Gugurnya Razan Al Najjar dan Aksi Via Vallen: Doa Kami untuk Perjuangan Perempuan

Ia gugur dalam peperangan brutal, tentara Israel menembaki warga Palestina, bahkan seorang perawat seperti sosok ini. Padahal, tentu saja, hal itu menyerang petugas medis dalam sebuah peperangan tidak diperbolehkan.

Gugurnya Razan Al Najjar dan Aksi Via Vallen: Doa Kami untuk Perjuangan Perempuan

Razan Al Najjar dan Via Vallen memberi contoh makna sebuah perlawanan dari perempuan

Ada dua perempuan yang viral dalam seminggu pertengahan bulan Ramadhan ini, yaitu Via Vallen dan Razan Al Najjar. Razan Al-Najjar yang meninggal setelah ditembak oleh tentara Israel di perbatasan Gaza-Israel saat mau melakukan penyelematan korban luka-luka dan meninggal di sana. Sedangkan Via Vallen mengalami pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh pesepakbola terkenal di negri ini.

Dua perempuan itu memang mengalami dua kejadian yang berbeda, namun dari dua kejadian itulah kita bisa melihat perempuan masih diperlakukan dengan mulia, seperti bagaimana perjuangan seorang perempuan bahkan sampai di medan perang untuk melakukan aksi kemanusiaan dan harus tewas di tangan tentara, padahal dia ada perempuan dan paramedis yang seharusnya dilindungi. Juga masih adanya perlakukan tak pantas yang harus diterima oleh perempuan seperti yang dialami Via Vallen.

Islam disebut sebagai agama yang ramah pada perempuan. Perjuangan atas harkat dan martabat perempuan dibela dan dimuliakan sudah menjadi darah perjuangan dalam Islam. Islam menempatkan perempuan dalam posisi yang setara dengan laki-laki. Bahkan dalam terminologi orang beriman, perbedaan gender tidak lagi diperlukan di hadapan Tuhan sebab yang dipandang hanyalah kadar ketaqwaan dan keimanannya. Jadi Via Vallen dan Razan al-Najjar adalah perempuan yang seharusnya dimuliakan dan dilindungi. Bukan malah dibunuh dan diperlakukan tidak sopan yang dialami oleh keduanya.

Read More

Namun jika membaca pemberitaan perilaku media atas kedua perempuan tersebut terlihat sangat jomplang. Tak banyak media yang meliput atau mengekspose berita perilaku tak pantas yang diterima Via Vallen, sedangkan Razan al-Najjar malah mendapatkan pemberitaan yang cukup luas. Bahkan di media sosial, Razan menjadi viral dalam beberapa hari. Via Vallen yang memberanikan diri untuk mengekspose perlakuan yang diterimanya itu malah ada sebagian orang mencemoohnya dengan mengatakan Via Vallen dianggap mencari panggung untuk menaikkan popularitasnya sendiri.

Memperbandingkan antara Via Vallen dan Razan al-Najjar mungkin tidak bisa dilihat dalam posisi yang sama. Namun, perlakuan media yang tidak terlalu  mengekspose kasus Via Vallen adalah hal yang salah. Sebab, kasus ini bisa menjadi jalan masuk bagi kita untuk melawan perlakukan yang tidak pantas yang sering diterima oleh perempuan.

Gerakan feminisme di Indonesia sekarang malah gencar sekali untuk mendorong keberanian perempuan, untuk melawan perilaku yang tidak pantasyang diterimanya sehari-hari, seperti catcalling (perilaku menyapa perempuan dengan sebutan-sebutan yang tak pantas), kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pernikahan usia dini, dan lain-lain.

Usaha yang dilakukan oleh kawan-kawan dari gerakan feminisme seharusnya mendapat dukungan dari kita semua, termasuk media massa dan suara-suara dari media sosial. Sebab dengan dukungan dan perjuangan dari kita semua, cita-cita perempuan untuk merasakan keamanan dan kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari akan segera terwujud.

Media massa dalam berbagai bentuk seharusnya gencar mengkampanyekan cita-cita perempuan itu. Sebab dalam mensosialisasikan cita-cita itu agar diterima oleh masyarakat diperlukan media yang memiliki keberanian yang terus berkobar. Sebab menjadi bagian gerakan feminis bagi Naomi Wolf, seorang feminis dan penulis asal Amerika, harus diartikan ‘menjadi manusia’ karena baginya feminis adalah sebuah konsep ‘yang mengisahkan harga diri pribadi dan harga diri seluruh kaum perempuan’.

Jadi memperjuangkan kaum perempuan bagi media seharusnya menjadi barang yang wajib. Namun dalam kenyataannya, kembali menurut Naomi Wolf, media masih terkesan memperlakukan perempuan sebagai anak-anak yang bahkan tak perlu diajak bicara. Media dianggap oleh Naomi masih ada usaha untuk memperlambat kemajuan perempuan, makanya melestarikan dan memupuk ketimpangan gender dalam media massa; dalam proses pemilihan, pemaknaan dan penyajian informasi; adalah cara yang ampuh.

Namun perlu menjadi catatan kita semua, adalah diskriminasi atas kelompok rentan biasanya sangat buram dan sering tidak disadari. Sebab perilaku penindasan sudah dianggap wajar atau tersistemisasi dalam alam bawah sadar kita. Makanya seorang pemikir muslim bernama Nawal el-Saadawi menjelaskan agama Islam dalam bimbingan Rasulullah, mulai memberikan hak-hak kepada perempuan yang selama ini direnggut dalam budaya yang sangat patriarkal. Inilah tanda bahwa Islam harus berada di garda terdepan dalam memperjuangkan hak-hak keseteraan pada perempuan.

Nawal juga menggarisbawahi bahwa perempuan tidak akan terlepas dari belenggu patriarki, tanpa mereka sendiri mencoba menyingkap tabir pikiran mereka, seperti kesadaran palsu, kesan minor, stereotype buruk yang melekat pada mereka dan lain-lain. Untuk membangun kesadaran bahwa tidak ada perbedaan antara perempuan dan lelaki. Oleh sebab itu, kita harus memberikan hormat dan pujian pada Via Vallen yang sudah memberikan contoh dari keberaniannya untuk melawan perlakuan tak sopan dan juga kepada Razan al-Najjar yang sudah berjuang untuk kemanusiaan di lini depan tanpa ada rasa takut dan canggung karena dia perempuan.

Oleh sebab itu, sebagai rasa pembelaan kepada posisi perempuan yang masih mendapat perlakuan yang tidak hormat, siapapun harus bergerak bersama dalam membela perempuan dan tidak lagi memperlakukan perempuan sebagai makhluk golongan kedua. Saya akan menutup dengan kata-kata agung dari Nyai Ontosoroh di novel Bumi Manusia “Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup hanya berkalang lelaki, tapi bukan berarti aku tak butuh lelaki untuk aku cintai”

#DoakamiuntukmuRazan

#kamibersamaVia

 

Fatahallahu alaihi futuh al-arifin