SHARE

Tanpa terasa, banyak dari kita ikut terbawa arus perjalanan hidup seorang anak remaja berumur 18 tahun, bernama pena: “Afi Nihaya Faradisa.”

Afi, anak remaja desa asal Banyuwangi yang dibesarkan dari keluarga sangat sederhana seperti menjelma sebagai icon ceritera khayal karangan HC. Anderson, yang dipaksa harus memerankan lakon sempurna yang harus memuaskan semua pembacanya. Afi seperti menjadi bagian dari fantasi banyak orang, menjadi contoh tokoh baik atau buruk dalam ceritera kehidupan. Media sosial adalah rahim yang paling bertanggung jawab atas kelahiran anak digital model Afi ini. Jelas, ini sebuah fenomena khas yang mungkin belum pernah terjadi sebelumnya.

Membaca kerasnya gejolak yang menimpa dirinya, saya pernah ikut menulis tentang Afi sebagai bagian dari kepedulian saya (mungkin lebih tepatnya kekhawatiran saya) terhadap perkembangan pribadinya. Jelas, arus besar pro kontra politik yang tengah berkecamuk ikut membawanya ke dalam pusaran perdebatan sengit, telah menjadikan Afi bulan-bulanan pernilaian. Afi sendiri mungkin tak memahami sepenuhnya bahwa ada faktor lain yang menjadikannya seperti sekarang ini.

Setelah mengenal lebih dekat anak ini, dan berkesempatan bertemu dan berbicara langsung secara lebih intensif dengannya, saya ingin sekali berbagi saran. Siapa tahu saran ini dapat bernilai positif bagi perkembangan Afi maupun menjadi pembelajaran kita semua dalam menghadapi fenomena ini.

Melihat perkembangan Afi akhir-akhir ini yang hidup dalam kepungan media, dan mendadak sibuk memenuhi undangan dialog beragam tema dan diserbu beragam pertanyaan yang tak selalu mudah untuk dijawab, terus terang saya jadi was was. Banyak porsi yang terasa melampaui batas ukurannya. Beruntung bila ia mampu menjawab baik. Namun bila tidak, ia akan menjadi sasaran kekecewaan dan cemooh.

Kemudian, dengan media menjadikannya “celebrity dadakan”, Afi bisa salah kalkulasi tentang potensi dirinya yang sebenarnya, baik potensi akademis maupun psikologis. Saya bukan psikolog. Namun dunia medsos yang ekstrim, yaitu di satu sisi sering memberi pujian berlebihan, dan di sisi lain sering memberikan cacian yang terasa melampaui batas, bisa menjadikan Afi terombang-ambing dalam pribadi yang terbelah.

Saya berkesimpulan, yang terbaik buat Afi saat ini (setidaknya untuk sementara waktu) adalah dikembalikan ke dunia asalnya; dunia remaja dengan lingkungan yang tak terlalu jauh dari iklim dan jalur sosialisasi tempat ia dibesarkan. Biarkan dia berkembang secara lebih alamiah sebagaimana umumnya anak lain di Indonesia. Bebaskan dia dari tekanan.

Berilah dia ruang untuk menemukan karakter yang lebih pas sesuai tingkat kemampuannya yang sebenarnya, dengan kelebihan dan kekurangan yang ia miliki. Tak perlu dia didorong terlalu keras untuk melambung memenuhi fantasi yang mungkin ada di kepala banyak orang, yang bila tak terkendali malah dapat menjadikan Afi merasa “harus kejar terget”, jauh melampaui kemampuan yg sebenarnya. Perilaku menyimpang bisa muncul dalam keadaan seperti ini. Dalam berfikir, menganalisa, dan menulis, jelas ada proses yang harus dipelajari. Dan tak selalu mudah.

Afi sebenarnya seperti anak Indonesia biasa lainnya yang masih perlu dibantu dalam berfikir, bersikap dan berilaku. Anak tangga yang terlalu tinggi yang ia tapaki saat ini dapat menjadikan dirinya rentan bila terjatuh. Kondisi “besar pasak daripada tiang” bisa terjadi kalau ia terus menerus didorong untuk memenuhi target yang belum menjadi kapasitasnya.

Mungkin, karena itu pula, saya berniat untuk memberi komentar tentang fenomena Afi ini yang terakhir. Semoga dengan cara ini saya dapat membantu mengurangi beban psikologisnya; mengurangi imagi yang keliru. Berbagai pengalaman yang Afi jumpai, baik sengaja atau tidak, semoga dapat menjadi bagian penting dalam perenungan untuk menemukan dirinya yang sebenarnya, pribadi yang lebih pas dengan keadaan yang pas pula.

Saya melihat, saat ini yang paling diperlukan Afi adalah mencoba membangun integritas dan mengembangkan “emotional intelligent” pada dirinya. Mobilitas vertikal yang begitu mendadak dan jauh ke atas, bisa berakibat pada “gegar budaya” yang destruktif terhadap kondisi psikologisnya.

Karena itu, biarkan Afi istirahat dari hiruk pikuk. Kembalikan dirinya pada jalur wajar dan sehat, bebas dari sorak sorai gemuruh penonton di sekelilingnya. Foto Afi yang sempat saya ambil ketika berdiskusi di Gedung TEMPO, bagi saya memberi sinyal jelas bahwa ia lelah, perlu istirahat, perlu bebas dari tekanan dan ekspektasi terlalu besar pada dirinya. Dalam forum diskusi ini, Afi malah terlihat sempat tidur sekejap dengan badan rebah tersender kursi di depan 200an orang yang hadir. Ia jelas perlu terbebas dari tekanan yang berasal dari luar maupun tekanan dari dirinya sendiri.

Saya ikut berdoa untuk kebaikannya, sebagaimana saya berdoa untuk anak anak Indonesia lainnya. No more no less.

*) Dr Imam B Prasodjo