Jusuf Kalla dan Kegelisahannya terhadap Realitas Umat Islam: Tribute to JK

Jusuf Kalla dan Kegelisahannya terhadap Realitas Umat Islam: Tribute to JK

Jusuf Kalla dan umat Islam adalah dua kata yang tak terpisahkan

Jusuf Kalla atau lebih dikenal dengan JK akan mengakhiri masa kepemimpinannya sebagai Wakil Presiden (Wapres) RI periode 2014-2019 mendampingi Presiden Jokowi. Posisi JK sebagai Wapres akan digantikan secara resmi oleh K.H. Ma’ruf Amin yang akan dilantik pada tanggal 20 Oktober 2019 mendatang mendampingi Jokowi untuk periode kedua. JK merupakan satu-satunya Wapres terpilih dalam sejarah Indonesia yang berhasil mendampingi dua Presiden yang berbeda, yakni SBY pada periode 2004-2009 dan Jokowi pada periode 2014-2019.

Pria kelahiran Bone, 15 Mei 1942 ini bukanlah orang baru dalam dunia politik di Indonesia. Sebelum menjadi Wapres, ia sudah malang melintang menjadi anggota DPRD Sulawesi Selatan mewakili Golkar (1965-1968), anggota MPR (1982-1987) mewakili Golkar dan (1997-1999) mewakili daerah, Menteri Perindustrian dan Perdagangan (1999-2000), Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (2000-2004).

Selain sebagai politisi, JK juga dikenal sebagai pengusaha papan atas di Indonesia. Di bawah bendera Kalla Group, JK membangun bisnis di bidang perhotelan, penjualan kendaraan, kelapa sawit, jasa konstruksi, perkapalan, real estate, transportasi, peternakan udang, dan telekomunikasi.

Read More

Artikel ini tidak akan membahas lebih jauh soal sepak terjang JK di bidang politik dan bisnis, tetapi ingin membahas tentang kegelisahan JK terhadap realitas umat Islam dewasa ini yang masih bergelut dalam ketertinggalan dan konflik yang tak kunjung usai.

JK sesungguhnya adalah seorang muslim yang moderat. Pergumulannya dengan berbagai organisasi Islam serta pergaulannya yang lintas agama, etnik, dan negara membuatnya berpikir terbuka dan toleran. Seperti diketahui, sejak sekolah, JK telah menjadi bagian dari organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) dan ketika menjadi mahasiswa ia menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). JK secara kultural dibesarkan dalam pengaruh Nadhlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Ayahnya adalah penganut ajaran NU, sedangkan ibunya adalah penganut ajaran Muhammadiyah.

Bisa dibayangkan, betapa panasnya perdebatan keagamaan antara NU dan Muhammadiyah di zaman itu, tetapi dari kejadian itulah, JK tampaknya banyak belajar bahwa fanatisme beragama hanya akan mengoyak keharmonisan. Dari ayah dan ibunya, JK banyak belajar bahwa cinta dan akhlak harus didahulukan di atas perbedaan pandangan fikih.

Sewaktu mengunjungi kampus kami di IAIN Manado pada tahun 2017, JK dalam Studium Generale yang bertema “Peran Perguruan Tinggi Keagamaan Islam dalam Memelihara Nilai-Nilai Kebinekaan” mengingatkan kepada seluruh sivitas akademika dan seluruh tamu undangan yang hadir, bahwa kampus harus dibedakan dengan museum. Kampus harus selalu melihat ke depan, sedangkan museum selalu melihat ke belakang. Kampus harus senantiasa menjadi tempat yang mampu menjawab tantangan-tantangan ke depan. Lanjut JK, kampus harus senantiasa berusaha meningkatkan kualitasnya di berbagai lini. Ketika kampus memiliki kualitas, maka nama dan citranya akan terdongkrak dengan sendirinya.

Pernyataan JK tersebut tentu harus dimaknai secara positif. Mari kita lihat fakta, bahwa kebanyakan umat Islam saat ini masih hidup di bawah buritan peradaban. Kita hanya menjadi penikmat kemajuan peradaban yang dihasilkan oleh Barat, tetapi kita tidak mampu menjadi pencipta peradaban. Hampir sebagian besar negara muslim masih menjadi negara dunia ketiga dan masyarakatnya tidak memiliki kesadaran keilmuan yang tinggi. Kampus-kampus di negeri muslim belum ada yang mampu menduduki rangking 20 besar dunia. Tentu ini adalah sesuatu yang memprihatinkan.

Di zaman dahulu, Islam pernah menjadi peradaban yang sangat berpengaruh di seluruh dunia. Tak dapat dipungkiri, bahwa kemajuan Barat berhutang budi pada peradaban Islam.

JK dalam Studium Generale juga memberikan kritik konstruktifnya terhadap kecenderungan umat Islam yang selalu melakukan romantisme sejarah masa lalu. Mereka sangat bangga menceritakan sejarah kejayaan Islam di masa lalu yang dihasilkan oleh para tokoh-tokoh besar Islam seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dll, tetapi sayangnya mereka tidak mampu berkaca pada kejayaan masa lalu tersebut dan juga tidak memiliki keseriusan dalam mencetak Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi baru di zaman modern.

JK mengakui bahwa negara-negara muslim adalah negara yang sangat kaya akan sumber daya alam. “Dimana ada ditemui kekayaan minyak, maka disitu ada azan”, demikian tutur JK. Sayangnya, negara-negara kaya minyak itu selalu terperangkap dalam konflik dan salah satu pemicunya adalah karena dipertajamnya isu konflik Sunni dan Syiah.

Apa yang disampaikan JK terkait konflik Sunni dan Syiah menurut saya adalah sebuah pandangan yang cukup maju bagi seorang pejabat publik. Bagaimana tidak, ketika banyak orang yang memainkan isu konflik Sunni-Syiah untuk kepentingan politik jangka pendek yang mengakibatkan terkoyaknya kohesi sosial di tengah masyarakat sebagaimana yang terjadi di Sampang Madura, JK tetap dapat berpikir jernih bahwa konflik Sunni dan Syiah adalah produk Timur Tengah yang tidak perlu diimpor di Indonesia. Tentu pandangan ini lahir dari keluasan pengetahuan JK akan keragaman mazhab/ aliran dalam Islam dan juga keluasan pengetahuannya terkait sejarah Islam di Nusantara yang ramah terhadap perbedaan.

Dalam beberapa kesempatan, JK selalu mengingatkan kepada kaum muslim Indonesia bahwa kita harus senantiasa belajar bahwa tanah Arab yang dihuni sekitar 350 juta penduduk yang mana agama, bahasa dan adat istiadat masyarakatnya cenderung sama, namun mereka terpecah menjadi banyak negara dan saat ini mereka saling berperang satu sama lain. Sedangkan, Indonesia yang berpenduduk 200 juta lebih dan terdiri dari ratusan bahasa, beragam agama dan adat istiadat patut bersyukur karena masih dapat bertahan sebagai satu bangsa dan negara. Karena itu, JK berpesan bahwa umat Islam di Indonesia harus selalu menjunjung tinggi pandangan Islam wasathiyah yang mengedepankan moderasi dan penghargaan atas kebhinekaan, agar Indonesia sebagai bangsa dan negara dapat tetap eksis.

Di level politik global, JK sering mengkritik ketidakseriusan negara-negara muslim dalam menyelesaikan persoalan Palestina. Tentu kritik ini lahir dari kegelisahan JK selaku tokoh perdamaian melihat penderitaan warga Palestina yang tak kunjung usai. Dalam sebuah forum yang mendiskusikan tentang konflik Timur Tengah di Kampus Universitas Hasanuddin Makassar sekitar tahun 2010 di mana saya ikut mengambil bagian di dalamnya, JK selaku pembicara dengan tegas mengatakan bahwa apabila persoalan Palestina ingin selesai, maka faksi Hamas dan Fattah harus bersatu terlebih dahulu. Selama mereka tak mampu bersatu, maka jangan harap Palestina akan meraih cita-citanya menjadi negara yang merdeka dan berdaulat sepenuhnya.

Di samping itu, JK juga mengatakan bahwa negara-negara muslim harus bersatu untuk melawan Israel. JK menyayangkan bahwa beberapa negara muslim masih setengah hati membantu Palestina. Buktinya, negara seperti Turki, Mesir, dan Yordania masih membuka hubungan diplomatik dengan Israel, sehingga Kedutaan Besar Israel dapat berdiri di negara-negara tersebut. Pada intinya, apabila persoalan Palestina ingin selesai, maka ia harus dimulai dari kesadaran yang tulus dari seluruh umat Islam untuk bersatu padu.

Walaupun nanti JK tak lagi menjabat sebagai Wapres, kita akan tetap selalu menunggu pikiran-pikiran segarnya dalam upaya mewujudkan nilai-nilai Islam yang penuh rahmat. Selamat berkumpul kembali dengan keluarga. Kita selalu mencintaimu Pak JK dalam segala kelebihan dan kekuranganmu. Salama’ki Puang.