Kajian Tematik Zakat Fitrah Madzhab Syafii (Bag. I)

Kajian Tematik Zakat Fitrah Madzhab Syafii (Bag. I)

Kajian Tematik Zakat Fitrah Madzhab Syafii (Bag. I)

Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Saw mewajibkan zakat fitrah satu Sha’ dari kurma atau gandum, atas org merdeka, hamba, laki-laki, perempuan, anak kecil, dan orang dewasa dari kaum muslimin. Dan Nabi memerintahkan agar zakat fitrah dikeluarkan sebelum keluarnya manusia menuju tempat shalat ‘ied.
Al-Fitrah secara bahasa  adalah sifat naluri dan pembawaan manusia (suci dari dosa). Menurut istilah  adalah kadar yang harus dikeluarkan yang berkaitan dengan tangung jawab jiwa manusia. Dinamakan dengan zakat fitrah, karena zakat fitrah bertujuan menyucikan diri dan meningkatkan amaliyahnya. Menurut ijma’ (konsensus) ulama, hukum mengeluarkan zakat fitrah adalah wajib.(al-Taqrirat al-Sadidah, hal.418).

 

Syarat-Syarat Wajib Zakat Fitrah

  • Muslim yang menemui satu waktu dari bulan Ramadlan dan bulan Syawal.Dengan demikian, tidak wajib bagi bayi yang lahir setelah tenggelamnya matahari tanggal 1 Syawal.Begitu juga tidak wajib bagi orang yang meninggaldi bulan Ramadan sebelum menemui 1 Syawal.
  • Melebihi dari biaya hidupnya dan biaya hidup orang-orang yang wajib dinafkahi selama sehari semalam pada tanggal 1 Syawal.
  • Melebihi dari hutangnya meskipun belum jatuh masa tempo.Demikian menurut pendapat Ibnu Hajar.Sementara menurut Imam al-Ramli,hutang yang belum jatuh masa tempo,tidak dapat menghambat kewajiban zakat meskipun nominalnya sampai menghabiskan harta yang dimiliki.
  • Melebihi dari biaya hidup, pembantu dan fasilitas rumah yang keduanya layak bagi Muzakki.(Fath al-Muin Hamisy I’anah, hal.190-194, Kifayah al-Akhyar juz.1, hal.192-193, al-Taqrirat al-Sadidah, hal.419, Syarh al-Yaqut al-Nafis, hal.283)

Sebab-Sebab Wajib Menanggung Zakat Fitrah Orang Lain Zakat fitrah, disamping wajib dikeluarkan untuk diri sendiri, juga wajib dikeluarkan untuk orang-orang tertentu. Berikut ini sebab-sebab yang menjadikan seseorang wajib menanggung zakat fitrahnya orang lain :

  • Hubungan pernikahan. Wajib bagi suami mengeluarkan zakat fitrah untuk istrinya.
  • Hubungan kekerabatan. Wajib bagi orang tua mengeluarkan zakat fitrah untuk anaknya yang belum akil baligh atau gila.

Walhasil, secara kaidah, setiap orang yang berkewajiban menafkahi pihak tertentu, wajib pula mengeluarkan fitrahnya. .(Kifayah al-Akhyar, juz.1, hal.194)

 

Catatan :

Tidak sah bagi orang tua mengeluarkan zakat fitrah untuk anaknya yang sudah tidak lagi wajib dinafkahi, seperti anak yang sudah aqil baligh. Hal ini jika dilakukan tanpa izin dari si anak yang bersangkutan. Sementara bila ada izin, maka sah.(al-Taqrirat al-Sadidah, hal.420).

 

HARTA YANG DIKELUARKAN DAN KADARNYA

Dalam zakat fitrah, yang wajib dikeluarkan adalah makanan pokok penduduk setempat. Seperti beras untuk mayoritas penduduk Indonesia. Sementara untuk kadarnya adalah 1 Shâ’. Dalam mengkurskannya ke dalam ukuran kilogram, terdapat beberapa pendapat ulama’ sebagai berikut :

  • Versi kitab al-Taqrîrât al-Sadîdah 2,75 Kg.
  • Versi kitab Mukhtashar Tasyyîd al-Bunyân 2,5 Kg.

Versi sebagian ulama yang dikutip dalam kitab al-Taqrîrât al-Sadîdah 3 kg. (al-Taqrirat al-Sadidah, hal. 419 dan Mukhtashar Tasyyid al-Bunyan, hal. 205).

Catatan :

  • Jika tidak mampu mengeluarkan 1 Shâ’, maka dikeluarkan semampunya.
  • Harus dizakatkan dalam keadaan mentah, tidak sah dalam kondisi sudah dimasak. (I’anah al-Thalibin, juz.2, hal.197)
  • Menurut Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Shidiq al-Ghumari dan KH.Kholil Bangkalan diperbolehkan mengeluarkan qimah (nominal) yang sebanding dengan kadar makanan pokok daerah setempat yang dizakatkan (Tahqiq al-Amal, hal.59 dan Syarh al-Matn al-Syarif, hal.949).

*) Penulis adalah Pegiat Komunitas Literasi Pesantren (KLP), tinggal di Kediri