kita saat ini, untuk lebih merekatkan persatuan kita sebagai bangsa yang satu, utuh, dan berdaulat.

Dari sana, dapat digarisbawahi atas segala yang berkutat pada hal-ihwal simbolis, seyogyanya tidak berhenti pada watak simbolis itu. Melainkan pada apa yang lebih nyata dan membumi. Setiap peristiwa pasti menorehkan hikmah dan rahasia di dalamnya.

Demikianlah sosok Muhammad Sobary yang juga merupakan teman dekat Gus Dur. Bahwa di setiap torehan karyanya, tercurah kejernihan pikiran mendalam mengenai manusia, alam dan Tuhan. Sinergitas ketiga unsur sentral tersebut, bagi Sobary melahirkan sebuah cita rasa kebudayaan yang unik dan solutif.

Barangkali karena sifatnya yang begitu bebas dari kungkungan struktur resmi, baku, dan konvensional, maka guru bangsa hidup dan bekerja di dalam apa yang bisa kita sebut living university, sebuah universitas kehidupan pada suatu zaman.