Menelusuri Jejak Islam  di Singapura

Menelusuri Jejak Islam di Singapura

Minggu lalu, 7 Agustus 2019, kami beserta 27 santri Indonesia yang tergabung dalam “Muslim Youth Leader Trip” berkesempatan mengunjungi Kampong Gelam. Berada di tengah pusat kota, tepatnya di Muscat Street, sekitar 6 KM dari ikon patung singa Merlion Park. Banyak tempat dan bangunan kuno yang dapat kita singgahi di kampong ini. Salah satunya adalah Masjid Sultan dan Pondok Jawa.

Masjid Sultan adalah masjid tertua di Singapura yang didirikan pada tahun 1824 oleh Sultan Hussein Syah. Sultan yang memiliki garis keturunan dari Kesultanan Johor dan Melaka. Pembangunan Masjid Sultan juga disumbang oleh Thomas Stamford Raffles (1781-1826) atas nama East India Company (EIC). Dalam catatan sejarah resmi pengurus masjid, bangunan Masjid Sultan saat awal berdirinya kental dengan gaya arsitektur Nusantara. Yakni berbentuk limas berundak. Baru di tahun 1879, Sultan Alauddin Shah selaku cucu Sultan Hussein Shah merehab bangunan masjid dengan menggabungkan arsitektur Melayu, Bugis, Jawa, Arab, dan India. Hal ini menandakan persatuan kelima etnis tersebut yang mendiami Kampong Gelam.

Mulai tahun 1975, pemerintah Singapura menetapkan Masjid Sultan sebagai Monumen Nasional. Hingga kini, masjid ini menjadi salah satu pusat beribadah bagi masyarakat muslim Singapura. Pengelolaannya dilakukan secara modern, sehingga nampak bersih, elegan, dan khitmah. Turis asing non muslim yang datang disambut dengan ramah. Di pintu masuk, pengurus sudah menyediakan kain jubah untuk menutup aurat. Mereka diperkenankan untuk melihat-lihat bangunan depan yang telah disediakan. Di tempat ini disajikan bagan informasi terkait sejarah masjid dan ajaran-ajaran pokok Islam. Tidak ketinggalan, ajaran Islam yang memuliakan wanita. Dengan managerial yang maju ini, Masjid Sultan yang berkapasitas 5 ribu jamaah di dua lantainya itu telah dinobatkan sebagai masjid pertama yang mendapatkan sertifikat ISO 9001:2015.

Read More

Dilihat dari agenda kegiatan yang tercantum, Masjid Sultan memiliki agenda yang padat. Mulai dari jamaah shalat lima waktu, pengajian rutin, majlis dzikir, khotmil qur’an, shalat tasbih, shalat hajat, istighatsah, maulid, dzikir fida’, dan lain sebagainya. Dari akun media sosialnya, terlihat pada 3 Oktober 2018, Habib Umar bin Salim juga berkunjung dan menggelar majlis shalawat di Masjid Sultan. Jamaah nampak meluber hingga ke halaman masjid. Hal ini menandai geliat keberislaman masyarakat muslim Singapura. Meskipun mereka berasal dari etnis yang berbeda, tetapi tetap dapat hidup harmoni berdampingan.

Lantas tertarikkah anda untuk melihatnya dari dekat?