Ini Jenis Obat yang Tidak Membatalkan Puasa

Ilustrasi: moneycontrol.com

Ini Jenis Obat yang Tidak Membatalkan Puasa

Ternyata tidak semua obat bisa membatalkan puasa loh. Ini obat-obat yang bisa digunakan saat kita berpuasa.

Saat berpuasa setiap muslim tentu berharap bisa menjalaninya dengan nyaman tanpa ada gangguan. Nah, salah satu hal yang dianggap mengganggu adalah ketika sakit mendera. Puasa tak nyaman, aktivitas tak jalan.

Karena sakit, akhirnya kita berobat. Dengan indikasi tertentu, tenaga medis memberikan obat untuk digunakan. Apakah Anda kerap khawatir saat berobat tentang jenis obat yang dipakai serta tindakan medis yang dilakukan, termasuk membatalkan puasa atau tidak?

Kekhawatiran ini agaknya cukup beralasan, karena banyak kitab fiqih menyebutkan bahwa puasa itu batal jika “seseorang memasukkan sesuatu ke dalam lubang tubuh yang terbuka”. Istilah ini adalah yang digunakan oleh Syekh Zakariya al-Anshari dalam kitab Fathul Wahhab.

Read More

Menyoal obat dan kaitannya dengan batalnya puasa, hal yang perlu diperhatikan setidaknya adalah jenis dan wujud zat yang dimasukkan, cara kerja obat dalam tubuh, serta bagaimana cara memasukkannya. Perbedaan dalam penetapan masalah inilah yang kerap menimbulkan perbedaan pendapat. Fatwa ulama terdahulu tentu banyak belum mencakup pengetahuan medis yang berkembang saat ini.

Namun Anda tak perlu resah. Sebagai pegangan, Anda bisa merujuk infografik rilisan Kementerian Kesehatan RI tentang jenis obat yang tidak membatalkan puasa. Rilis tersebut merujuk kepada hasil konferensi An Islamic View of Certain Contemporary Medical Issues yang digelar di Maroko tahun 1997.

Seminar tersebut konon dihadiri para ahli fiqih dari berbagai dunia Islam, dan tentu saja, para praktisi medis dan ilmu lain yang terkait. Salah satu hasil rilis tersebut adalah jenis-jenis obat yang tidak membatalkan puasa. Berikut jenis-jenis obat berdasarkan penggunaannya yang tidak membatalkan puasa:

1.  Obat yang diserap melalui kulit

Obat-obatan seperti salep, krim, plester dan koyo, tidak membatalkan puasa. Obat seperti salep dan krim digunakan secara lokal, dan kerap diindikasikan dipakai pada bagian yang sakit saja.

2.  Obat tetes mata, tetes telinga, atau tetes hidung

Obat tetes mata digunakan untuk digunakan secara langsung ke dalam mata. Begitu pula dengan obat tetes telinga. Karena keduanya bersifat dalam batas bagian tubuh yang lokal, maka keduanya tidak membatalkan puasa. Cara kerja kedua jenis obat ini tidak masuk ke saluran pencernaan, dan karena itu dinilai tidak membatalkan puasa.

3.  Obat sublingual

Sublingual adalah obat yang digunakan dengan menyelipkannya di bagian bawah lidah. Salah satu contoh obat yang digunakan untuk ini adalah nitrogliserin untuk pengobatan nyeri dada yang disebabkan gangguan fungsi jantung. Setelah diletakkan, obat ini akan segera diserap oleh lapisan sel mukosa yang berada dalam permukaan bawah lidah, dan disalurkan melalui kapiler dan pembuluh darah ke organ sasaran.

4.  Obat inhalasi untuk gangguan pernapasan

Obat dikembangkan semakin spesifik ke organ sasaran menimbang kecocokan dan kemanjurannya. Semisal untuk sesak napas, maka dikembangkan obat yang digunakan secara inhalasi – dihirup dan langsung menuju saluran pernapasan.

Contoh jenis ini adalah obat untuk asma atau infeksi saluran pernapasan. Gangguan pernapasan ini kerap terjadi sewaktu-waktu, dan obat inhalasi ini menjadi antisipasi saat sesak muncul mendadak.

Meski dalam rilis konferensi di Maroko ini disebutkan tidak membatalkan puasa, ada beberapa ulama yang menilai penggunaan obat inhalasi ini membatalkan puasa, karena meski menuju saluran pernapasan, namun sebagian dari obat tersebut tertelan ke saluran pencernaan.

5. Obat kumur, selama tidak ditelan

Obat kumur atau tidak membatalkan puasa, toh memang kebanyakan obat semacam ini tidak ditelan. Hal yang kerap dipertimbangkan adalah rasa yang tertinggal saat berkumur. Namun secara umum, jika memang sudah diusahakan untuk dibersihkan sisa rasanya, tidak masalah.

6. Obat injeksi lewat kulit, otot, atau intravena

Suntik tidak membatalkan puasa, karena ia memang tidak melalui jalan terbuka. Berbagai cara suntik, baik yang melalui kulit, lapisan bawah kulit, jaringan otot dan sebagainya, tidak membatalkan puasa.

7. Cairan infus

Bagaimana dengan infus? Pemberian asupan cairan secara intravena (melalui pembuluh darah vena) memang tidak dilakukan lewat lubang tubuh yang terbuka. Menurut hasil konferensi di atas, pemberian cairan infus jenis apapun tidak membatalkan puasa, kecuali yang bersifat nutrisi.

Sementara ulama menyatakan infus yang membatalkan ini adalah jenis infus glukosa, yang dinilai mirip dengan kandungan makanan. Nyatanya setiap pemberian jenis infus, memiliki indikasi masing-masing sesuai dengan kondisi kebutuhan tubuh pasien.

8.  Obat Suppositori

Obat jenis suppositori adalah obat berbentuk padat yang digunakan langsung ke dalam tubuh melalui saluran kencing, alat kelamin perempuan, atau anus. Jenis obat ini akan meleleh atau melarut dalam suhu tubuh, dan masuk lewat lapisan sel-sel daerah yang diberi obat ini.

Namun sebagian ulama menyebutkan bahwa zat yang dimasukkan lewat anus atau vagina ini membatalkan puasa, karena termasuk memasukkan sesuatu ke lubang tubuh. Hal ini sebagaimana dinyatakan sebagian ulama mazhab Syafi’i.

9. Oksigen

Pemberian oksigen dinilai seperti bernapas pada umumnya. Oksigen ini diberikan saat tubuh mengalami gangguan pernapasan yang menyebabkan saturasi oksigen di tubuh berkurang, yang bisa berdampak ke seluruh tubuh. Karena itulah tambahan oksigen dipandang perlu.

Penggunaan jenis obat di atas mungkin bisa beda kesimpulan di kalangan ulama. Selain pemahaman yang berbeda di kalangan ulama fiqih terkait pemahaman cara penggunaan obat serta kesesuaiannya dengan ta’bir dan analisis imam mazhab, hal ini bisa menjadikan kesimpulan hukum yang berbeda.

Selain itu, pemberian obat kepada seseorang tentu harus menimbang indikasi dan kontraindikasi yang ada. Meskipun memang kadang seseorang berkehendak untuk berpuasa, dalam beberapa kasus, memutuskan tidak berpuasa agar kondisi badan lebih fit berdasarkan anjuran tenaga medis tentu akan lebih baik.

Agar lebih mantap soal ini, silakan berkonsultasi kepada tenaga medis terdekat tentang obat yang Anda konsumsi. Demikianlah penjelasan seputar obat-obatan yang tidak membatalkan puasa. Tentu daftar di atas tidak final, dan masih bisa menerima beragam sudut pandang. Semoga ibadah kita di bulan puasa ini lancar dan dijauhkan dari penyakit.

Wallahu a’lam.