Gerakan Subuh Akbar untuk Pilpres adalah Usaha Membajak Islam

Ilustrasi salah satu masjid di Bandung (Hexa R/ISLAMIDOTCO)

Gerakan Subuh Akbar untuk Pilpres adalah Usaha Membajak Islam

Gerakan sholat subuh yang harusnya bagus justru jadi politis sekali

Salah satu kebiasaan manusia millenial adalah membuka media sosial sebelum tidur. Hal yang sama tentu saya lakukan. Ada hal yang menarik saya temui di malam pemungutan suara kali ini. Hastag #GerakanSubuhAkbarIndonesia merajai tranding di Twitter. Belum lagi tagar-tagar serupa. Apalagi, kampanye ini sudah lama dilakukan dan Anda bisa dengan gampang mengeceknya dengan menjentikkan jari di internet.

Saya kira ini gerakan bangun subuh-subuh untuk mereka yang begadang karena menonton liga Champions Eropa, namun ini ternyata gerakan salat subuh berjamaah untuk mengawal pasangan calon kosong dua. Alamak!

Kita layak menyayangkan ajakan salat subuh ini. Ibadah sejatinya hanya ditujukan kepada Allah dengan niat tulus dan murni bentuk penghambaan dan ibadah kita kepada Allah, bukan untuk mendukung apalagi memenangkan calon presiden.

Read More

Allah pun memerintahkan kita mengatakan sesungguhnya salat, ibadah hidup dan mati hanyalah milikNya. Coba deh cek surah Al an’am ayat 162; Qul inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil alamin ( Katakanlah: sesungguhnya salatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam).

Ayat secara gamblang meminta kita semua untuk beribadah murni kita lakukan secara ikhlas dan murni hanyalah semata-mata untuk Allah. Maka gerakan salat subuh berjamaah yang dikampanyekan #GerakanSubuhAkbarIndonesia berbeda dengan perintah Allah, karena mengarahkan untuk mendukung salah satu calon presiden. Tujuannya bukan ibadah semata, namun tercyduk political taste (rasa politik).

Kita tentu harus waspada, jangan sampai kecintaan kita kepada Allah dan agama Islam, membuat kita mudah digerakkan oleh sekelompok orang yang membajak Islam untuk kepentingan kelompoknya.

Penutup, jika ada yang mengajak berdzikir, doa bersama bahkan salat berjamaah berlokasi di lapangan bukan lagi masjid atau mushala dekat rumah kita sebagai tempat ibadahnya, sudah selayaknyalah kita waspada.

Bisa jadi kita digiring untuk mendukung strategi politisasi agama dari pembajak Islam, yakni membungkus nafsu kekuasaan dengan bingkai Islam. Nauzubillah min dzalik.