Kambing Meludahi Macan

Kambing Meludahi Macan

Kisah yang membuat kita tergelitik

Kambing Meludahi Macan
credit: bookgeeky.deviantart

Sejarah pertikaian selalu mengabarkan korban, entah berapa Jumlah aksi kekerasan, Darah yang terkucur, nyawa yang lenyap, harta benda yang sirna dan tentu warisan kebencian apalagi yang hidupnya berkeputusan setia menegakan dendam. Itulah sejarah perebutan kekuasaan, harta dan ” kepuasaan nafsu”.

Perang… perang lagi, begitu Iwan fals memberi Judul Etiopia Jilid ll. Kasak-kusuk selalu mengecoh para pendekar, sehingga dugaan atas peristiwa adalah buah Jerih payah apa yang mereka usung. Sekawanan serigala tertawa Jahat melihat akting sang domba, tetapi saat melihat manusia, domba dan serigala berkecil hati, loh kenapa? Kata para pemodal yang di persenjatai lengkap. Manusia itu, sedetik bisa berubah menjadi serigala, sedetik lagi bisa menjadi domba.

Dalam perebutan, ada seni siasat, ada aturan berlaku, ada penyelenggara, ada pengawas dan tentu ada pemilik takdir. Segala gegap gempita memperlakukan kebenaran yang mereka yakini, seringkali bertabrakan, dan sesekali berjumpa. Ruang perjumpaan ini seperti ruang rindu, ia hadir Jika sudah berpisah. Rasa memiliki ini yang berlebihan inilah yang mengelabuhi para penulis tragedi.

Kalau bahasa pojok kampung, ini semacam ngungkrah-ungkrah, “edel-edel”, yang hanya akan berbenturan keras, sebab dalam anatomi kita sebagai bangsa, kita di taksiran beraneka ragam hal dan apa saja. Pasca tahun 1965, kita mencatat pembunuhan masal antar sesama yang mengerikan.

Tragedi kemanusiaan demi apa coba? Terserah.

Lama sekali tidur panjang, nasibnya selalu di kebiri keadaan otoritas sistem dan pemilik sistem. Apa yang mereka perjuangkan seolah sedekah Jariyah bagi ummat manusia dalam bernegara, mereka dengan ikhlas dan Rela kembali ke barak, bahkan sampai kebelakang barak sekalipun.

Kini jika yang Mayoritas diam itu, yang menepi kembali turun ke gelanggang dan kalian ludahi penuh dahak ke wajah yang diam itu, Jangan-jangan mereka malah senyum ikhlas, tetapi sejarah selalu mencatat itu hanya kisah Nabi dan kekasih. Lain lagi dengan senyum senyap yang berbuah tragedi. Sekali lagi kopi dan rokok Jangan pernah kau tinggalkan yak!!.

Yang tidur pada akhirnya bangun, tapi cara-cara membangunkannya yang sesuai dengan Jiwa yang tidur. Agar, kata kawanku tadi di Whastup; golek pangan seng Prasojo. Jika nafsunya semakin menggila; mungkin ini cara Tuhan mengendalikan populasi laju penduduk manusia.

Lagu itu di lanjutkan, demi perdamaian.