Hijab, Jilbobs, dan Crosshijaber

Foto: @princessyahrini/Instagram

Hijab, Jilbobs, dan Crosshijaber

Fenomena hijab atau jilbab tidak pernah habis dibicarakan, terlebih ketika muncul fenomena seperti jilbobs maupun crosshijaber.

Euforia berhijab di masyarakat kita saat ini menjadi mulai berlebihan dan keluar dari substansi dalam berhijab. Model-model berhijab yang muncul di media sosial pun menjadi tren yang banyak digunakan oleh para perempuan untuk mengekspresikan dirinya.

Ekspresi yang seperti ini, akan selalu lahir dengan berbagai tren yang terbaru dan hal ini akan menjadi identitas tersendiri bagi perempuan. Secara esensial, memang memakai hijab memiliki tujuan yang mulia, yakni menutup aurat. Nah, pertanyaan kecil tentang penggunaan hijab ini selalu menjadi paradoks bagi masyarakat kita saat ini.

Namun juga, semakin kesini fenomena ini menjadi sangat tidak lazim bagi perempuan yang menggunakan hijab dengan model yang tidak dianjurkan oleh agama. Fenomena jilbobs, Crosshijaber ini misalnya, banyak juga menjadi pertentangan dibanyak pihak. Mungkin saja, ini beberapa fenomena ini paradoks yang terlihat kepermukaan publik masyarakat kita saat ini.

Read More

Kemunculan jilbobs dan crosshijaber ini menjadi tren dan fenomena yang tidak mencerminkan cara menutup aurat yang tidak sesuai dengan islam. Meskipun begitu, gaya atau tren seperti ini banyak untuk sekedar pamer, dan dengan maksud kepentingan pribadi justru hal demikian sungguh tidak baik untuk diperlihatkan. Namun, masih saja banyak yang masih saja menggunakan hijab sebagai pakaian untuk menutupi aurat saja.

Pada dasarnya, penggunaan jilbab yang seharusnya menceritakan pemakaianya sebagai seorang perempuan yang beradab, kini justru hanya memperlihatkan “kecantikan” fisik semata, yang tak pernah pada kedalaman jiwa. Keputusan beberapa artis untuk berhijrah pun menjadi sebuah fenomena yang unik dalam melakukan konversi terhadap pemahaman beragama.

Konstruksi jilbab sebagai simbol dalam melakukan pembangunan identitas imaji terbentuk melalui kesamaan tren yang digunakan. Jilbab sebagai sebuah simbol idealitas sebagai yag suci yang berharga, sehingga bagi masyarakat sekitar mereka akan tampak lebih terhormat. Jilbab banyak diartikan sebagai salah satu tolak ukuran dalam keberislam seorang perempuan.

Beberapa orang terbiasa menilai jilbab atau kerudung sebagai simbol kesalehan perempuan muslimah. Tentu saja hanya sekedar simbol semata, karena semestinya parameter kesalehan tidaklah ditentukan dari sehelai-dua helai kain diatas kepala. Penilaian seperti ini merupakan subjektif adanya, hanya dengan memakai jilbab saja seorang diklaim baik.

Di tengah tumbuh kembang masyarakat Eropa, memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan seluruh aspek kehidupan masyarakat. Salah satunya, yaitu Shelina Janmohamed (2017) seorang perempuan muslimah yang hidup ditengah persaingan global masyarakat Eropa. Sebagai perempuan muslimah keturunan ia mencoba untuk melakukan refleksi terhadap kehidupan dan gaya hidup yang dipilih sebagai seorang muslim yang taat beragama sejalan dengan perkembangan modernitas yang terjadi di Eropa.

Produksi Jilbab yang awalnya digunakan untuk melakukan counter stereotype terhadap pemahaman islam yang radikal di eropa. Jilbab dijadikan komoditas yang sekarang semakin banyak di gandrungi oleh kaum muda, milenial muslim bahkan sampai kelas menengah. Jilbab yang memiliki simbol kesucian menjadi suatu simbol untuk menggambarkan fashion tren yang ada.

Terkadang momentum euforia dalam menggunakan berbagai model jilbab ini dimanfaatkan oleh beberapa kelompok yang memiliki kepentingan komunal. Salah satunya dalam melakukan brainwashing terhadap para pengikut kelompok tersebut. Perempuan muslim yang dengan mudahnya terbawa arus narasi keislaman yang kaku dan banyak yang memanfaatkan menjadi bagian kelompok ekstrimis.

Nah, perempuan dan jilbab dengan mudah menjadi alat untuk menyebarkan paham-paham islam dengan kebenaran yang absolut dari kelompok-kelompok yang tidak bertanggungjawab. Hal ini masih banyak terjadi di Indonesia, makanya tak jarang perempuan dan jilbab, cadar, niqab dan sebagainya itu selalu di identikkan dengan stigma buruk.

Di kehidupan yang seperti sekarang ini, sudah seharusnya perempuan memiliki literasi terhadap pemahaman-pemahaman islam yang ramah dan toleran dengan kondisi di Indonesia. Lebih-lebih perempuan memiliki daya tawar terhadap pemahaman keislaman yang baik dan utuh yang berfungsi sebagai tameng terhadap paham radikalisme. Wallahu’alam bisshowab

Arief Azizy – Pegiat Islami Institute