Fasisme dan Persekutuan Suci Melawan Takdir

Fasisme dan Persekutuan Suci Melawan Takdir

Fasisme telah merembet ke persoalan agama dan menjadikan kita tidak sadar terpengaruh

Awal bulan Januari kemarin, saya menghadiri seminar desiminasi hasil penelitian yang berfokus pada radikalisme pada siswa sekolah menengah. Seminar tersebut dibuka oleh Rektor dari Universitas yang menyelenggarakan seminar tersebut. Dalam sambutan tersebut sang Rektor mengutarakan bahwa kekurangan dalam penelitian sosial kita adalah analisis kelas. Dengan kehilangan analisis kelas dalam penelitian kita maka akan menumpulkan sudut pandang kita. Dengan belajar analisis kelas, kita sudah seharusnya sadar bahwa ada penindasan atas manusia yang lain, yang mungkin saja dilakukan oleh kita sendiri.

Persekutuan suci melawan takdir adalah hasil pemikiran Louis Althusser, filsuf marxis asal Perancis, yang memberikan analisis yang menarik, yaitu agama yang selama ini dijadikan alat penindasan pada orang lain, malah menjadi alat pemersatu untuk melawan penindasan. Sebelum menjelaskan pemikiran Louis Althusser, kita akan menjelajah dulu ke tahun 60an di akhir perang dunia kedua. Di masa itu adalah akhir kedigdayaan totaliterianisme di dunia, tidak ada lagi kediktatoran bisa bertahan lama pasca perang dunia kedua kecuali beradaptasi dengan industrialisasi dan berubah menjadi neofasisme.

Pier Passolini, sutradara sekaligus filsuf asal Italia, menyebut masa pasca perang dunia kedua ini sebagai era “kompromisme”, yang berawal dari mengkompromikan antara kekuasaan dengan kekuatan konsumerisme dan kemudian berubah menjadi sistem yang tidak dapat ditolak lagi yaitu “hedonis”. Inilah yang menyebar ke seluruh sistem di dunia ini tak terkecuali agama dan ajaran moral lainnya.

Read More

Kekuatan kapitalis menjadi sangat kuat bahkan bisa mengubah bentuk fasisme klasik kepada kediktatoran baru, di mana proletariat bisa hidup berdampingan dengan para borjuis. Ini yang disebut oleh Asif Bayat sebagai “The New Poor”. Kehidupan antara proletar dan borjuis saling berbagi kehidupan, tidak lagi sama yang dipahami oleh Karl Marx dan Fredrich Engels pada saat merumuskan teori “pertentangan kelas”. Sehingga analisis kelas yang selama diperpegangi harus dikritik terus menerus.

Kediktatoran Fasisme dulu mengandalkan kekuatan militer sekarang berubah mengandalkan kekuatan campuran berbagai hal dalam menguasai dan sekarang berubah nama menjadi “Neofasisme”. Passolini menerjemahkan ini sebagai sebuah sistem yang terhubung antara kekuatan refresif, kapitalisme, ajaran moral, ajaran agama, budaya borjuis, dan hegemoni patriakhi.

Fasisme sebagaimana kita pahami adalah kekuatan yang melakukan apa saja termasuk menghancur, merusak dan refresif. Namun kita tidak boleh lupa, bahwa fasisme juga menyerap terhadap kecenderungan hidup fatalistik yang dekat dengan hasrat untuk bertindak refresif, konsumsi dan merusak. Inilah Althusser sebagai seorang yang berpahaman marxis, mencoba merumuskan pertentangan kelas dengan kehidupan para proletar yang sekarang berselimutkan ketakutan akan takdir kehidupan mereka, terutama di hadapan agama.

Kehidupan proletar selalu didefinisikan dari berbagai sudut, misalnya ekonomi, sosiologi dan bahkan sejarah. Namun sekarang kita perlu melihatnya dari sudut keadaan psikologis, yang disebut oleh Althusser ada dua keadaan yaitu terintimidasi dan ketakutan. Asif Bayat, pemikir asal Iran, pernah menuliskan kehidupan proletar dalam tekanan sosial begitu tinggi, oleh sebab itu mereka mengandalkan agama sebagai jalan keluar paling mudah dan paling bisa diandalkan. Althusser melihat ketakutan dan terintimidasi ini menjadi pemersatu antar sesama manusia.

Althusser menganggap bahwa segala himpitan yang dialami oleh para ploretar, yang kemudian menghasilkan ketakutan untuk melawan, bukanlah sesuatu yang alamiah dalam diri manusia, begitupula keberanian. Perlawanan akan muncul dari perasaan setara, inilah sifat asli kemanusiaan bernama emansipasi. Dalam agama Islam kita mengenal bahwa manusia tidak ada perbedaan, semuanya sama, kecuali yang dinilai sangat ketaqwaannya. Perasaan inilah seharusnya bisa menggiring perlawanan terhadap keadaan yang menghimpit kita selama ini.

Teriakan “makan apa kita hari ini”, “bagaimana nasib kita hari ini” atau “bisakah saya mendapatkan rezeki hari ini”, sudah tidak lagi perlu dilafazkan. Kehidupan manusia menurut Althusser selalu memiliki masalahnya yang berbeda setiap harinya. Sebab itu menurutnya selama manusia merasa setara dihadapan Tuhan, maka selama itulah manusia harus berjuang bersama mewujudkan kesetaraan itu di dunia sebelum kesetaraan di hadapan Tuhan (baca:surga).

Ada aroma perlawanan ala Marxis dalam pemikiran Althusser ini, oleh sebab itulah pemikirannya ini diberi nama “persekutuan suci melawan takdir”. Selama manusia memahami bahwa ketertindasan dan diskriminasi bukanlah nasib manusia yang sesungguhnya, jadi harus dilawan untuk mewujudkan kesataraan dan dengan kesataraan akan muncul kebahagiaan. Inilah ajaran suci dari semua Agama.

Jadi, kalau ada yang masih mengaku muslim namun melakukan penindasan dan diskriminasi, maka ia sudah melawan kodrat kemanusiaan akan kesataraan. Pengkotakan dan pengkelasan yang masih mengakar kuat harus dilawan, sebab Islam tidak mengajarkan semua itu walau mereka yang tidak seagama.

Islam adalah agama pembebasan tanpa memandang sekat apapun, jadi sangatlah berdosa kita jika kita malah mempergunakan Islam untuk membuat perbedaan, pengekotakan dan pengkelasan.

 

 

 

Fatahallahu alaihi futuh al-Arifin