Ini Tiga Cara Nabi Muhammad Menjaga Lingkungan

Ini Tiga Cara Nabi Muhammad Menjaga Lingkungan

Nabi Muhammad SAW telah memberikan anjuran sekaligus contoh kepada umatnya untuk senantiasa menjaga lingkungan.

Ini Tiga Cara Nabi Muhammad Menjaga Lingkungan

Ketika tengah dalam perjalanan, dari jauh Rasulullah melihat seorang sahabat sedang asyik mempermainkan seekor anak burung. Melihat itu, beliau berkata, “Siapa yang menyakiti burung ini dengan mengambil anaknya? Kembalikanlah anak burung ini kepada induknya!”.

Ungkapan itu dimaksudkan untuk menegur tindakan menyakiti binatang tersebut. Mendengar teguran itu, para sahabat Nabi pun menyadari sesuatu. Bahwa binatang, termasuk makhluk Allah yang layak untuk dikasihi dan dilindungi.

Pada kesempatan lain, Nabi tampil dengan tegak di hadapan sahabatnya dan bersabda. “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik (dan) menyukai kebaikan, bersih (dan) menyukai kebersihan, mulia (dan) menyukai kemuliaan, bagus (dan) menyukai kebagusan. Oleh sebab itu, bersihkanlah lingkunganmu”. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.  Lagi-lagi menegaskan bahwa keseimbangan alam harus dirawat dan dilindungi.

Kita sebagai muslim nampaknya memang harus menyadari kenyataan bahwa Islam senantiasa menyuruh kita untuk menjaga lingkungan. Apapun alasannya, seorang muslim tidak dibenarkan untuk mengekploitasi lingkungan hidup. Sebab akhirnya akan menimbulkan mudharat yang besar, jika tidak melindungi lingkungan.

Lagi dalam sebuah hadis Nabi bersabda; “Menyingkirkan gangguan dari jalan merupakan sedekah” (HR. Al Bukhari)”. Kesadaran untuk mencintai lingkungan hidup, termasuk benih yang indah dalam budi yang luhur. Budi—seperti kata Goenawan Mohamad—, memiliki pengertian reason dan moralitas. Artinya, hasrat untuk menjaga lingkungan, sudah seharusnya masuk dalam tataran moralitas yang dimiliki siapa pun. Moral harus menjadi laiknya cahaya, yang mampu menerangi manusia di mana pun ia berada.

Harapan inilah yang diinginkan oleh Rasulullah pada umatnya yang tertera dalam pelbagai susunan hadis. Semua menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan akan membawa dampak yang buruk pada manusia. Agama Islam, yang dibawa Rasulullah, dengan sangat banyak menghimbau umat manusia untuk tidak mengeksploitasi lingkungan hidup secara berlebihan.  Simak firman Allah berikut:

ظَهَرَ الۡفَسَادُ فِى الۡبَرِّ وَالۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِى النَّاسِ لِيُذِيۡقَهُمۡ بَعۡضَ الَّذِىۡ عَمِلُوۡا لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُوۡنَ

Artinya: 

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena tangan manusia, sehingga Allahmencicipkan kepada mereka mereka  sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS: Al-Rum ayat 41)

Cara Nabi Merawat Lingkungan

Dalam riwayat dikisahkan bagaimana Nabi Muhammad hidup dan menjaga lingkungan. Ia hidup penuh dengan inspirasi. Rumahnya dari batu bata yang tidak dibakar. Atapnya dahan pohon palma. Nabi dari Tanah Haram ini menambal baju sendiri, memperbaiki alas kakinya yang rusak. Ia memakan makan yang mudah. Tidak berlebihan dalam segala hal.

Ia juga memberikan rambu-rambu untuk menghargai alam. Ia tancapkan rambu-rambu untuk pelestarian lingkungan. Nabi contohkan kepada para sahabat untuk meniru perbuatannya dalam menjaga lingkungan hidup.

Pertama, Nabi melarang melakukan pencemaran lingkungan. Pasalnya, tindakan ini akan merugikan, bukan hanya manusia, hewan-hewan atau binatang lain akan terimbas dari tindakan pencemaran lingkungan.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Nabi bersabda agar tidak kencing atau buang air besar di sungai tidak mengalir, kencing di genangan air, ataupun buang air besar di tempat yang dilalui oleh umat manusia. Sebab itu akan membuat orang-orang kesusahan, air akan rusak, dan mengotori lingkungan.

عن أبي هريرة -رضي الله عنه-، أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: ((لا يبولن أحدكم في الماء الدائم الذي لا يجري ثم يغتسل فيه)) ولمسلم: ((لا يغتسل أحدكم في الماء الدائم وهو جنب

Artinya:

“Dari Abu Hurairah,  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Janganlah sekali-kali salah seorang diantara kalian kencing di air yang tidak mengalir kemudian mandi di dalamnya.'” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Lingkungan hidup yang tercemar akan menimbulkan kerusakan alam. ”Semakin marak kerusakan ekosistem laut dan darat, akan semakin besar pula dampak negatifnya bagi keberlangsungan hidup manusia. Bukankah Allah menciptakan semua makhluk saling terkait. Dalam keterkaitan itu lahir keserasian dan keseimbangan,” tulis Prof. Quraish Shihab dalam kitab Tafsir Al Misbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an .

Prof. Quraish Shihab dengan tegas mengatakan dosa dan pelanggaran yang dilakukan manusia membuat sistem keseimbangan alam jadi tak terkontrol. Dengan kata lain, krisis lingkungan hidup di dunia tidak lepas dari campur tangan manusia. Pun bencana alam yang terjadi di muka bumi, imbas dari kelakuan  bejat manusia yang tega merusak lingkungan. “Kekurangan hasil laut dan tenggelam, ikan dan terumbu karang yang rusak. Kerusakan ini diakibatkan oleh tangan manusia yang durhaka,” katanya.

Kedua, Nabi menyuruh untuk menghemat air. Tak bisa dipungkiri, air dalam kehidupan manusia memiliki arti yang sangat penting. Tanpa kehadiran air dalam kehidupan makhluk hidup akan menghadapi krisis. Pun dalam Islam, agama ini menyadari betapa pentingnya air dalam kehidupan manusia. Rasulullah berpesan dalam pelbagai sabdanya, memerintahkan manusia untuk tidak berlebihan Dalam penggunaan air, Muslim harus menghemat air, sekalipun untuk ibadah, seperti mandi wajib dan berwudhu.

Dalam sebuah hadis, ada cerita dari Sa’ad. Sebagaimana dikisahkan dalam sebuah hadis riwayat dari Ibnu Majah, Ia tengah bingung dan bertanya kepada Nabi perihal yang dilakukannya yang terkesan boros dalam penggunaan air.  “Apakah di dalam wudhu ada berlebih-lebihan?” tanya Sa’ad.; “Ya,” Seketika Rasulullah menjawab.  Lanjut Nabi, “Walau pun engkau sedang berada berada di sungai yang mengalir,” jawab Nabi.

Lewat hadis yang mulia ini, Rasulullah memberikan nasihat kepada sahabatnya untuk tidak berlebihan dalam menggunakan air. Sikap berlebihan (israf), sekalipun dalam beribadah merupakan tindakan yang tidak baik. Sekalipun dalam kondisi air melimpah, Islam tidak dibolehkan dalam berlebih-lebihan sekalipun untuk berwudhu maupun mandi junub.

أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ مرَّ بسعدٍ وَهوَ يتوضَّأُ ، فقالَ : ما هذا السَّرَفُ ؟ قالَ : أفي الوضوءِ إسرافٌ ؟ قالَ : نعَم وإن كنت على نَهْرٍ جارٍ

“Rasulullah SAW melewati Saad -bin Abi Waqas- yang sedang berwudhu, kemudian beliau berkata, ‘Pemborosan apa ini?’ Sa’ad menjawab, ‘Apakah ada pemborosan di dalam wudhu?’ Beliau berkata, ‘Betul, meskipun engkau berada disungai yang mengalir.'”

Ketiga, sebagai upaya menjaga lingkungan, Nabi dalam sabdanya melakukannya dengan cara menghidupkan tanah mati dengan menanam pohon. Dalam beberapa waktu, Nabi menceramahkan untuk para sahabat untuk mengelola pelbagai tanah yang kosong untuk dikelola. “Barang siapa yang menghidupkan tanah yang mati, maka baginya pahala. Dan apa yang dimakan binatang darinya, maka itu baginya pahala sedekat,” kata Nabi Muhammad.

Seorang yang menanam pohon akan mendapatkan pahala yang besar. Pohon  memiliki manfaat yang besar bagi kehidupan umat manusia. Pohon pelindung  bagi manusia. Pohon menghasilkan oksigen untuk manusia bisa bernafas. Pohon juga memiliki manfaat untuk menahan erosi dan longsor saat musim penghujan. Dengan demikian, pohon adalah sumber kehidupan manusia. Yang berguna untuk kelangsungan makhluk hidup.