Ibnu Sidah, Ulama Tunanetra Andalusia yang Produktif Menulis

Ibnu Sidah, Ulama Tunanetra Andalusia yang Produktif Menulis

Ibnu Sidah, Ulama Tunanetra Andalusia yang Produktif Menulis

Andalusia merupakan salah satu negeri pencetak ulama-ulama besar kenamaan. Dari kota ini lahir sejumlah sarjana Muslim yang memiliki peran dan kontribusi penting dalam berbagai bidang keilmuan. Para pemikir besar (sekadar menyebut contoh) seperti Muhyiddin Ibn Arabi dan Ibn Sab’in dalam bidang tasawuf, Dawud Ad-Dhahiri dalam ilmu fikih, Az-Zarqali dan Jabir ibn Aflah dalam bidang Matematika dan Astronomi, Abul Qasim Az-Zahwai, Ibn Baithar dan Ibn Wafid dalam ilmu kedokteran dan tumbuhan, Al-Idrisi dan Ibnu Jubair dalam bidang ilmu geografi dan hikayat para pelancong, hingga Ibn Rushdi, Ibn Bajah dan Ibn Thufail dalam bidang filsafat, adalah sederet sarjana-sarjana besar kenamaan yang berasal dari Andalusia. Untuk lebih lengkap mengenai sejarah pemikiran dan sarjana yang lahir dari kota Andalusia ini bisa dibaca dalam karya  Angel González Palencia berjudul Historia de la literatura Arabigo-Espanola yang telah dialihaksarakan ke dalam bahasa Arab oleh Husain Mu’nis dengan tajuk “Tarikh al-Fikr al-Andalusiyy”.

Dari sekian banyak sarjana yang lahir dari kota Andalusia ini beberapa di antaranya sebagaimana disebutkan di atas memang sudah cukup terkenal dan telah ditulis oleh banyak penulis kita (dalam bahasa Indonesia). Namun masih banyak lagi yang saya kira belum cukup familiar di telinga kita, karena sependek pengetahuan saya, juga belum banyak diulas dalam tulisan berbahasa Indonesia. Di antara ulama besar Andalusia yang menarik perhatian saya untuk menuliskan dalam artikel pendek ini adalah seorang pakar bahasa Arab bernama Ibnu Sidah. Seorang ulama penyandang disabilitas netra yang memiliki kepiawaian dalam bidang gramatikal Arab dan ilmu lainnya serta memiliki beberapa belasan jilid tebal. Alasannya cukup sederhana. Selama ini, terutama saya, hanya mengenal Abdullah ibn Malik sebagai pakar gramatikal Arab asal Andalusia, padahal beberapa ulama sebelum Ibn Malik juga memiliki jasa dan kontribusi yang luar biasa di bidang ilmu yang dalam lingkungan pesantren disebut ilmu alat ini.

Nama lengkap Ibnu Sidah al-Mursi adalah Ali bin Ahmad bin Sidah Abul Hasan Al-Lughawi al-Andalusi al-Mursi. Sebenarnya para sejarawan berbeda pendapat dalam menyematkan nisbat bahkan namanya. Yaqut al-Hamawi menyebutnya dengan nama Abul Hasan Ismail Adh-Dharir (yang tunanetra). Ibn Basykuwal dalam karyanya berjudul “Ash-Shilah” menyebutnya Ali bin Ismail. Sementara al-Humaidi memilih nama Ali bin Ahmad sebagai nama asli Ibnu Sidah. Terlepas dari perbedaan pendapat tentang nama dan nisbatnya, Ibnu Sidah lahir pada tahun 398 H/1007 M dan wafat tahun 408 H/1065 M di kota yang sama; Murcia Spanyol.

Ia tumbuh berkembang dalam keluarga pecinta ilmu. Ayahandanya merupakan pengajar bahasa dan gramatika Arab (Nahw). Ayahnya wafat pada saat ia masih kecil. Meski demikian semangat dan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan tidak pernah padam.

Ayahanda dari Ibnu Sidah yang bernama Ahmad atau ada yang mengatakan Ismail ini juga seorang tunanetra.  Jamaluddin Abul Hasan ibn Yusuf Al-Qifthi (w. 624 H) dalam karya ensiklopedia pakar bahasa Arab berjudul Inbah Ar-Ruwwat ‘ala Anbah an-Nuhat mengatakan:

“Ia (Ahmad) adalah ayahanda dari Abul Hasan ibn Sidah. Seorang ahli ilmu gramatikal Arab asal Murcia yang cerdas dan seorang ahli makrifat. Ia belajar kepada Abu Bakar Az-Zubaidi (pakar tata bahasa Arab kenamaan asal Andalusia). Ayah dari Ibnu Sidah ini juga seorang ulama tunanetra. Ia wafat di Murcia beberapa tahun setelah tahun 400 H”.

Senada dengan Al-Qifthi, Az-Zirikli dalam Al-A’lam meyatakan juga bahwa Ibnu Sidah dan ayahandanya tunanetra.

Selain belajar kepada ayahandanya, tercatat ia juga menjadi santri dari ulama-ulama besar di masanya. Di antaranya ia belajar kepada Abu Umar Ath-Thalamanki  dan kepada Abul ‘Ila Sha’id al-Baghdadi (w. 1026 M) yang pernah tinggal di Andalusia pada tahun 380 H/ 990 M. Sementara di antara murid-murid Ibn Sidah adalah Abu Abdillah Muhammad ibn Khil’atah, Abu Bakr Muhammad ibn Ali dan lain-lain.

Ketekunan Ibn Sidah dalam belajar membuahkan hasil yang sangat luar biasa. Ia di kemudian hari menjadi seorang ahli dalam bidang bahasa Arab beserta ilmu-ilmu terkaitnya. Selain memiliki kepakaran dalam bidang gramatikal Arab, Ibnu Sidah juga memiliki kemahiran di dalam bidang ilmu lainnya seperti ilmu manthiq/logika dan juga ilmu hikmah (Shalahuddin Khalil Ash-Shafadi, 1911:204).

Pujian yang dilayangkan kepadanya dari sejumlah ulama yang hidup sezaman dengannya maupun setelahnya sangat banyak. Salah satu pujian datang dari Imam Adz-Dzahabi, ulama penulis biografi periwayat hadis ini memujinya dengan ungkapan berikut:

“Ia adalah imam dalam ilmu bahasa Arab. Penulis kitab Al-Muhkam. Salah seorang ulama paling cerdas di masanya. Ia adalah seorang tunanetra yang terlahir dari ayah yang juga tunanetra”.

Karya-karyanya

Keterbatasan fisik yang melekat sejak lahir dalam diri Ibnu Sidah tidak menyurutkannya dalam belajar dan berkarya. Bahkan dua di antara karya yang dihasilkan oleh Ibn Sidah berjumlah belasan jilid tebal. Pertama, Kitab Al-Muhkam wal-Muhith al-A’dzam. Sebuah kamus yang disusun berdasarkan alfabetis setebal 12 jilid. Kedua, kitab al-Mukhashash, sebuah ensiklopedia berbagai disiplin keilmuan yang terdiri dari 17 jilid tebal.

Mengenai kitab keduanya ini, saya akan sedikit bocorkan isi yang ditulis oleh beliau secara sekilas. Kitab kedua yang ditulis oleh Ibnu Sidah ini sangat kaya akan informasi karena memang memuat beragam aspek keilmuan, di antaranya: dalam jilid pertama dan keduanya ia memberikan ulasan tentang asal-usul manusia yang di dalamnya juga mengulas tentang anatomi tubuh manusia. Dalam jilid ketiga ia membahas tentang watak dan perilaku manusia; tentang nasab, kecerdasan, kebodohan, hingga tentang sifat-sifat yang melekat pada manusia lainnya.

Kemudian dalam jilid lima bukunya ini ia mengulas tentang serba-serbi makanan dan minuman. Ia membahas tentang roti yang enak, madu, dan hal-hal lain terkait dengan kuliner. Sementara di jilid enam dan tujuh ia menyajikan tentang ragam pedang, tombak, panah, hingga jenis-jenis kuda, sapi, dan unta kesayangan dari setiap kabilah di tanah Arab. Ia juga membahas tentang hewan-hewan lain dalam jilid sembilan di antaranya tentang binatang buas, binatang melata, dan burung-burung.

Jilid sepuluh tentang anatomi tumbuhan. Jilid dua belas tentang tasawuf. Jilid tiga belas tentang beragam aspek ilmu fikih. Dan pada tiga jilid terakhir, jilid lima belas hingga jilid tujuh belas, Ibnu Sidah mengulas tentang seluk beluk bahasa Arab yang diurai dari berbagai sisi: sharaf  (variasi ejaan)dan gramatikalnya.

Selain menulis dua karya tebal di atas, Ibn Sidah juga menulis sejumlah karya lainnya, di antaranya dalam bidang ilmu manthiq ia menulis Kitab al-‘Alam fil-lughat wal-ajnas dan dalam disiplin ilmu Nahwu ia menulis kitab syadz al-lughat dalam lima jilid.

Abu ‘Umar ath-Thalmanki mengisahkan:

suatu waktu saya bertandang ke kota Murcia. Penduduk kota ini menghendakiku untuk ikut mendengarkan sebuah kitab “al-gharib al-mushannaf” (sebuah mu’jam maudhu’i semacam kamus tematik yang disusun oleh Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam (W. 224 H) ). Lalu aku katakan kepada mereka: Coba siapa yang yang akan (sanggup) membacanya kepada kita semua? Sementara aku masih memegangi erat kitab milikku. Kemudian mereka mendatangkan seorang laki-laki bernama Ibn Sidah. Seorang tunanetra ini membacakan kitab dari awal hingga akhir dari luar kepalanya. Aku pun terkagum-kagum atas hafalan yang dimilikinya.  

Keterbatasan fisik tidak menyurutkan orang-orang seperti Ibnu Sidah untuk berkarya. Bahkan capaian yang telah berhasil ia torehkan jauh melampaui banyak orang yang justru diberikan kemampuan untuk melihat seperti sebagian di antara kita.  Semoga tulisan singkat ini bisa memicu dan meningkatkan kesadaran kita semua untuk terus belajar, belajar, dan berkarya. Aamiin.