Gara-gara Jubah As Syibli Menjadi Gelandangan

Gara-gara Jubah As Syibli Menjadi Gelandangan

Abu Bakar aS Syibli dikenal sebagai seorang sufi yang terkenal cerdas. Hingga akhirnya dirinya diangkat menjadi bendahara kerajaan. Kariernya tidak hanya berhnti di situ hingga diangkat gubernur dan dianugerahi jubah kehormatan oleh sang khalifah.

Dikisahkan setelah pelantikannya masih jubah kebesarannya, As Syibli bersin. Ia kemudian mengusap dan membersihkannya dengan jubah kehormatan itu. Kejadian itu ternyata dilihat oleh prajurit kerajaan dan kemudian melaporkan kepada Khalifah. Mendengar hal itu Khalifahpun murka dan memanggil as Syibli.

“Apakah benar yang dikatakan oleh prajurit , setelah bersin engkau membersihkannya dengan jubah
yang aku beri?” tanya Khalifah.

Read More

“Benar Baginda,” jawab Abu Bakar dengan tegas.

Sejenak kemudian As Syibli melanjutkan perkataannya,“ Wahai baginda jubah yang engkau berikan itu kotor, maka dari itu aku gunakan untuk membersihan bersin.”

Sontak Khalifah menjadi murka dan kemudian memecatnya sebagai gubernur.

Kemudian Asy Syibli mengembara dan berguru kepada beberapa sufi. Diantaranya kepada Junaidi Al Bagdadi. Suatu kali as Syibli ingin mutiara milik Junaid. “Tidak mungkin engkau dapat membelinya dengan uang yang kau punya. Engkau tahu betapa bernilainya mutiara ini. Jika engkau mau engkau jadilah gelandangan selama dua tahun setelah itu menghadaplah kepadaku”.

As Yiblipun menyanggupinya dan menjadi gelandangan. Setelah genap dua tahun, as Syibli kembali menemui Imam Al Junaidi. Namun menurut Junaid apa yang dilakukan As Syibli dirasa masih kurang. Ada secuil kesombongan dalam dirinya yaitu berbangga menjadi gelandangan. Kemudian ia kembali menjadi gelandangan hingga tidak secuil kesombongan dalam dirinya. Setelah dinyatakan lulus al Junaid memberikan pedang terbaik dan tajam bukan mutiara.

Suatu ketika sampailah as Syibli di suatu daerah. Ada yang aneh dalam kejadian ini. As Syibli mengatakan bahwa siapa saja yang berucap Allah maka akan dipenggal lehernya dengan senjata tajam tersebut. Masyarakat kemudian menjadi resah dan mengadukannya kepada khalifah. Asy Syiblipun kemudian ditangkap dan ditanya khalifah.

“Bagaimana bisa orang yang mengucapkan lafadz Allah engkau akan penggal lehernya? Engkau harus memberikan penjelasan,” tanya Khalifah

“Bagaimana mereka tidak berfikir dan tidak beradab terhadap Dzat yang Maha Agung dan Maha Suci itu. Allah yang merajai segalanya dan Maha Mulia disebut dari mulut yang sangat kotor dan hina. Apakah pantas orang yang melecehkan Allah Subhanahu wa ta’ala seperti itu maka layak dipenggal lehernya?”jawab as Syibli. Mendengar jawaban itu khalifah membebaskan Abu Bakar As Syibli karena dirasa benar.