Haruskah Mengucapkan Amin Saat Berdoa?

Haruskah Mengucapkan Amin Saat Berdoa?

Membaca Amin saat berdoa sering kita lakukan, lalu haruskah mengucapkan amin?

Haruskah Mengucapkan Amin Saat Berdoa?
bacaan doa setelah shalat tarawih (doa kamilin)

Ungkapan ‘amin’ adalah hal yang sudah tidak asing lagi bagi orang muslim (bahkan non muslim juga menggunakan ungkapan ini). ‘Amin’ telah menjadi rutinitas yang harus dilakukan pasca melakukan permohonan atau doa, bahkan di dalam shalat ‘amin’ juga diucapkan selepas membaca surat al-Fatihah (baik shalat secara berjamaah atau shalat secara munfarid). Lalu; seberapa pentingkah ungkapan ‘amin’ dalam doa?

Bacaan ‘amin’ disunnahkan bagi seseorang yang membaca surat al-Fatihah dan telah tiba di kata ‘dhallin’ (ayat ke-7) setelah berhenti sejenak untuk membedakan antara bagian surat al-Fatihah dan yang bukan bagian darinya. Hal ini disampaikan oleh Imam Ibnu Katsir di dalam Tafsir Al-Quran al-Adzim.

Mengapa perlu membaca ‘amin’? Karena sebagian besar ulama’ berpendapat bahwa makna ‘amin’ adalah “Ya Allah, kabulkanlah doa kami”. Di dalam surat al-Fatihah, terdapat sebuah doa agar diberi petunjuk oleh Allah pada jalan yang lurus. Oleh sebab itu, doa tersebut harus diamini dengan harapan Allah akan mengabulkan doa tersebut.

Alasan penting selanjutnya adalah ‘amin’ diucapkan untuk memperkuat sebuah doa dan menjadi penyebab Allah berkenan untuk menurunkan karunia-Nya. Hal ini disampaikan oleh Muqatil yang disebutkan oleh Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Qurthuby di dalam al-Jami’ li al-Ahkam Al-Quran.

Senada dengan yang disampaikan Muqatil, Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga mengatakan bahwa ‘amin’ merupakan ‘segel’ dari Sang Pemilik semesta dan merupakan ‘segel’ untuk doa-doa hamba-Nya. Ungkapan Sayyidini Ali ini tercantum di dalam kitab al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir Kitab al-Aziz karya Abu Muhammad Abdul Haq bin Ghalib bin Athiyyah (masyhur dengan sebutan Ibn Athiyyah).

Selain karena ‘amin’ adalah pengunci agar doa mendapatkan ACC, ‘amin’ juga merupakan satu di antara keistimewaan yang dimiliki oleh umat Nabi Muhammad, hingga membuat orang-orang Yahudi merasa iri hati. Hal ini dibuktikan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibn Majah dari Sayyidah Aisyah bahwa Nabi Muhammad bersabda:

عن عائشة عن النبي صلى الله عليه و سلم قال ما حسدتكم اليهود على شيئ ما حسدتكم على السلام والتامين

Artinya: Orang-orang Yahudi tidak punya rasa dengki terhadap kalian yang melebihi rasa dengki mereka terhadap ucapan salam dan amin (hadits ini diambil dari kitab Sunan Ibnu Majah, hadits nomor 856. Hadits ini dinyatakan sahih oleh Imam al-Busyairy dan Ibn Khuzaymah).

Urgensi terakhir tentang ungkapan ‘amin’ adalah sebuah kisah dari Abu Zuhair tentang keistimewaan ‘amin’ sebagai penutup doa. Berikut kisah lengkapnya.

قال ابو زهير اخبركم عن ذلك خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم ذات ليلة فاتينا على رجل قد الح في المسئلة فوقف النبي صلئ الله عليه و سلم يستمع منه فقال النبي صلى الله عليه و سلم اوجب ان ختم فقال رجل من من القوم باي شيئ يختم؟ قال بامين فانه ان ختم بامين فقد اوجب فانصرف الرجل الذي سال النبي صلى الله عليه و سلم فاتى الرجل فقال اختم يا فلان بامين وابشر

Artinya: Abu Zuhair bercerita, “Suatu malam, kami keluar bersama Nabi Muhammad. Lalu, kami melihat seseorang yang sedang bersungguh-sungguh dalam doanya. Nabi Muhammad kemudian menghentikan langkah dan berkata, ‘Doanya akan dikabulkan jika dia menutupnya’. Seseorang kemudian bertanya kepada Nabi Muhammad, ‘Dengan apa ia menutupnya?’. Nabi Muhammad menjawab, ‘Dengan amin; karena jika ia menutupnya dengan amin, maka doanya akan dikabulkan’. Orang yang bertanya tersebut segera pergi dan menemui orang yang bersungguh-sungguh dalam doanya tadi sembari berkata, ‘Wahai Fulan, tutuplah doamu dengan amin dan bergembiralah’ (hadits ini diambil dari Sunan Abu Dawud, hadits nomor 938. Hadits ini dinyatakan hasan oleh Imam Jalaluddin as-Sutuyhi).

Wallahu A’lam.