Islam Cepat Saji dan Mengapa Felix Siauw Lebih Cepat Tenar Dibanding Ustadz Lain

Islam Cepat Saji dan Mengapa Felix Siauw Lebih Cepat Tenar Dibanding Ustadz Lain

Mengapa islam tradisional justru kalah pamor dibanding Felix Siauw atau Ustad lain?

Menurut riset PPIM UIN Jakarta, sekitar 40 persen guru memiliki opini radikal. Lebih dari 50% memiliki opini intoleran terhadap agama lain. Yang mengejutkan bagi saya, sebagian besar merasa berafiliasi dengan islam mayoritas, apa NU ada di dalamnya? Faktanya demikian.

Berlslam ala NU ini, apalagi di kota, meski dari luar terlihat sederhana atau bahkan barangkali di mata sebagian orang tampak ngawur dan serampangan, sebenarnya sangat rumit dan membutuhkan kadar keilmuan yang cukup besar.

Contoh gampang saja: jargon Islam Nusantara yang akhir-akhir ini kerap dikampanyekan oleh kalangan NU dan sering dikritik oleh hampir semua kelompok Islam yang lain sebenarnya merupakan sebuah konsep yang lumayan rumit. Upaya memadukan prinsip-prinsip Islam dengan budaya lokal nusantara bukan sesuatu yang bisa dibilang sederhana.

Read More

Untuk memahami dan menerimanya di tataran kognitif, diperlukan pemahaman mendalam mengenai beberapa hal sekaligus. Saya coba sebutkan sedikit di antaranya: keluasaan khazanah mengenai beragam tafsir terhadap ayat-ayat Al-Quran, pemahaman mendalam mengenai kaidah fikih sekaligus usul fikih alias prinsip-prinsip untuk membuat aturan agama, juga penguasaan yang baik atas budaya lokal, pemahaman mendalam mengenai manusia, di titik apa mereka berbeda dan di titik apa mereka memiliki kesamaan.

Setelah semua itu dan mungkin beberapa yang lain (maafkan keterbatasan pengetahuan saya) barulah sesuatu semacam Islam Nusantara bisa terlahir.

Membaca penjelasan-penjelasan mengenai beberapa tradisi khas NU seperti tahlilan, slametan, dll atau pendapat NU yang lebih modern seperti soal bentuk negara, akan lebih terasa selayaknya membaca tulisan ilmiah ketimbang indoktrinasi tanpa pikir. Ada latar belakang, ada banyak rujukan kitab ini dan itu, ulama anu dan anu, ada pembahasan dan kesimpulan yang sistematis.

Kerumitan konsep Islam ala NU itulah yang membuat massa awam, mereka yang belum punya cukup pengetahuan mengenai agama, hampir bisa dipastikan lebih memilih mengikuti akun twitter Felix Siauw ketimbang Nadirsyah Hosen misalnya. Lihat saja perbedaan bahasan dua orang ini mengenai kehalalan vaksin.

Sementara yang satu menyebut tentang teori konspirasi, yang lain menjelaskan mengenai 3 teori fikih. Iya, tiga teori. Bukan cuma satu, tapi tiga.

Saya rasa itu pula sebabnya, ke-NUan berkelindan erat dengan kultur pesantren. Islam ala NU bukan Islam cepat saji. Ia membutuhkan lapis-lapis pengetahuan yang memadai agar bisa bersemayam kokoh dalam diri penganutnya. Lapis-lapis itu hanya bisa digapai melalui pendidikan agama yang cukup lama.
Masalahnya, ada lewat cara lain menjadi NU yang tidak terlalu ilmiah: melalui jaring kekerabatan atau keakraban.

Orang menjadi NU karena orangtuanya, kerabatnya, atau warga kampungnya mengamalkan Islam ala NU. Bisa dibilang, yang berperan penting di sini adalah mekanisme psikologi kelompok. Ke-NU-an menjadi tak jauh bedanya dengan tribalisme, kesukuan, kekelompokan. Menjadi NU hampir sama dengan menjadi suporter klub sepak bola tertentu. Sangat banyak yang demikian.

Sebenarnya tidak ada yang salah juga dengan itu. Hanya saja, ke-NU-an yang terakhir ini rapuh. Mengamalkan Islam ala NU semata-mata karena mengikuti lingkungan tanpa dilambari pengetahuan yang memadai tak akan cukup kuat menghadapi guncangan dan serbuan Islam versi yang lebih sederhana di era digital ini.

Ajaran Islam radikal biasanya sangat sederhana, tekstualis. Anda hanya perlu kemampuan dasar membaca bahasa Indonesia. Sudah. Itu saja. Selebihnya Anda sebenarnya hanya sedang digiring untuk mencari pembenaran atas intuisi moral yang terbentuk tanpa sadar di awal kehidupan Anda.

Bisa dibayangkan betapa mengkhawatirkan bila intuisi moral dan emosi yang mendominasi dalam diri seseorang lebih banyak bersifat negatif? Penuh prasangka pada liyan (karena ini efek samping semangat kekelompokan)? Tentu opini intoleran atau radikal jadi lebih mungkin muncul dalam orang NU (atau orang Islam, atau pemeluk agama apa pun) yang seperti ini.

Mungkin itu yang terjadi pada para guru tersebut: menjadi NU secara kultural, namun lupa menyokongnya dengan lapis demi lapis pengetahuan yang menjadi fondasi Islam ala NU.