Hadis-Hadis Nabi Tentang  Penyakit Kusta

Hadis-Hadis Nabi Tentang Penyakit Kusta

Tanggal 28 Januari kemarin diperingati sebagai hari kusta Internasional atau World Leprosy Day.  Peringatan ini diberlakukan guna mengingat keberadaan para penderita kusta dan perlunya perhatian penduduk dunia terhadap penyakit kusta dan adanya para penderita kusta. Langkah ini diharapkan akan memberi wawasan masyarakat luas terhadap penyakit kusta dan menekan angka penderita kusta yang cukup tinggi, termasuk di Indonesia.

Penyakit kusta atau lepra disebut juga dengan penyakit Hansen muncul disebabkan bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini menyerang kulit, sistem saraf, selaput lendir pada saluran pernapasan atas, serta mata. Gejala kusta antara lain mati rasa, muncul lesi pucat dan menebal pada kulit, serta muncul luka tapi tidak terasa sakit.

Penyakit kusta atau dalam bahasa arabnya dikenal dengan البَرَصِ atau الجُذَامِ, juga disinggung dalam beberapa hadis nabi. Berikut ini, penulis akan menyebutkan dua hadis yang menyinggung tentang kusta, serta menguraikan kandungannya. Hadis ini penulis kutip dari kitab Riyadus Shalihin karya Imam an-Nawawi:

Read More

 

  • Doa agar terhindar dari kusta

عن أنس – رضي الله عنه – : أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يقول : (( اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ ، والجُنُونِ ، والجُذَامِ ، وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ )) . رواه أَبُو داود بإسناد صحيحٍ .

Diriwayatkan dari Sahabat Anas -radliyallahu anhu- bahwa Nabi Muhammad salallahualaihi wasallam berdoa: “Ya Allah, aku berlindung padamu dari kusta, gila, dan penyakit-penyakit buruk”. Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad sahih.

Hadis ini memberitahukan kepada kita bahwa Nabi Muhammad juga pernah mengajarkan doa agar terhindar dari penyakit kusta. Hal ini juga menunjukkan bahwa penyakit kusta juga sudah dikenal di zaman Nabi Muhammad. Nabi Mengajarkan agar umatnya menghindarkan diri penyakit kusta, salah satunya dengan berdoa agar terhindar dari penyakit kusta.

 

  • Cerita tentang mantan penderita kusta

عن أبي هريرةَ – رضي الله عنه – : أنَّه سَمِعَ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – ، يقُولُ : (( إنَّ ثَلاثَةً مِنْ بَني إِسْرَائِيلَ : أبْرَصَ ، وَأَقْرَعَ ، وَأَعْمَى ، أَرَادَ اللهُ أنْ يَبْتَليَهُمْ فَبَعَثَ إِليْهمْ مَلَكاً ، فَأَتَى الأَبْرَصَ ، فَقَالَ : أَيُّ شَيءٍ أَحَبُّ إلَيْكَ ؟ قَالَ : لَوْنٌ حَسنٌ ، وَجِلدٌ حَسَنٌ ، وَيَذْهبُ عَنِّي الَّذِي قَدْ قَذِرَنِي النَّاسُ ؛ فَمَسَحَهُ فَذَهَبَ عَنْهُ قَذَرُهُ وَأُعْطِيَ لَوناً حَسنَاً . فَقَالَ : فَأيُّ المَالِ أَحَبُّ إِليكَ ؟ قَالَ : الإِبلُ  فَأُعطِيَ نَاقَةً عُشَرَاءَ ، فَقَالَ : بَاركَ الله لَكَ فِيهَا . فَأَتَى الأَقْرَعَ، فَقَالَ: أَيُّ شَيءٍ أَحَبُّ إلَيْكَ؟ قَالَ: شَعْرٌ حَسَنٌ، وَيَذْهَبُ عَنِّي هَذَا الَّذِي قَذِرَني النَّاسُ ؛ فَمَسَحَهُ فَذَهبَ عَنْهُ وأُعْطِيَ شَعراً حَسَناً . قالَ : فَأَيُّ المَالِ أَحَبُّ إِليْكَ ؟ قَالَ : البَقَرُ ، فَأُعْطِيَ بَقَرَةً حَامِلاً ، وَقالَ : بَارَكَ الله لَكَ فِيهَا . فَأَتَى الأَعْمَى ، فَقَالَ : أَيُّ شَيءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ ؟ قَالَ : أَنْ يَرُدَّ الله إِلَيَّ بَصَرِي فَأُبْصِرُ النَّاسَ؛ فَمَسَحَهُ فَرَدَّ اللهُ إِلَيْهِ بَصَرهُ. قَالَ: فَأَيُّ المَالِ أَحَبُّ إِليْكَ ؟ قَالَ : الغَنَمُ ، فَأُعْطِيَ شَاةً والداً ، فَأَنْتَجَ هذَانِ وَوَلَّدَ هَذَا ، فَكانَ لِهذَا وَادٍ مِنَ الإِبلِ ، وَلِهذَا وَادٍ مِنَ البَقَرِ ، وَلِهَذَا وَادٍ مِنَ الغَنَمِ .

Diriwayatkan dari Abi Hurairah – semoga Allah menridhainya- bahwa beliau mendengar Nabi Muhammad salallahualaihi wasallam bersabda: “Suatu kali Allah berkehendak menguji tiga orang dari kaum Bani Israil, yaitu seorang penderita kusta, seorang botak (sebab rontok rambutnya  dikarenakan penyakit) dan seorang buta. Lalu Allah mengirim malaikat pada mereka. Sang malaikat lalu menemui si penderita kusta lalu bertanya:

‘Apa sesuatu yang paling kamu inginkan?’

‘Warna kulit yang bagus, bentuk kulit yang baik dan hilangnya apa yang membuat orang-orang jijik padaku’. Sang malaikat lalu mengusapnya dan hilanglah apa yang membuat orang-orang jijik padanya, serta ia dianugrahi warna kulit yang bagus.

‘Harta apa yang paling kau inginkan?’ tanya sang malaikat.

‘unta’ jawab si penderita kusta. Ia pun dianugrahi seekor unta yang bunting.

‘Semoga Allah memberkahi untamu’ harap sang malaikat.

Sang malaikat lalu menemui si botak lalu bertanya:

‘Apa sesuatu yang paling kamu inginkan?’

‘rambut yang bagus dan hilangnya apa yang membuat orang-orang jijik padaku’. Sang malaikat lalu mengusapnya dan hilanglah apa yang membuat orang-orang jijik padanya, serta ia dianugrahi rambut yang bagus.

‘Harta apa yang paling kau inginkan?’ tanya sang malaikat.

‘sapi’ jawab si botak. Ia pun dianugrahi seekor sapi yang hamil.

‘Semoga Allah memberkahi sapimu’ harap sang malikat.

 

Sang malaikat lalu menemui si buta lalu bertanya:

‘Apa sesuatu yang paling kamu inginkan?’

‘Allah mengembalikan penglihatanku sehingga aku bisa melihat orang-orang’. Sang malaikat lalu mengusapnya dan Allah mengembalikan penglihatannya.

‘Harta apa yang paling kau inginkan?’ tanya sang malaikat.

‘kambing’ jawab si buta. Ia pun dianugrahi seekor kambing yang hamil.

‘Semoga Allah memberkahi kambingmu’ harap sang malikat.

Peliharaan ketiga orang itu pun berkembang biak sehingga masing-masing berjumlah dengan jumlah yang amat banyak.

ثُمَّ إنَّهُ أَتَى الأَبْرَصَ في صُورَتِهِ وَهَيئَتِهِ ، فَقَالَ : رَجلٌ مِسْكينٌ قَدِ انقَطَعَتْ بِيَ الحِبَالُ في سَفَري فَلا بَلاغَ لِيَ اليَومَ إلاَّ باللهِ ثُمَّ بِكَ ، أَسْأَلُكَ بِالَّذي أعْطَاكَ اللَّونَ الحَسَنَ ، والجِلْدَ الحَسَنَ ، وَالمَالَ ، بَعِيراً أَتَبَلَّغُ بِهِ في سَفَري ، فَقَالَ : الحُقُوقُ كثِيرةٌ . فَقَالَ : كأنِّي اعْرِفُكَ ، أَلَمْ تَكُنْ أَبْرَصَ يَقْذَرُكَ النَّاسُ فقيراً فأعْطَاكَ اللهُ !؟ فَقَالَ : إِنَّمَا وَرِثْتُ هَذَا المالَ كَابِراً عَنْ كَابِرٍ ، فَقَالَ : إنْ كُنْتَ كَاذِباً فَصَيَّرَكَ الله إِلَى مَا كُنْتَ . وَأَتَى الأَقْرَعَ في صُورَتِهِ وَهَيْئَتِهِ ، فَقَالَ لَهُ مِثْلَ مَا قَالَ لِهَذا ، وَرَدَّ عَلَيهِ مِثْلَ مَا رَدَّ هَذَا ، فَقَالَ : إنْ كُنْتَ كَاذِباً فَصَيَّرَكَ اللهُ إِلَى مَا كُنْتَ .وَأَتَى الأَعْمَى في صُورَتِهِ وَهَيْئَتِهِ ، فَقَالَ : رَجُلٌ مِسْكينٌ وابنُ سَبيلٍ انْقَطَعتْ بِيَ الحِبَالُ في سَفَرِي ، فَلا بَلاَغَ لِيَ اليَومَ إلاَّ بِاللهِ ثُمَّ بِكَ ، أَسأَلُكَ بالَّذِي رَدَّ عَلَيْكَ بَصَركَ شَاةً أَتَبَلَّغُ بِهَا في سَفري ؟ فَقَالَ : قَدْ كُنْتُ أعمَى فَرَدَّ اللهُ إِلَيَّ بَصَرِي فَخُذْ مَا شِئْتَ وَدَعْ مَا شِئْتَ فَوَاللهِ ما أجْهَدُكَ اليَومَ بِشَيءٍ أخَذْتَهُ للهِ – عز وجل -. فَقَالَ : أمْسِكْ مالَكَ فِإنَّمَا ابْتُلِيتُمْ . فَقَدْ رضي الله عنك ، وَسَخِطَ عَلَى صَاحِبَيكَ )) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .

Di kemudian hari, sang malaikat lalu menemui si penderita kusta sembari menyamar dengan rupa dan tingkah yang dahulu dialami si penderita kusta. Sang malaikat berkata:

‘Aku lelaki miskin yang kehabisan bekal dalam perjalanan. Aku tidak akan sampai tujuan tanpa pertolongan Allah  dan darimu. Aku meminta demi dzat yang memberikanmu warna kulit, bentuk kulit yang bagus serta harta, agar kau berkenan memberiku seekor unta yang dapat ku kendarai dalam perjalananku’

‘Aku punya banyak urusan’ jawab si penderita kusta.

‘Aku sepertinya mengenalmu’ ucap sang malaikat. ‘Bukankah kau adalah si penderita kusta yang dahulu orang-orang jijik padamu, dan juga orang miskin yang kemudian diberi anugrah oleh Allah?!’

‘Harta ini aku terima sebagai warisan dari keluargaku’ jawab si penderita kusta. Sang malaikat lalu berkata:

‘Kalau kamu berdusta, semoga Allah menjadikanmu seperti dahulu kembali’.

Sang malaikat lalu mendatangi si botak sembari menyamar dengan rupa dan tingkah yang dahulu dialami si botak. Ia mengatakan hal yang sama yang ia katakan pada si penderita kusta dan ia memperoleh jawaban yang sama pula. Sang malaikat lalu berkata:

‘Kalau kamu berdusta, semoga Allah menjadikanmu seperti dahulu kembali’.

Sang malaikat lalu menemui si buta sembari menyamar dengan rupa dan tingkah yang dahulu dialami si penderita buta. Sang malaikat berkata:

‘Aku lelaki miskin dan pemngembara yang kehabisan bekal dalam perjalanan. Aku tidak akan sampai tujuan tanpa pertolongan Allah  dan darimu. Aku meminta demi dzat yang mengembalikan penglihatanmu, agar kau berkenan memberiku seekor kambing yang dapat ku kendarai dalam perjalananku’

‘Dahulu, aku adalah orang yang buta. Lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah kambing sesukamu. Hari ini, Aku tidak akan merasa berkeberatan dengan apa yang kau ambil karena Allah’ jawab si buta. Sang malaikat lalu berkata

‘Simpan hartamu. Kalian hanya menerima ujian. Allah ridha padamu dan tidak menyukai dua temanmu. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

 

Pelajaran yang dapat kita ambil dari hadis kedua di atas mengenai penderita kusta, bila Allah berkehendak maka ia bisa saja menyembuhkan penderita kusta dari penyakit yang dideritanya. Tidak harus melalui pengobatan, tapi bisa juga jalan lain yang kadang tidak terpikirkan oleh orang banyak.

Selain itu, bagi penderita kusta atau penyakit lain yang sudah sembuh, janganlah lupa bersyukur atas apa yang Allah anugrahkan. Masa lalu yang menyedihkan jadikanlah pengingat agar selalu rendah diri kepada Allah, dan tidak sombong dengan orang lain yang mengalami penderitaan serupa. Sehingga dapat mendorong diri untuk gemar membantu dan berbagi dengan orang yang membutuhkan.