Integrasi Imigran Muslim di Jerman dan Trauma Minoritas Masa Lalu

Integrasi Imigran Muslim di Jerman dan Trauma Minoritas Masa Lalu

Bertubi-tubi permasalahan integrasi dan imigrasi menjadi headline di beberapa media lokal dan nasional. Sebagai warga asing, juga imigran temporal, saya sering merasa ‘dibicarakan’ publik.

Sebuah sketsa lukisan akhir abad 18 seakan menjadi saksi awal sejarah hubungan diplomasi antara kerajaan Ottoman yang bermarkas di Istanbul  dan Prusia, yang bermarkas di Berlin dibawah Frederick III. Kala itu, dinasti terakhir Islam ini merupakan partner penting kerajaan Prusia melawan Austria dan Rusia untuk menguasai Eropa. Tak heran, beberapa utusan diplomat Ottoman disambut dengan kemeriahan oleh Frederick III ketika sampai di Berlin, tepatnya pada tanggal 9 November 1763.

Rombongan berkuda, yang dinaiki oleh beberapa lelaki khas dengan turban dan pakaian bergaya Ottoman nampak dari guratan-guratan lukisan karya pelukis Jerman Daniel Chodowiecki 3 Mei 1765. Utusan diplomat Ottoman inilah, yang konon, merupakan titik awal persinggungan jejak umat Muslim di Jerman sekitar dua ratus tahun yang lalu.

Read More

Namanya Ali Aziz Efendi. Salah satu bagian rombongan yang ditunjuk sebagai diplomat Ottoman di bawah Sultan Salim III untuk Prussia (kerajaan bangsa Jerman dan negara bersejarah yang berasal dari Kadipaten Prusia dan Margraviasi Brandenburg).

Dia merupakan seorang sufi, dan penyair. Salah satu karyanya adalah Muhayyelât. Sayang sekali  masa tugasnya hanya berlangsung satu setengah tahun hingga akhirnya meninggal di Berlin pada musim panas 29 Oktober 1798.

Persoalan pun muncul tentang bagaimana Ali Aziz Efendi dimakamkan.  Frederick III akhirnya menghibahkan sepetak tanah, berdekatan dengan pemakaman tua Hallesches Tor yang berdiri sejak 1735. Dari sepetak tanah inilah, kemudian berkembang menjadi pemakaman khusus Muslim hingga menjadi masjid Turki pertama di Berlin yang bernama Sehitlik, yang berarti “Syahid”.

Kebetulan, beberapa waktu lalu saya sempat berkunjung ke masjid dan pemakaman ini. Masjidnya bagus, khas arsitektur Turki dihiasi dengan dua menara tinggi berwarna biru abu-abu. Puluhan Muslim memadati area masjid karena hendak menjalankan shalat Dzuhur.

Area pemakaman tersebut terletak persis di halaman masjid. Nampak sebuah batu nisan kuno yang tertulis Ali Aziz Efendi, juga beberapa diplomat Ottoman dan warga muslim lainnya yang dimakamkan kurang lebih seratus tahun yang lalu.

Fenomena kehidupan Muslim di negara sekuler Jerman sudah bukan menjadi hal baru. Begitu banyak saya menjumpai masjid, sekolah agama, toko-toko yang menyediakan makanan halal, juga wanita berjilbab yang menghiasi tiap-tiap sudut kota Berlin. Kreuzberg, Neukoln, dan Wedding merupakan daerah dengan jumlah Muslim terbanyak di Berlin. Karakter muslim Turki begitu kental di Jerman, karena dua pertiga dari penduduk Muslim di Jerman merupakan keturunan Turki.

Namun, ribuan muslim yang ada di Jerman sekarang bukan merupakan keturunan dari generasi awal para diplomat Ottoman, atau tawanan paska perang The Siege of Vienna (1529). Dalam catatan sejarah, beberapa Muslim generasi awal  dinyatakan telah meninggal, dan kembali ke negara asalnya Turki, hingga paska Perang Dunia I, tepatnya tahun 1930, pertama kalinya dibentuk organisasi Muslim di Jerman dengan nama “Deutsch-Moslemische Gesellscahft (German Muslim Society)” yang diprakarsai oleh beberapa pelajar, akademisi, pekerja dan warga Jerman yang masuk Islam.

Di tahun berikutnya sekitar 1970-an, tepat disaat Jerman memulai kerja sama dengan beberapa negara Muslim, khususnya Turki, Iraq, Libanon, Afghanistan, Bosnia dan Kosovo, ribuan muslim mulai memadati kota-kota industri di Jerman. Status awal sebagai ‘guest worker’ lambat laun berpindah menjadi ‘citizenship’ atau menjadi warga negara Jerman pada tahun 1993. Kebijakan ini terjadi setelah peristiwa Solingen Attack, pembunuhan terhadap warga keturunan Turki oleh kelompok Neo-Nazi.

Tujuh tahun lalu, ketika Angela Merkel memberi pernyataan tentang multikulturalisme di negara Jerman. Dengan lantang dia mengatakan bahwa konsep multikulturalisme gagal. Bahkan sampai saat ini, konsep tersebut masih menemukan jalan buntu.

Di tahun yang sama, Thillo Sarazin, politikus SPD mengeluarkan buku kontroversial mengenai kehidupan imigran Muslim. Buku ini mendapat protes keras dari berbagai pihak. Dalam bukunya “Germany is Abolishing It self”, Thillo menyatakan bahwa imigran Turki dan Arab tidak mau berintegrasi dengan baik.

Bertubi-tubi permasalahan integrasi dan imigrasi menjadi headline di beberapa media lokal dan nasional. Sebagai warga asing, juga imigran temporal, saya sering merasa ‘dibicarakan’ publik. Tentu, karena saya muslim, saya berjilbab, dan saya bukan warga negara Jerman.

Saya jadi teringat beberapa puluh tahun yang lalu, ketika Jerman dikuasai oleh kelompok Nazi. Saat itu pembersihan etnis dilakukan oleh Hitler yang sampai sekarang masih dianggap tidak manusiawi. Sayangnya, saat ini mendadak Jerman seperti ingin menjadi pahlawan bagi para minoritas: Yahudi, Sinti, homosexual dan orang-orang cacat, yang ketika itu menjadi sasaran empuk pembunuhan massal.

Berapa ratus monumen bersejarah Yahudi yang dijadikan pusat memorial di berbagai kota di Jerman. Homosexual, mendapatkan tempat yang istimewa di Berlin. Bahkan setiap musim panas ada parade khusus bagi homosexual dan lesbian yang digelar satu bulan penuh. Belum lagi penyandang cacat. Selain karena sisi kemanusiaan, Jerman nampaknya ingin mengobati masa kelam yang diderita mereka ketika Hitler memegang kendali.

Lagi-lagi, saya hanya mengandaikan. Sesungguhnya persinggungan antara Jerman dengan kaum minoritas sudah berlangsung cukup lama. Puncaknya terjadi di era Nazi. Tentu, Jerman tidak akan mengulang sejarah kelam tersebut sekarang, di mana minoritas Muslim semakin berkembang bahkan beberapa di antaranya kemudian berstatus sebagai warga negara Jerman.

Hubungan keduanya, menurut hemat saya, hanya bisa dijaga dengan sama-sama tidak memaksa ‘lifestyle’-nya masing-masing. Perdebatan semakin larut dan melebar ke arah isu-isu politik, agama, juga ras, yang pada hakekatnya berawal dari perbedaan gaya hidup.

Beberapa catatan dan peristiwa sejarah juga sejatinya berguna untuk dijadikan rujukan. Mengenai bagaimana sesungguhnya baik masyarakat Jerman dan kaum minoritas memahami transformasi populasi yang berimbas ke ranah sosial dari tahun ke tahun.

Toh, kebebasan beragama juga dilindungi oleh pemerintah. Keikutsertaan imigran Muslim dalam perkembangan Jerman terlihat jelas. Pajak tinggi yang mereka keluarkan tidak lain juga untuk mempertahankan stabilitas sosial dan ekonomi negara.

Ah, andai saja kedua belah pihak saling menyatukan paham bahwa mereka adalah bagian terpenting dalam pembangunan negara Jerman, pasti tidak akan ada lagi isu ‘clash of civilization’ yang selalu jadi tameng atas segala bentuk diskriminasi terhadap imigran. Keduanya. Tanpa memihak satu-pun diantaranya.

Wallahu a’lam.