Islam Festival & United Fest, Kenapa sih Festival Agama Diterima di Indonesia?

Islam itu apa? (Elik Ragil/Islami.co)

Islam Festival & United Fest, Kenapa sih Festival Agama Diterima di Indonesia?

Kalis Mardiasih mengisahkan festival Islam di Indonesia yang beragam tapi berubah belakangan ini

Sejak berabad-abad lalu, masyarakat Muslim di Indonesia senang berfestival. Festival-festival Islam ini menjadi bagian dari masyarakat dan diterima baik sebagai adat atau tradisi. Beberapa yang ada dalam gambar di bawah adalah Festival Maulid Nabi di beberapa daerah di Indonesia.

Saya jadi bertanya, kenapa sebuah festival agama dapat diterima baik oleh masyarakat yang beragam? Apa sih ciri-ciri Festival Islam yang menyatu dengan masyarakat Indonesia ini?

Read More

1) Biasanya berkaitan dengan tiga fase paling penting dalam hidup manusia, yakni kelahiran, pernikahan dan kematian.

Oleh para Waliyullah terdahulu, Islam melebur dengan adat setempat biasanya ke dalam tiga fase itu. Festival Baayun Maulid di Banjar, Kalimantan Selatan, misalnya. Pada peringatan maulid, masyarakat datang ke masjid atau pusat acara desa. Di tiang-tiang masjid telah ada banyak ayunan yang dihias dengan janur-janur kelapa dan kain jarik. Dalam festival ini, para orangtua mengayun bayi mereka seiring dengan dibacakannya ayat Al Quran, solawat dan doa yang diiringi oleh musik rebana.

Selanjutnya, tentu saja adalah acara kenduri yang dipenuhi pesta makan-makan. Masyarakat Indonesia, sekalipun berasal dari golongan yang kurang mampu secara ekonomi, senang terlibat dalam pesta makan-makan adat semacam ini.

Biasanya mereka yang mampu menyumbang banyak sekali bahan makanan, sedangkan mereka yang tidak mampu akan dengan sukarela menyerahkan sedikit hasil panen dan tenaganya, sebab basis pemikiran mereka, semua yang mereka keluarkan akan menjadi berkah bagi alam, diri mereka dan masyarakat sekitar.

2) Bersumber dari “Yang Lokal”

Upacara grebeg Maulid di Yogyakarta, misalnya, memiliki penanda khusus, yakni mengarak 8 Gunungan. Masing-masing gunungan adalah simbol harapan masyarakat dan memiliki nama yang berbeda-beda. Artinya, festival masyarakat selalu sarat nilai yang mendalam.

Kelokalan dipresentasikan lewat hasil panen dan jajanan lokal yang direbuti warga selepas upacara karena dianggap membawa berkah atau buah yang ditanam dapat menyuburkan tanah mereka karena telah didoakan bersama-sama di hari yang baik. Peringatan grebeg maulid disambung dengan pasar malam sekaten yang menggerakkan ekonomi masyarakat kecil selama sebulan penuh.

3) Inklusif, Siapa Saja Boleh Datang, Bisa Datang, dan Datang dengan Sukarela Karena Menarik

Festival Islam yang berupa upacara adat dan pasar malam masyarakat ini dihadiri oleh beragam kalangan, tidak hanya orang Islam saja. Para bule pun ikut menunggu-nunggu upacara adat ini. Mengapa? Tentu saja karena setiap acara adat mengandung nilai akar masyarakat. Festival tidak hanya bernilai, namun juga menghibur. Festival Islam ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang menyenangkan.

Dalam festival Islam ini, ritual Islam dapat menyatu dengan musik-musik lokal, tarian-tarian lokal. Wajah Islam tidak hanya berupa ritual-syariat atau politik, namun juga hiburan-hiburan yang egaliter dan menyenangkan.

4) Gotong Royong

Dalam Festival Maudu’ Lompoa di Sulawesi Selatan, masyarakat laut menghiasi kapal mereka, mengisinya dengan hasil bumi dan hasil laut, lalu menarik kapal yang super besar itu bersama-sama dari daratan ke lautan. Gotong royong!

Gotong royong adalah jiwa Festival Islam di Indonesia. Festival Islam bukan hanya milik masyarakat Islam, tapi jadi milik semua masyarakat laut. Di laut, mereka bersolawat dan berdoa, lalu lanjut berpesta.

5) Bersatu Sejak Dulu

Sejak dulu, festival-festival Islam di masyarakat telah menjadi cermin persatuan masyarakat. Bahkan, persatuan tersebut tidak hanya menyatukan masyarakat sesama Islam saja, namun juga masyarakat beragam identitas yang saling lebur berbagi ruang di tanah air Indonesia sejak dulu. Dalam konteks ini, masyarakat Islam di Indonesia sudah united sejak dulu bersama adat dan tradisinya.

Festival Islam di Indonesia tidak hanya berupa ceramah, namun melibatkan masyarakat dan menjadikan alam dan masyarakat sebagai pusat festival. Masyarakat adalah subjek. Festival Islam bertujuan menjadi sarana kesyukuran kepada Allah Swt, memuji Nabi Muhammad, dan berterima kasih kepada alam semesta. Tujuan yang bersifat kebaikan universal, sehingga siapa saja senang terlibat dalam tradisi dan kekayaan bangsa ini. Festival adalah milik masyarakat, bukan milik elit atau kelompok-kelompok tertentu.

Indah, ya? Bagaimana dengan Festival Islam khas Indonesia di daerah asalmu?